SPORTOURISM.ID, YOGYAKARTA - Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), pengembangan kawasan Borobudur terus dilakukan Kementerian Pariwisata. Pengembangan juga dilakukan di daerah penunjang, Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar). Pengembangannya dilakukan Badan Otorita Borobudur (BOB).

Menurut Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan BOB Bisma Jatmika, kehadiran BOB bukan saja mendatangkan dampak positif bagi Candi Borobudur. Kehadiran BOB akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan kawasan pariwisata Joglosemar. Kawasan ini membentang dari selatan DIY sampai Karimun Jawa.

''Kawasan yang akan kita kembangkan memang ada di Kabupaten Purworejo, tetapi berbatasan langsung dengan Magelang dan wilayah DIY yakni Kulon Progo,'' kata Bisma di Kantor BOB, Kotabaru, Yogyakarta, Jumat (14/12).

BOB dibentuk berdasarkan Perpres RI Nomor 46 Tahun 2017 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Borobudur dan Permen Pariwisata Nomor 10 Tahun 2017. Badan ini memiliki 2 tugas utama, yaitu otoritatif dan koordinatif. Zona otoritatif mencakup kawasan seluas 309 hektare di Kabupaten Purworejo. 

Sedangkan zona koordinatif meliputi 3 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Terdiri dari DPN Borobudur-Yogyakarta dan sekitarnya, DPN Solo-Sangiran dan sekitarnya serta DPN Semarang-Karimun Jawa dan sekitarnya.

Langkah yang sudah dilakukan saat ini menurut Bisma, antara lain menyiapkan destinasi wisata baru di Purworejo, tepatnya di kawasan perbukitan Menoreh. Destinasi wisata ini menggunakan konsep culture & adventure eco-tourism menampilkan daya tarik budaya dan alam serta pengembangan destinasi wisata bernuansa alami, sehat, dan ramah lingkungan. Destinasi ini akan menjadi alternatif kawasan pariwisata bertaraf internasional dengan akomodasi glamorous camping, eco resort, fine dinning restaurant, dan MICE.

“Nature karena kondisi alamnya dataran tinggi. Kita harus mendesain sejalan dengan pelestarian lingkungan. Kemudian kalau kita bicara culture, kita bicara bagaimana budaya Jawa bisa kita representasikan baik di situ,'' katanya.

Bisma mencontohkan, salah satu unsur budaya yang akan diangkat yakni tipologi bangunan yang terlihat ada identitas Jawanya. Hubungan antara zona desa otorita dengan desa wisata menurut Bisma juga akan menjadi representasi budaya dan memperhatikan sisi adventure.

Dipastikan, perkembangan kawasan otorita tidak akan mengganggu desa sekitar. Karena, BOB ingin melestarikan budaya Indonesia. Dengan cara itu wisatawan dapat belajar banyak hal mengenai kekayaan alam dan kebudayaan Indonesia.

“Desa adalah representasi dari budaya Jawa. Mulai dari kegiatan membuat makanan sampai bertani, itu merupakan atraksi budaya unggulan yang ingin kita tampilkan,'' katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya yakin percepatan pengembangan kawasan Borobudur akan semakin lancar. Hingga saat ini berbagai program pengembang dibawah komando BOB terus dilakukan. Dengan itu tidak akan terjadi tumpang tindih kebijakan bahkan sampai level terbawah.

"Rulenya jelas. Batasan-batasannya jelas. Masing-masing punya kewenangan tersendiri, baik itu BOB, pemerintah Provinsi Jateng atau pun pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Bahkan semua bersinergi dengan baik," ungkapnya.

Arief Yahya menambahkan, pembentukan Badan Otorita, juga Kawasan Ekonomi Khusus, akan mengurangi birokrasi berbelit. Sehingga investor akan semakin mudah dalam menanamkan modalnya di sektor kepariwisataan.

“Karena, ada one stop service, atau pelayanan satu atap. Jadi, investor tidak akan dipingpong dari satu dinas ke dinas lain,” pungkasnya.