SPORTOURISM— Pernahkah Anda menyempatkan diri mengunjungi Kebun Raya Bogor, berjalan-jalan di sana sembari menikmati segarnya udara? Sempatkah juga mendengar mitos Pohon Jodoh di kebun botani (botanical garden) pertama di Asia Tenggara itu? Bila belum, Anda sudah terkena hukum wajib untuk datang ke Bogor, mengunjungi Kebun Raya dan…berfoto di bawah rimbunan pohon legenda tersebut! Ketenaran pohon jodoh dan mitosnya tak hanya dikenal warga Bogor. Buktinya, banyak pengunjung Kebun Raya Bogor dari luar kota, bahkan negeri serumpun seperti Malaysia, selalu menanyakan dimana letak pohon yang melegenda tersebut. Entah apa yang mendasarinya. Ataukah semata ingin melihat pohon yang namanya begitu tenar sementara di pohon tak pernah beranjak dari tempatnya tegak; atau memang mereka percaya bahwa pohon jodoh itu memang punya khasiat membuat hubungan cinta langgeng. Tetapi apa pun alasannya, pohon jodoh Kebun Raya Bogor memang menarik dilihat. Sebenarnya, tak ada unsure klenik di sekitar pohon itu. Julukan itu tersemat, barangkali karena penampakan fisik kedua—memang dua, pohon itu semata. Pohon jodoh terdiri dari dua buah pohon berusia tua, kurang lebih 150 tahun. Posisi kedua pohon berukuran raksasa itu berdekatan. Kedua pohon bak pasangan ‘suami istri’, alias pohon-pohon itu berdampingan dan seolah bergandeng tangan. Yang membuat kedua pohon ini dianggap seperti pasangan suami istri , mungkin karena fisiknya. Yang satu berwarna hitam, lebih lebar sehingga terkesan kekar, dianggap sebagai sang “pria”. Sedangkan di sebelahnya dengan ukuran yang lebih langsing serta berwarna kekuningan adalah sang wanita. Cocok dan seolah mengekalkan kesan fisik pasangan manusia pada umumnya. Pria yang selalu dikesankan lebih gelap dan kekar,  dibandingkan dengan wanita yang umumnya kuning langsat atau lebih terang dibanding pria. Mungkin dari sinilah dianggap bahwa kedua pohon ini memang berjodoh sebagai pasangan “suami istri” pohon. Keduanya sebenanrya berasal dari dua spesies dan negara yang berbeda. Pohon pria adalah sebuah pohon Meranti atau Shore leprosula alias Meranti Bunga. Memang ada juga yang salah menyebutnya sebagai pohon kenari. Asalnya adalah Sumatera, Indonesia. Sedangkan sang ‘wanita’ adalah pohon Beringin Putih yang bernama latin Ficus albipila king. Batangnya memang terlihat lebih terang, berasal dari Thailand. Kedua Pohon jodoh ini berasal dari dua wilayah/negara yang berbeda meskipun sebenarnya kedua spesies ini banyak ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara. Keduanya berukuran raksasa karena bisa mencapai ketinggian 50-80 meter. Sang pohon wanita, meskipun lebih langsing tetap saja tergolong pohon berukuran besar. Apa yang menyebabkan pohon jodoh itu menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor? Ada beberapa kisah yang berkembang. Mitosnya, bila pasangan yang sedang menjalin cinta duduk di bawah pohon jodoh, hubungan mereka akan langgeng. Bila seorang yang sedang jomblo alias tidak punya pacar,  bertemu di bawah pohon jodoh, keduanya akan menjadi sepasang kekasih. Benar atau tidaknya mitos ini, tidak ada yang bisa membuktikan. Meskipun demikian kedua pohon ini menjadi sangat terkenal sehingga sering dijadikan sebagai background bagi foto pra-wedding. Barangkali para calon pengantin yang berfoto itu juga berharap cinta mereka akan langgeng sama seperti kedua pohon yang bisa berdampingan lebih dari 150 tahun. Bila Anda penasaran ingin melihat langsung pohon jodoh, inilah petunjuknya. Ada empat pintu masuk Kebun Raya Bogor, dua yang menurut saya bisa dipakai sebagai petunjuk. Pintu I (Utama) dan II (Kantor Pos) Patokannya adalah Monumen Lady Raffles. Untuk yang masuk dari Pintu I lebih dekat, tetapi untuk yang masuk dari Pintu dua harus berjalan ke arah Timut menuju Danau Gunting, tempat monumen itu berada. Lalu bergeraklah etrus ke Timur hingga Anda melewati Koleksi Pakis, Pandan, Tanaman Air dan Palem. Anda akan melihat jembatan menuju ke Taman Astrid di sebelah kanan Anda. Jangan berbelok. Lurus saja dan melewati Monumen Kelapa Sawit. Tidak jauh setelah itu Anda akan menemukan sebuah jembatan suspensi berwarna merah di sebelah kanan dan Makam Mbah Jepra di sebelah kiri. Nah posisi Pohon Jodoh kurang lebih 30-40 meter setelah komplek makam keramat tersebut. Pintu Masuk III dan IV Yang masuk dari Pintu Masuk IV alias Pintu Khusus Pejalan kaki, berbeloklah ke arah kanan melewati Taman Astrid dan Jalan Astrid. Anda kemudian akan menemukan Rumah Anggrek di sebelah kiri dan Pintu Masuk III di sebelah kanan. Kemudian lanjutkan perjalanan dengan mengikut jalan terus ke Utara. Anda asti akan melewati Taman Lebak Soedjana Kasan yang ada lambang garudanya. Nah, di depan itu ada Jalan Surya Lembayung yang bisa dilalui mobil. Seberangilah.   Sampai di seberang, berbeloklah ke kiri dan ikuti saja jalan itu. Jembatan suspensi berwarna merah akan ada di sebelah kiri Anda dan Makam Mbah Jepra serta pohon jodoh akan ada di sebelah kanan. [  ]