Palangkaraya – Lomba Balap Jukung menjadi salah satu kegiatan menarik dalam rangkaian Festival Isen Mulang 2019, Rabu (19/6). Sebagai wilayah yang dilintasi sungai-sungai besar, Kalimantan Barat ternyata juga memiliki potensi wisata air yang cukup menjanjikan.

Lomba Jukung sendiri digelar di bantaran Sungai Kahayan, tepatnya di sekitar Jembatan Kahayan. Sejumlah peserta yang bertanding tampak begitu semangat memacu jukung yang diawakinya. Tepuk tangan penonton pun seolah membakar jiwa peserta untuk menjadi juara.

“Lombanya seru. Penonton membudak. Sejak pagi lokasi sudah ramai dikunjungi warga. Ini menjadi berkah besar bagi para pedagang yang berjualan di sentra kuliner. Semua laris manis. Terbukti bahwa pariwisata memberi dampak positif bagi perekonomian warga,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, Guntur Talajan.

Menurutnya, saat ini lokasi perlombaan masuk kawasan Taman Pasuk Kameluh. Kawasan ini juga dikenal sebagai lokasi water front city yang memang dirancang untuk menambah keindahan Sungai Kahayan.

Konon, pembangunan lokasi wisata bantaran Sungai Kahayan sudah dikonsep sejak zaman Presiden Soekarno jadi Presiden Pertama RI. Saat Palangkaraya diresmikan sebagai ibukota Kalimantan Tengah, beliau meminta agar bagian bantaran sungai jangan ada bangunan. Karena akan dijadikan sebagai kawasan wisata yang saat ini perlahan diwujudkan Pemkot Palangkaraya.

“Pada malam hari, kawasan Jembatan Kahayan terlihat sangat indah, dengan hiasan lampu warna-warni. Sementara Taman Pasuk Kameluh yang berada di atas bantaran Sungai Kahayan, setiap hari selalu ramai dikunjungi warga,” ungkapnya.

Menariknya, bagi wisatawan luar daerah yang ingin melakukan susur Sungai Kahayan, warga sekitar sudah menyiapkan perahu kelotok yang bisa disewa dengan tarif hitungan jam. Melalui susur sungai, wisatawan bisa menikmati keindahan alam Kalbar yang masih terjaga.

Bagi pecinta fotografi, mereka akan menemukan banyak objek yang bisa dibidik. Selain keindahan alam, wisatawan akan dibawa mengitari kampung nelayan di sebagian bantaran, sambil melihat aktivitas masyarakat dari atas kelotok. Jika beruntung, wisatawan juga akan melihat atraksi anak-anak melakukan terjun bebas ke dalam air.

Ketua Pelaksana Calendar of Event Kemenpar Esthy Reko Astuty mengatakan, Festival Isin Mulang sangat efektif untuk memperkenalkan Kalimantan Barat secara utuh. Berbagai kegiatan yang digelar bukan hanya mengangkat soal seni budaya, tetapi juga potensi alam dan potensi pariwisata daerah setempat.

“Saya sangat mengapresiasi pemerintah daerah dan panitia yang sangat serius menggarap event ini. Hampir semua kekayaan Kalimantan Barat ditampilkan. Ini jelas menambah wawasan para pengunjung atau wisatawan luar daerah terkait Provinsi Kalbar,” ungkapnya.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung menambahkan, konten yang dihadirkan pada Festival Isen Mulang memang lengkap. Terutama ragam budaya suku Dayak. Keunikan yang tersaji jelas memiliki daya tarik bagi wisatawan.

“Atraksi yang ditampilkan sangat menarik dan membuat event ini berlangsung meriah. Dalam bahasa lokal, Isen Mulang berarti tidak pernah mundur. Ini merupakan moto Palangkaraya yang menggambarkan keberanian masyarakat setempat,” jelasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Festival Isen Mulang menjadi momentum yang pas untuk membangkitkan industri pariwisata di Kalimantan Tengah. Kegiatan ini kental dengan nuansa budaya yang dikemas dengan standar nasional.

Kalteng harus bangkit dan berkibar seperti daerah lain. Konsep acaranya sudah bagus. Sekarang yang dibutuhkan adalah branding secara masif. Kemenpar akan bantu itu. Tapi, penyelenggara festival ini juga harus aktif. Manfaatkan semua jenis media, termasuk media sosial,” terangnya.(*)