SPORTOURISM - Mata dunia saat ini melihat riwayat tenis Indonesia yang kini berada di titik nadir. Padahal, Indonesia pernah sangat terpandang di dunia tenis internasional.

Di ajang SEA Games, Indonesia sangat diperhitungkan. Bahkan, nama-nama seperti Justedjo Tarik, Atet Wijono, Tintus Arianto Wibowo pernah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas sektor putra selama satu dekade antara 1977-1987.

Untuk di sektor putri pun, nama-nama beken seperti Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja benar-benar membanggakan dengan segudang prestasi. Sebut saja Yayuk, ia menjadi satu-satunya petenis Indonesia yang pernah bertengger di urutan 19 WTA untuk kategori tunggal dan sembilan untuk nomor ganda. Lalu, Angie yang berhasil membekuk sejumlah petenis hebat dunia seperti Dinara Safina, Anna Kournikova, Patty Schnyder serta Tamarine Tanasugarn.

Lalu mengapa tenis Indonesia saat ini bisa terpuruk? Hal ini yang kemudian akan dijawab Calon Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Rildo Ananda Anwar.

Ia menilai, keterpurukan tidak hanya terjadi di level permukaan, tetapi sudah menggerogoti hal-hal dasar. Pertama, tidak berjalannya sistem pembinaan yang baik. Sistem yang berjalan selama ini dinilai tak berjalan sesuai harapan, dan terlebih lagi tidak merata.

"Ini yang harus dibenahi. Saya ingin tenis menemukan kembali masa kejayaannya dan ini niat tulus dari dalam hati karena memang saya sejak usia 9 tahun sudah terjun di dunia tenis," ujarnya kepada Korpri.id, Selasa (14/11/2017).

Selain itu, Inspektur Jenderal di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini mengatakan, bagi para pemain muda saat ini tidak ada sosok panutan yang menjadi referensi sekaligus kiblat karir. Tak pelak tenis hanya dikenal dan diakrabi sekadar hobi, atau aktivitas sekenanya saja.

"Tenis dilakoni hanya sebatas aktivitas dan itu pun mulai merosot lagi minatnya karena mereka tidak memiliki idola di tanah air. Yang jelas, PB Pelti harus diurus orang-orang yang paham tentang tenis," ujarnya. [Yudi Kurniawan]