BENGKULU – Merayakan usia ke-1 tahun, Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Bengkulu melakukan potong tumpeng. Ini dilakukan sebagai wujud syukur atas kebersamaan yang terjalin selama ini. Sekaligus sebagai pengingat ikrar menjadi relawan Pariwisata Indonesia, 8 Mei 2018 silam.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengaku bangga dengan keberadaan GenPI. Menurutnya, GenPI telah memberikan warna tersendiri terhadap eksistensi Bengkulu. Jika mulanya Bengkulu kurang dikenal luas, kini mulai dilirik wisatawan. Pelancong mulai tahu bahwa Bengkulu memiliki beragam destinasi. Ada wisata sejarah, alam, dan budaya.

“Meski baru seumur jagung, GenPI Bengkulu sudah mengantarkan 1 objek wisata kita menjadi juara 3 di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018. Objek wisata alam dengan kategori spot olahraga terpopuler mampu mengalahkan spot-spot yang dimiliki daerah lain. Akhirnya Bengkulu pecah telor,” ujarnya, Minggu (12/5).

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, sebenarnya Bengkulu memiliki banyak atraksi. Hanya saja, aksesibilitas masih butuh penunjang. Sebab, akses yang mudah akan membuat wisatawan semakin antusias berkunjung.

“Saya dengar, Bengkulu akan memiliki bandara bertaraf internasional. Ini tentu kabar baik yang harus kita sambut gembira. Mudah-mudahan pembangunan bandara tersebut secepatnya terealisasi, sehingga pariwisata Bengkulu semakin berkibar seperti daerah lain,” harapnya.

Jika semua penunjang tersedia, lanjut Rizki, tidak ada alasan bagi daerah untuk tidak memaksimalkan objek wisata yang ada. Terlebih, Bengkulu punya wisata sejarah yang terkait dengan kemerdekaan Indonesia. Ini bisa menjadi kekuatan tersendiri karena tidak dimiliki daerah lain.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menambahkan, Bengkulu memiliki beberapa keistimewaan. Bengkulu punya Benteng Marlborough peninggalan Inggris. Konon, ini merupakan benteng terbesar se-Asia. Bengkulu juga punya bunga Rafflesia yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.

“Atraksi Bengkulu sebenarnya sudah masuk kategori kelas dunia. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata melengkapi fasilitas yang dibutuhkan. Selain aksesibilitas, harus pula disiapkan amenitas. Jadi wisatawan tak perlu bingung akan stay di mana,” jelasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, membangun pariwisata memang butuh untur dasar 3A. Yaitu Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas. Ketiganya harus padu. Satu saja yang belum tersedia, perkembangan pariwisata akan pincang alias tidak maksimal.

“Tanpa atraksi, jangan harap ada wisatawan yang singgah. Ada atraksi tapi akses tidak mendukung, wisatawan bakal kesulitas menjangkau objek yang ditawarkan. Sebaliknya, tanpa amenitas, wisatawan juga akan pikir ulang untuk datang. A3 menjadi kebutuhan primer untuk pariwisata,” tandasnya.(*)