Oleh : Pandu Radea (Pegiat Komunitas Tapak Karuhun) SPORTOURISM-- Ronggeng Amen merupakan kesenian khas Kabupaten Pangandaran. Dulu sebelum Pangandaran menjadi kabupaten, Ronggeng Amen dan Ronggeng Gunung merupakan kesenian yang kerap ditanggap dalam kenduri hajatan. Tidak saja oleh kalangan dewasa, namun  mampu memikat kalangan remaja dan anak-anak.  Alhasil, jika ada acara hajatan yang nanggap Ronggeng Amen maka pakalangan pun akan penuh dengan lingkaran penari yang berlapis-lapis tanpa batasan usia. Dalam sebulan grup Ronggeng Amen memiliki jadwal manggung lumayan padat. Kelompok yang sudah punya nama rata-rata 15 kali dalam sebulan. Kondisi tersebut tentu saja mampu meningkatkan pendapatan para seniman pendukungnya. Bagi yang sudah mahir dalam ibingan ronggeng, bergerak seirama, saketak satincak,  ternyata mendatangkan kenikmatan yang tiada tara. Tak ubahnya seperti pecandu mancing. Sehingga dimana pun ada pakalangan ronggeng, akan selalu didatangi, walau jauh sekali pun. Bisa dibilang animo masyarakat Ciamis selatan terhadap Ronggeng Amen kini sejajar dengan jenis kesenian modern seperti pongdut, elektone, maupun hiburan lainnya. Ditunjang dengan adanya  respons dari generasi muda, menjadikan kesenian ini makin mengakar dan merakyat di habitatnya. Hal tersebut bisa dianggap fenomena baru bagi sebuah seni tradisi yang mampu bermetamorfosis menghadapi perubahan jaman. Ronggeng  Amen sebagai kesenian terbentuk sebagai hasil simbiosis dari dua unsur seni ronggeng, yaitu Ronggeng Gunung dan Tayub. Hal tersebut dari ciri dan karakter keseniannya yang memperlihatkan unsur unsur dari Ronggeng Gunung dan Tayub. Sampai saat ini belum dipastikan siapa kreator yang mengembangkan Ronggeng Amen. Nama Ronggeng Amen sendriri merupakan nama baru yang di perkenalkan dipertengahan tahun 1990. Di beberapa daerah perbatasan Pangandaran Ciamis, Ronggeng Amen disebut pula Ronggeng Kaler. Sepertinya nama Ronggeng Kaler merupakan nama aslinya. Lantas kenapa Ronggeng Kaler kemudian berubah nama menjadi Ronggeng Amen, hal tersebut dijelaskan oleh dua tokoh seni Kabupaten Ciamis yang turut memperkenalkan Ronggeng Kaler ke tataran lebih luas yaitu Mamat Suryawijaya dan Nana Sumriana. Menurut keduanya, istilah Amen disematkan ketika ronggeng kaler ini magelaran di Ciamis tahun 2006. Saat itu pimpinan dinas terkait memberi nama Amen yang berasal dari kata kerja ngamen. Hal tersebut  dikonotasikan dengan eksistensinya yang selalu tampil main dari panggung ke panggung. Menuru Mamat  ngamen sama dengan show dalam bahasa Inggris. Sehingga akhirnya nama ini diterima dan ternyata membawa hoki,  lebih terkenal serta  menjadi  produk seni unggulan bagi Kabupaten Ciamis waktu itu. Sebagai seni campuran antara Ronggeng Gunung dan Seni Tayub, maka ciri khas Ronggeng Gunung dapat dikenali dari komposisi penarinya, yaitu masyarakat yang ikut menari, selalu mengelilingi ronggengnya dengan membentuk lingkaran. Semakin banyak yang ngibing, maka semakin banyak lapisan lingkaran. Sehingga pakalangan (area) tempat ngibing yang terletak di depan panggung biasanya dipilih area yang luas agar bisa menampung masyarakat yang ikut menari. Selain ciri adanya lingkaran, maka gerakan tari yang dibawakan oleh warga yang menari merupakan gerakan tari ronggeng gunung yang mengutamakan rampak kaki. Walaupun lingkaran penari sampai berlapis-lapis dan bergerak memutar melingkar, namun karena rampak kaki inilah yang membuat semua yang terlibat menari menjadi tertib dan teratur. Biasanya bagi yang baru mencoba ikut menari akan sedikit kesulitan untuk beradaftasi. namun pola langkah yang sederhana ini bisa dikuasai dalam 20 menit dengan tetap fokus untuk mengikuti gerakan penari di depannya yang memang sudah terbiasa. Sedangkan untuk gerakan tangan bebas bergerak. Selain adanya gerakan rampak kaki dan lingkaran penari beberapa lalaguan khas Ronggeng Gunung juga selalu dinyanyikan oleh sinden yang berada di atas panggung. Berbeda dalam ronggeng Gunung, seorang sinden atau sang ronggeng yang bernyanyi dan sesekali menari  di tengah lingkaran. Sedangkan dalam ronggeng Amen, yang berada di tengah lingkaran adalah penari wanita yang jumlahnya bisa mencapai 5-8 orang. Adanya penari wanita tersebut merupakan ciri dari tayub, yang juga ditandai dengan adanya tari badaya, tari berpasangan dan nyoderan. Sedangkan dari unsur karawitan, Ronggeng Amen kaya dengan warna gending wayang. [   ]