BANDUNG - Sektor pariwisata, semakin menjadi primadona. Berbagai daerah terus berlomba menggali potensi pariwisata yang ada di daerahnya. Salah satunya Kota Bandung. Dalam tiga tahun kebelakang perkembangan pariwisata di kota Bandung mengalami peningkatan yang cukup positif.

“Kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara ke Kota Bandung rata-rata 6 jutaan. Tahun depan, ditargetka ada 8 juta wisatawan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Dewi Kaniasari, saat Road to ITO (Indonesia Tourism Outlook) 2019 di Mandalawangi Hall, Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung dan diprakarsai oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) pada hari Rabu (10/10) 

Dengan perkembangan pariwisata di Bandung yang terus meningkat, maka kota dengan julukan Paris van Java ini menghadapi masalah kemacetan. Menurut Kenny panggilan akrab Dewi Kaniasari, penyebab kemacetan di kota Bandung adalah karena kurangnya kantong parkir.

“Setiap ada destinasi wisata yang diresmikan, tidak ada kantong parkir. Apalagi rata-rata per hari 75 ribu kendaraan masuk melalui Pasteur ditambah 1 juta kendaraan yang berada di Kota Bandung. Inilah yang menyebabkan kemacetan,” ungkapnya.

Sementara dari segi trasportasi massal, lanjut dia, belum terintegrasi dengan baik. Pemerintah Kota Bandung ke depan akan membangun LRT dan trem di dalam kota sehingga menjadi daya tarik wisata baru kota Bandung.

Rencana pengembangan dalam dua bulan ke depan yakni prototipe akan ada wisata halal dan distrik wisata yakni budaya dan kreatif. Di mana kecamatan sumur Bandung atau tepatnya di Braga karena sudah menjadi branding, di sana akan dilakukan pemberdayaan masyarakat sehingga menjadi berbasis komunitas.

Kenny menambahkan, berdasarkan Perda No. 01 Tahun 2013 ada 6 kawasan strategis yakni Bandung Utara di Dago Utara berupa kawasan ekowisata, Ganesha – gedung sate (kawasan pariwisata pendidikan dan sejarah), jalan Riau (kuliner dan belanja) lalu ada pula alun-alun (kawasan pariwisata warisan budaya) dan kawasan pariwisata budaya tradisional (Ujungberung) serta kawasan pariwisata konvensi dan olahraga (Gedebage) selain itu terdapat 15 kawasan yang ditetapkan menjadi rencana kawasan pengembangan pariwisata daerah.