SPORTOURISM - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar seminar Penguatan Jejaring Wisata Maluku Utara (Malut) yang membahas khusus soal kekuatan hospitality homestay dan kekreatifan kuliner. Acara yang dihelat di Saloi Bed & Breakfast, Kabupaten Jailolo, Senin 11 Desember 2017 ini berlangsung seru, karena dua narasumber yang dihadirkan memberikan paparan yang penuh interaktif. 

Seminar ini diiisi dua akademisi dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung Ummi Kalsum dan Djauhar Arifin. Juga dihadiri oleh Anggota DPR RI Komisi X Irine Yosiana Roba Putri dan Kepala Dinas Pariwisata Halmahera Barat Fenny Kiat. Sementara peserta selain dari pelaku bisnis pariwisata, sebagian besar adalah pemilik homestay dan pengelola desa wisata. 

Irine Yosiana Roba Putri mengapresiasi Kementerian Pariwisata yang bersedia menggelar acara penguatan jejaring wisata Malut. Dia mengatakan, Malut memang butuh seminar macam ini untuk memotivasi pelaku pariwisata di Malut. Apalagi yang didatangkan sangat berkompeten. Menurut Irine, Malut, khususnya Jailolo dan Morotai memang sangat membutuhkan homestay tumbuh bagus karena mengingat belum banyak hotel yang terbangun. 

"Kami sangat mengapresiasi Kemenpar yang bersedia memdatangkan narasumber yang berkualitas. Saya harap para peserta bisa menyerap ilmu dari para narasumber yang bergelar Doktor ini," ujar Irine dalam sambutannya, Senin (11/12).

Melalui pengiatan Jejaring Wisata Malut ini, Irine berharap semua pelaku bisnis pariwisata di Malut menyadari bahwa harus kreatif dalam persaingan. Selain itu, dia berharap pemerintah pusat dan daerah terus melakukan pembangunan infrastruktur di wilayah ini. 

"Zaman sekarang harus kreatif. Contohnya ikan bakar, sekarang sudah tidak bisa disajikan biasa saja, karena sudah tidak menarik lagi. Tapi audah harus disajikan lebih menarik lagi. Begitu juga dengan infrastruktur, masyarakat Malut harus bisa memanfaatkannya, jangan sampai justru orang luar yang masuk memanfaatkannya seperti yang terjadi di Bali," jelas Irine. 

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti mengatakan, Malut memiliki potensi yang sangat prospektif untuk dikembangkan pariwisatanya. Destinasi diving terbaik juga ada di sana seperti di Morotai. 

"Mauluku Utara punya banyak spot wisata  yang indah. Wisatawan di dunia masih banyak yang belum mengetahuinya. Maka diperlukan langkah-langkah agar Maluku Utara makin dikenal ," ujar Esthy didampingi Kepala Bidang Penguatan Jejaring Kemenpar Hidayat. 

Hidayat menambahkan, pihaknya sengaja mendatangkan ahli hospitality dari STP  Bandung karena menyesuaikan kebutuhan daerah. Dia menilai, homestay yang ada di Ternate, Jailolo, Morotai dan sekitarnya sangat dibutuhkan untuk mendatangkan wisatawan. 

"Dalam menggelar seminar, kita harus jeli apa yang menjadi kebutuhan suatu daerah. Kami mendatangkan ahli hospitality dari STP Bandung agar para pengelola homestay dan restoran bisa mengelola usahanya lebih profesional lagi," ujar Hidayat. 

Para peserta seminar nampak antusias sekali, karena dalam menyampaikan materi, kedua narasumber tidak membosankan. Selain penuh interaksi, pemateri juga memberikan praktek langsung. 

Ummi Kalsum mengatakan, para pemilik homestay diharapkan lebih komitmen dan serius dalam mengelola homestay. Menurutnya, hal itu akan memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan masyarakat sekitar karena akan membuka suatu lapangan kerja baru.

"Bila homestay itu dikelola dengan serius, akan  berdampak membantu perekonomian keluarga dan masyarakat karena bisa membuka lapangan kerja. Selain itu tentu saja akan turut meningkatkan kunjungan wisatawan," ujar Ummi Kalsum.

Ummi Kalsum menambahkan, pengelola homestay juga wajib memperhatikan health and hygiene. Karena apabila wisatawan merasa kecewa terhadap homestay tersebut, tidak akan mau kembali lagi. 

"Kebersihannya harus dijaga, fasilitas dan pelayanannya juga harus diperhatikan. Karena apa bila tamu atau wisatawan itu kecewa, maka wisatawan itu bukan hanya tidak mau balik lagi ke homestay itu, tapi tidak mau balik lagi datang ke daerah itu," tutur Ummi Kalsum. 

Sementara, Djauhar Arifin dalam paparannya menegaskan bahwa kuliner bisa menjadi kekuatan untuk menarik wisatawan. Namun, dibutuhkan kreativitas pengelola restoran atau tempat makan dalam mengolah masakan Nusantara menjadi daya tarik. 

"Dalam mengolah kuliner harus berani kreatif agar makanannya tidak hanya itu-itu saja. Karena meski bahannya sama, bisa dibuat berbagai masakan. Contohnya di Jailolo ini yang terkenal pisangnya. Bjla pisang hanya digoreng, di semua daerah juga ada pisang goreng. Tapi banyak jenis makanan yang pembuatannya dari bahan pisang," papar Djauhar Arifin.(*)

Senada dengan Ummi Kalsum, Djauhar Arifin juga menekankan pada pengelola restoran memperhatikan health and hygiene. Walaupun masakannya enak, apabila pelanggan melihat hal yang kurang higienis, maka aan kapok kembali lagi. 

"Bila kita asik makan, lalu tiba-tiba melihat tukang masaknya tangannya kotor, bajunya kumal, dapurnya berantakan jorok, sudah pasti kita akan kehilangan selera makan walaupun masakannya enak," tuturnya. 

Djauhar Arifin menambahkan, pengelola homestay juga bisa memanfaatkan masakan Nusantara untuk dijadikan daya tarik. Yang menginap akan merasa betah bila aneka masakan Nusantara disajikan silih berganti. 

"Apabila kita kedatangan wisatawan dari luar daerah atau luar negeri, tetap sajikan masakan Nusantara. Tapi tetap sisipkan makanan yang umum ada di daerah-daerah lain. Ini akan membuat tamu yang datang punya pilihan sesuai seleranya," paparnya. 

Menpar Arief Yahya menyebut, apabila ingin menjadi kelas dunia, maka masyarakat setempat juga perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah Malut sehingga dapat siap menyambut wisatawan mancanegara. Dirinya mengapresiasi kerjasama antara Kemenpar, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara untuk mencetak SDM profesional bagi pengembangan potensi pariwisata di Maluku Utara.

“Representasi Pentahelix (ABGCM), Akademisi, Bisnis, Government, Community, dan Media harus dipakai untuk memajukan pariwisata,” ujar pria asal Banyuwangi ini.

Mantan Dirut Telkom ini juga mengatakan, sejak bertugas  di PT Telkom dia  komitmen membangun investasi SDM. “Sangat penting untuk win the future customers (memuaskan konsumen di masa mendatang). Karena itu sekolah perguruan tinggi pariwisata sudah sangat relevan,” kata Menpar Arief Yahya.(*)