Sportourism - Pasola, Ritual Perang Lembing di Sumba

Pasola, Ritual Perang Lembing di Sumba

Pasola, Ritual Perang Lembing di Sumba

SPORTOURISM-- Pasola adalah sebuah permainan adu ketangkasan saling melempar lembing dari atas kuda yang dipacu kencang. Acara itu rutin digelar di delapan desa adat di Sumba.

 

Kedelapan desa itu tiga desa berada di Kabupaten Sumba Barat dan lima di Kabupaten Sumba Barat Daya. Di antaranya adalah Kampung Adat Wainggale di Desa Wainyapu, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya.

 

               Seorang peserta Pasola siap menghunjamkan lembing pada lawannya  (foto Muhgammad Fadli)

 

Pasola sendiri adalah bagian dari ritual adat Nyale yang diadakan masyarakat Sumba yang menganut kepercayaan Merapu. Pesta adat Nyale adalah salah satu upacara rasa syukur atas anugerah yang mereka dapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen cacing laut yang melimpah di pinggir pantai.

 

Ritual Nyale diawali dengan mengambil cacing laut di pantai sebelum fajar tiba. Mereka yang berhasil meraup cacing sangat banyak dipercaya akan mendapat banyak rezeki pada tahun ini.

 

Setelah itu barulah kemudian menggelar ritual pasola, yang ditandai dengan berkumpulnya para lelaki dan perempuan kampung tersebut di Rumah Alang Tinggi untuk memberitahukan kepada arwah leluhur yang dikuburkan di wilayah tersebut bahwa mereka telah berkumpul dan siap untuk melakukan upacara Pasola esok hari.

 

Sambil mengunyah pinang dan sirih, kaum perempuan yang bersarung Toledo berteriak-teriak seperti meratap sambil menghampiri satu persatu batu kubur leluhur mereka untuk memberitahu sekaligus meminta restu untuk menggelar Pasola esok hari.

 

Kemudian, setelah ‘nyekar’ di makam leluhur, para lelaki yang akan ikut bermain Pasola pun mulai berlatih sekaligus sebagai ajang gladi resik untuk menyongsong pertandingan esok harinya. Ketika malam tiba, sekitar tengah malam warga berkumpul di rumah kepala suku, yang juga pemimpin spiritual Merapu. Mereka melaksanakan kawoking, puji-pujian.

 

Baru pada keesokan harinya, saat fajar menyingsing, para penunggang kuda sudah berkumpul di lapangan yang akan menjadi arena pertarungan, siap berpasola. Satu kubu bergerombol di sisi barat dan kubu lain di sisi timur.

 

 

Harap diketahui, meski tradisi Pasola merupakan sebuah ajang adu ketangkasan berkuda dan melempar lembing, ini sama sekali jauh dari kata pertandingan untuk menentukan juara. Karena tujuan utama Pasola sendiri yang memang merupakan permainan melepas suka cita dan mensyukuri anugerah datangnya musim panen dan kumpul kerabat.

 

Meskipun begitu, tetap saja kalau tidak tangkas dalam bermain Pasola, taruhannya adalah luka, bahkan nyawa. Meski lembing dari kayu lamtoro yang keras itu sekarang ujungnya tumpul, karena dilempar dengan kuat dari kuda yang berlari cepat, tetap sangat membahayakan lawan. Dulu tentu saja lebih berbahaya karena lembing-lembing itu berujung tajam. Bahkan sempat ada kepercayaan, kian banyak darah tertumpah, makin baik nasib kampung pada tahun mendatang.  

 

Sekitar pukul 11.00, begitu Kuda Nyale yakni kuda milik kepala suku memasuki lapangan, pertandingan pun dimulai. Penunggang kuda kedua kubu langsung memacu tunggangan mereka, saling mendekat dan melempar lembing.

Penonton pun spontan berteriak, begitu melihat ada penunggang yang terkena lembing atau ada yang berhasil menghindari lemparan lembing lawan. Bagi yang terkena lemparan lembing, kemudian akan segera diobati oleh sang tetua adat.

 

Hebatnya, begitu pertandingan selesai, semua peserta yang semula saat berpasola menjadi lawan kembali berbaur. Sama sekali tak ada guratan dendam di wajah mereka meski badan terasa nyeri karena terkena lemparan lembing kala dalam bertanding tadi. Semua bersuka cita dan melanjutkan hidup. [  ]