Jakarta, 11 Juni 2019 - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggandeng seluruh maskapai di Indonesia untuk memperkuat akses ke berbagai destinasi wisata di Tanah Air.

“Bagi insan pariwisata dan industri yang bergerak di dalamnya, rumus pengembangan pariwisata 3A yakni aksesibilitas, amenitas, dan atraksi wisata harus benar-benar menjadi pedoman,” ujar Kepala Biro Komunikasi Publik, Kemenpar Guntur Sakti di Jakarta, Senin (9/6/2019).

Ia mengatakan selama ini Kemenpar di bawah kepemimpinan Menpar Arief Yahya menerapkan strategi pengembangan destinasi 3A.

Kerja sama dengan maskapai menjadi contoh konkret strategi pengembangan destinasi yang telah dilaksanakan sejak 2017.

“Sejak 2017 - 2019, sudah terjalin kerja sama dengan hampir semua airlines, termasuk Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, Nam, Lion Group, dan Air Asia. Bahkan dalam roadshow, Menpar Arief Yahya mendatangi semua airlines itu,” jelas Guntur.

Selain itu, Menpar Arief Yahya juga mendatangi Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II yang mengurus terminal dengan segala teknologi dan masterplannya.

“Lalu berkali kali mengunjungi Air Navigation, yang mengatur lalu lintas pesawat di udara. Dan tentu, ke Kemenhub, yang punya slot, izin terbang, dan semua regulasi udara,” kata Guntur.

Pihaknya menekankan pentingnya faktor perhubungan udara untuk mendukung sektor pariwisata sebab sebagaimana fokus pada inbound flow, wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia 75 persen menggunakan transportasi udara.

Pada 2019 persentasenya memang itu mulai berkurang, dengan program crossborder, tourism hub, dan cruise.

Dengan target kenaikan rata-rata per tahun harus 21 persen, maka yang harus didorong adalah “seats capacity airlines” yang masuk ke Indonesia. “Maka semua airlines kita undang terbang membawa wisatawan ke Indonesia, terutama destinasi wisata,” ungkapnya.

Tanpa menghitung seats capacity, atau kapasitas passangers yang masuk via udara, menurut Guntur akan sulit untuk bisa menepati targat kunjungan 20 juta wisman pada 2019.

Sektor pariwisata sangat membutuhkan airlines, yang diibaratkan sebagai alat produksi dalam bisnis pelayanan. Apalagi pintu udara masih besar persentasenya, membawa wisatawan.

Maka, wajar di semua inflight magazines selalu menampilkan liputan utamanya destinasi wisata, baik alam, budaya maupun buatan. Karena ada hubungan timbal balik yang kuat itulah Kemenpar menggandeng semua airlines. “Sekali lagi, bukan hanya Air Asia, tapi semua airlines diundang untuk bekerja sama dengan Kemenpar,” ungkap Guntur.

Kerja sama dengan Garuda Group sebagai BUMN juga dilakukan dengan porsi yang paling besar. “Bahkan sejak 2010 sudah mempunyai MoU dengan Garuda, dimana Garuda selalu kita berikan free space, di tempat terdepan, setiap pameran di pasar yang diterbangi Garuda,” katanya.

Bukan hanya itu, lanjut Guntur, dengan Garuda di Australia pada 2018 ada aktivasi kegiatan Consumer Selling, B2C dengan nama Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) di 3 kota yang merupakan originasi terbesar di Australia. Yakni, Perth dengan venue di Carousel Westfield, 7-9 Desember 2018, luas lahan untuk acara yang didedikasikan bagi Garuda, 6m x 3m.

Lalu di Melbourne dengan venue di Melbourne Central pada 7-9 Desember 2019, dan
lahan seluas 8m x 8m. Dan, Sydney di Martin Place Outdoor, 10-11 Desember 2018 dengan lahan cukup luas, 15m x 20m.

Selain penyelenggaraan kegiatan, dilakukan pre-event campaign di media cetak dan online. Kampanye di media cetak berupa press ads di the West Australian, Sydney Morning Herald, dan the Age. Adapun liputan on-event dilakukan oleh media online ternama yaitu Indobuletin dan Indomedia, radio oleh BBC Australia.

Hal serupa juga dilakukan di Singapura dan di
Jepang misalnya, keikutsertaan Garuda pada Marine Diving Fair 2018, Consumer Selling Osaka kerjasama dengan HIS, Famtrip Kerja sama dengan KJRI Osaka ke Jawa Timur (Surabaya, Ponorogo, Bromo), Long Stay Fair Trade Show 2018, Business Gathering Tokyo dan Osaka 2018.

Tahun 2019 dilanjutkan dengan Marine Diving Fair 2019, Kanku Tabihaku 2019, Blue Ocean Fes Kansai 2018, Business Gathering Tokyo dan Osaka 2019 - Juli 2019, Tourism Expo Japan 2019 pada 24-27 Oktober 2019, dan Long Stay Fair 2019 - 23 November 2019.

Guntur menegaskan Kemenpar akan terus menjalin kerja sama yang baik terutama dengan maskapai nasional. “Dengan senang hati, dan ini bukan yang pertama. Inisiatifnya pun, dari Kemenpar, karena rumus 3A, salah satunya adalah akses,” katanya.