SPORTOURISM - Menteri Pariwisata Arief Yahya terus mendorong program Visit Wonderful Indonesia (ViWI) 2018. Terbaru, sebanyak 250 paket di 18 Destinasi siap dijual.Paket tersebut dilengkapi dengan diskon yang mencapai 40 persen. Paket tersebut ditargetkan bisa mendatangkan 15 persen wisatawan mancanegara (wisman), dari target 17 juta di tahun 2018.

“Program ViWI ini tentunya akan menarik wisman ke Indonesia. Orang akan bergerak saat diskonnya diatas 20 persen. Kapan kita menjual? saat barangnya tidak laku, mereka cukup membayar 60 persen,” ujar Arief Yahya. Hal tersebut disampaikan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Let’s Go Hot Deals Visit Wonderful Indonesia (ViWI) 2018 Program Quick Wins. Kegiatan tersebut dilajsanakan di Hotel RedTop Jakarta, Selasa (17/4).

Menpar Arief mencontohkan program Hot Deals di Kepulauan Riau (Kepri). Di sana, program Hot Deals menggabungkan diskon transportasi laut dengan atraksi. Kapal Ferry yang biasanya dikenakan biaya 49 SGD, didiskon menjadi 20 SGD atau setara diskon 60 persen. Lalu atraksi golf yang biasa 85 SGD didiskon menjadi 58 SGD atau setara diskon 30 persen. Jika ditotal, maka diskonnya mencapai 40 persen.

“Hot Deals itu diterapakan dengan konsep sharing economy. Yaitu menjual barang atau jasa yang tidak laku (excess capacity) dengan memberikan diskon yang besar,” ujarnya.

Pria asal Banyuwangi itu menjelaskan, setiap barang atau jasa selalu memiliki batas waktu ketika tidak laku. Hal ini sudah terjadi di bisnis telekomunikasi karena affordable. Telekomunikasi adalah platform untuk sharing ekonomi. Hal itu juga yang terjadi juga di tourism.

“Kami sedang melakukannya. Mending dijual murah (kekosongan slot) daripada tidak laku sama sekali. Ketika barangnya affordable, maka demand-nya akan banyak. Supply Creates Demand,” jelasnya.

“Hotel-hotel di Jakarta yang kosong ketika weekend, atau ketika bulan puasa, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan promosi dan pemberian diskon bagi pasar-pasar yang tidak sensitif dengan puasa. Misalnya, pasar Australia atau yang non Asia,” tambah Menpar Arief.

Dijelaskan Menpar, tahun 2018 Kemenpar memiliki 3 program utama. Yaitu Insentive Airlines, Hot Deals, dan Competing Destination Model (CDM).

Menpar tak lupa menerangkan soal CDM. Menurutnya, CDM adalah teknologi baru untuk merancang konten iklan. Tentu saja yang relevan dengan perilaku dari masing-masing segmen travellers.

“Ini teknologi baru dan ini saya bayangkan. Kami harus punya digital marketing platform, sehingga kita bisa tau, orang yang sedang ‘look’ berapa orang. Kemudian orang yang ‘look’ lalu menjadi search berapa. Serta yang menjadi pay berapa. Akan tetapi saat orang sedang look atau seacrh kita tidak bisa mempengaruhi. Dan sekarang ada platform yang bisa mempengaruhi yaitu CDM,” ujarnya.

Menurutnya, ketika orang sedang mencari destinasi tertentu maka akan muncul pop up untuk mempengaruhi untuk memilih destinasi tersebut. “Saya kasih contoh, disaat traveler sedang mencari destinasi selam terbaik di dunia. Maka dengan dengan sendirinya akan muncul Raja Ampat Indonesia, bukan Maldives,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Tim Pelaksana ViWI 2018 Hariyadi BS Sukamdani, menjelaskan jika ViWI sudah siap dijual dengan mengakses website indonesia.travel.

Hariyadi sangat optimis bisa mencapai target yang diberikan. Terlebih, kunjungan wisatawan di Jakarta ditargetkan bisa menyamai Bali.

“Kami optimis sekali. Karena hal ini (profram hot deals) tidak pernah ada yang mengerjakan. Padahal banyak yang bisa dikerjakan dan potensial. Caranya? Kita harus membuat atraksi yang lebih menarik. Contohnya nantinya kita akan dengan Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Setiap hari sabtu siang ada pertunjukan yang di subsidi dulu oleh pemda di Gedung Kesenian Jakarta, Kalo dia sudah proposional valuenya baru dilepas,” ujar Haryadi.

Haryadi mengatakan ada 18 pilihan destinasi unggulan dalam paket pariwisata yang ditawarkan. Antara lain Medan atau Danau Toba, Batam, Belitung, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Borobudur, Solo, Surabaya-Bromo-Tengger, Banyuwangi, Balikpapan, Bali, Lombok, Makassar atau Wakatobi, Manado, dan Raja Ampat. “Destinasi yang kita pilih itu dianggap sudah mencakup 3A, accessibility, amenities, dan attraction,” kata Haryadi