SPORTOURISM – Birunya warna air membuat mata seakan enggan melepaskan pandangan dari di telaga ini. Telaga rupawan yang berada di sekitar perkebunan teh ini pun menyimpan banyak hal unik. Sebagai salah satu tujuan destinasi wisata alam yang indah, telaga ini juga memiliki cerita sejarah dan legenda yang menarik untuk diikuti.

Di Rambut Monte terdapat telaga kecil dengan air berwarna biru jernih, bahkan keindahan alam di telaga ini terlihat seperti blue pond Kaminoko Ike di Hokkaido, Jepang. Jadi sahabat Sporto tak perlu ke Jepang jika ingin menikmati cantiknya blue pond, datang saja ke Desa Krisik, Gandusari, Blitar, Jawa TImur.

Telaga Rambut Monte ini menyuguhkan keindahan alam dengan dihiasi oleh barisan pepohonan hijau yang menjadikan pemandangan semakin asri. Suasana tenang, sunyi, dan nyaman serta romantis akan dirasakan oleh wisatawan yang datang. Ditambah udara yang sejuk mampu membuat para pengunjungnya betah berdiam diri di kolam kecil ini.

Kawasan Rambut Monte ini bukan hanya sekedar tempat wisata namun juga sebagai cagar budaya di Kota Blitar yang memiliki legenda. Di Rambut Monte juga terdapat sebuah candi bersejarah yang sering digunakan umat Hindu pada zaman kerajaan Majapahit untuk bersembahyang.

Di balik pesona telaga ini, ternyata ada sisi mistis yang menarik untuk diketahui. Candi dan telaga tersebut berkaitan dengan legenda mengenai Mbah Monte, orang sakti dari zaman Majapahit yang diyakini sebagai pemilik tempat ini. Di dalam telaga ini hidup puluhan ikan berwarna hitam yang konon adalah ikan dewa berumur ratusan tahun.

Menurut cerita, terjadilah sebuah perkelahian antara Rahwana dan Naga yang melawan Mbah Monte (keturunan Majapahit). Meskipun tidak berimbang yaitu 2 lawan 1, namun Mbah Monte mampu mengalahkan kedua musuhnya. Kemudian mbah Monte mengutuk Rahwana dan Naga tersebut menjadi wujud Candi dengan bentuk monyet dan relief Naga.

Setelah itu, Mbah Monte berpesan kepada muridnya untuk menjaga Candi tersebut, namun sebagian dari muridnya tidak mematuhi perintahnya, Mbah Monte pun marah besar dan mengutuk para muridnya menjadi Ikan Sangkring yang hingga kini masih berada di telaga tersebut dan dikenal dengan Ikan Dewa.

Ikan dewa ini jumlah tak pernah berkurang ataupun bertambah dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu Penduduk sekitar meneruskan amanat dari leluhurnya dan terus mempercayai bahwa ikan yang ada di dalam danau tidak boleh ditangkap apalagi disantap. Masyarakat sekitar pun meyakini hanya malapetaka yang akan datang jika ada yang nekat membuang sesuatu apalagi menangkap ikan di telaga ini.