SPORTOURISM - Jepang, selalu memiliki daya tarik tersendiri di mata wisatawan. Termasuk warga Uni Emirate Arab (UEA). Dikutip dari laman Halallifestyle.id belakangan ini, masyarakat UEA tengah bersemangat berlibur ke Jepang.

, FasMenurut Chief Executive Ornate Travel, Dileep Nair peningkatan jumlah wisatawan selama 18 tahun ini muncul. Termasuk mereka warga UEA yang sedang gencar-gencarnya menjelajahi Jepang sebagai destinasi wisatanya.

"Banyak pelancong musiman yang gemar mencari destinasi wisata baru. Orang Emirates atau ekspatriat ingin melihat dan merasakan kecanggihan wisata Jepang. Mereka ingin melihat teknologi terbaru maka mereka pergi ke Jepang. Mereka juga ingin melihat pohon cherry bersemi," ujar Nair.

Menurut Nair, warga UEA pergi ke luar negeri sendiri saja antara empat hingga lima kali dalam setahun. Mereka pergi ke luar negeri dengan orang dekat mereka dua atau tiga kali untuk berlibur.

Pada 11 hingga 14 September 2017 lalu, wisatawan dari Abu Dhabi-Dubai-Sharjah melakukan perjalanan ke lima hingga 10 prefektur atau distrik di Kansai. Kota Kobe, Mie, Nara, Osaka dan Wakayama adalah beberapa yang akan pertama mereka kunjungi. Memang ada peraturan visa terbaru sejak Juli, yang memudahkan warga Emirat untuk berkunjung ke Jepang.

Staf Senior Road Infrastructure Division dan Osaka Prefectural Government-Airport, Kazumasa Okada mengatakan, jika Osaka kini menjadi sister city untuk Dubai. Dia menambahkan bahwa untuk orang Emirat, Jepang adalah tujuan wisata favorit untuk bulan madu.

"Kansai membuka pintunya untuk negara-negara Teluk, melalui UEA. Alasannya karena Jepang memiliki separuh dari kekayaan kuno sejak 1.000 tahun lalu dari negara-negara Asia Timur dengan Nara sebagai ibu kota sejak tahun 710 hingga 794. Nara kemudian digantikan Kyoto pada 794 hingga 1869 sebagai ibu kota, hingga akhirnya Tokyo sejak 1869 hingga kini ibukota Jepang," ujarnya.

Kansai di bagian barat Pulau Honshi dengan kota pelabuhannya, Kobe, memiliki masjid tertua di Jepang yang dibangun tahun 1935. Masjid ini telah bertahan saat Perang Dunia II dan gempa besar di tahun 1995 yang meluluhlantakkan Jepang. [Novie Fauziah]