SPORTOURISM - Semua warisan budaya yang ada di Desa Batuan Kaler, memiliki nilai penting bagi sejarah dan ilmu pengetahuan, terutama sejarah Bali Kuna, serta perkembangan kebudayaan periode klasik di Bali. Tak hanya memiliki nilai sejarah, keberaan pura tersebut juga memiliki nilai ekonomis. Karena dapat dikembangkan dan meningkatkan pendapatan daerah, dalam pemanfaatan warisan budaya sebagai obyek pariwisata.

Pada beberapa desa pakraman di Bali kadang kala penempatan Pura Puseh digabung dengan Pura Desa sehingga tampak hanya merupakan satu pura tetapi sebetulnya tetap dua buah pura. Seperti halnya Pura Puseh dan Pura Bale Agung Dusun Canggi yang terletak dalam satu area suci. Kedua pura dihubungkan dengan gapura kuna Canggi.

Sedikitnya sumber tertulis yang menyebut tentang eksistensi Pura Puseh Canggi, mungkin disebabkan oleh berbagai hal antara lain panjangnya perjalanan waktu sehingga sangat dimungkinkan adanya data yang hilang. Selain itu tradisi penulisan segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan suatu peristiwa termasuk keberadaan pura belum membudaya di masa lalu.

Untuk mendapatkan perkiraan umur Pura Canggi, dapat dilakukan dengan melakukan perbandingan antara data arkeologis di Pura Puseh Canggi (khususnya gapura Canggi) dengan data arkeologis lain yang terdapat di Desa Batuan, seperti gapura Pura Puseh Desa Batuan dan gapura Pura Hyang Tiba. Di pura-pura ini ditemui adanya arca binatang nandi dan domba yang difungsikan sebagai dwarapala bangunan gapura.

Di antara arca dwarapala tersebut, yang dapat dijadikan pembanding adalah arca nandi di Pura Hyang Tiba yang berisi angka 1258 çaka. Dan pada ambang pintu masuk gapura terdapat kronogram bulan = 1, mata = 2,busur/panah = 5, dan gajah = 8, yang menunjukkan angka tahun 1258 çaka. Disamping angka tahun, pada kedua kaki bagian depan terdapat hiasan tengkorak.

Hiasan tengkorak berkaitan dengan aliran bhairawa yang pernah berkembang di Bali pada abad XIII, ketika raja Kertanegara menguasai Bali tahun 1268. Arca dwarapala di Pura Puseh Canggi juga menggunakan hiasan tengkorak. Berdasarkan perbandingan di atas, dapat disampaikan bahwa periodisasi warisan budaya di Pura Puseh Canggi sama dengan warisan budaya di Pura Hyang Tiba, yaitu berasal dari abad XIII-XIV M.

Berdasarkan info yang dihimpun dari bpcb bali, sejumlah arca perwujudan dan beberapa arca lainnya yang menunjukan ciri-ciri ikonografis badan kekaku-kakuan, mahkota berbentuk seperti susunan kelopak bunga padma dan sikap tangan memegang kuncup bunga, menunjukan kesamaan dengan ciri-ciri arca yang tergolong periode seni arca zaman Bali Madya abad XIII-XIV Masehi. Jadi diperkirakan arca perwujudan di Pura Puseh Canggi berasal dari abad XIII-XIV. [AR]