Jakarta, 15 Mei 2019 - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya berharap penurunan Tarif Batas Atas (TBA) yang ditetapkan turun sebesar rata-tara 12-16 persen oleh Kementerian Perhubungan bisa diikuti oleh maskapai berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC) di Indonesia.

“Diharapkan dengan berita baik ini sudah turun, menurut informasi rata-rata turun 15 persen, dari 12-16 persen. bisa diikuti maskapai LCC, terutama tarif batas atasnya bisa diturunkan lagi,” kata Menpar Arief Yahya di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Menurut Arief Yahya sejak 2019, tiket pesawat naik hampir 100 persen dari harga normal atau total menjadi 200 persen. Dan tidak turun dari ‘peak season’ di akhir Desember 2018 silam. Hal itu dianggap belum cukup apabila dikurangi penurunan sebesar 16 persen.

“Saya harap untuk LCC terutama, tarif batas atas nya masih bisa diturunkan lebih besar lagi. Kalau pun tidak mau terlalu besar, itu bisa 20 persen dari yang dulu, itu masih oke. Jadi kira-kira 40 persen dari tarif batas atas,” katanya.

Kenaikan tarif tersebut, lanjut Menpar Arief berdampak terhadap ekosistem pariwisata di Tanah Air. Mulai dari industri perhotelan, penyedia jasa wisata hingga industri kecil di daerah wisata.

“Sudah kami cek ke ASITA dan PHRI, penurunannya sekitar 30 persen. Nah, kami harapkan bisa segera naik dari yang tadinya 30 persen. Saya harapkan jadi 10 persen, kalau terlalu dalam dan terlalu lama itu tidak bagus,” katanya.

Arief menjelaskan daerah yang terdampak di sektor pariwisata berada di luar Pulau Jawa. Yang di dalam Pulau Jawa tidak begitu drastis. Namun begitu ke Sumba, Lombok, atau Medan tingakt penurunannya drastis.

“Penurunan dengan harga awal masih lebih mahal 60-70 persen. Kalau hanya dikurangi 15 persen. Jadi kami harapkan naik 10 persen dari sebelumnya minus 30 persen jadi hanya minus 20 persen dari pendapatan sektor pariwisata,” ujarnya.