SPORTOURISM – 2006 pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, Twelvi sadar hidup tidak murah hidup di ibukota. Sebagai mahasiswi Psikologi, Twelvi harus bolak balik Kalimalang – depok. Berbekal Rp. 1.450.000 per bulan dari orang untuk bertahan hidup.

Uang bekal dari orang tua di rinci sedemikian rupa agar cukup selama sebulan. Kost petakan di daerah Kalimalang per bulan membayar 450 ribu rupiah, ongkos, pulsa serta hiburan dianggarkan 400 ribu rupiah, keperluan kuliah 200 ribu rupiah dan untuk keperluan makan 400 ribu rupiah. 

Lulus kuliah 2011, Twelvi lantas mendapatkan pekerja. Seketika melepaskan diri dari uang pemberian orang tua dengan gaji 2,7 juta rupiah perbulan. Lalu Twelvi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, gaji pun ikut membaik, dari 2,7 juta jadi 3,2 juta kemudian menjadi 3,5 juta.

Pertengahan 2013 gaji Twelvi sekitar empat juta rupiah. Dengan pola manajemen keuangan yang sama, satu tahun menabung Twelvi mampu traveling dengan modal enam juta rupiah.

Destinasi solo traveling pertama Twelvi adalah Bangkok, Thailand. Harga tiket PP naik Tiger Air ketika itu 1,8 juta. Untuk hotel 4 malam 2 juta, sisanya untuk makan dan belanja. Tapi saat itu saya belum sadar, bahwa Masak Sendiri adalah rahasia Twelvi. Karena pada saat itu Twelvi berpikir hanya beruntung saja bisa pergi traveling.

Kemudian, karir Twelvi terus membaik dengan keuangan membaik pula. Twelvi sempat terlena di akhir 2013 sampai awal 2015, bisa dihitung berapa kali Twelvi memasak dalam satu bulan. Twelvi lebih sering beli makan di luar dan nongkrong di mall sama temen. Twelvi bisa mengahabiskan empat sampai delapan juta sebulan hanya untuk biaya makan minum.

Suatu hari Twelvi merasa tertampar, gaji makin besar tapi tidak memiliki tabungan. Hampir 2 tahun tidak melakukan traveling, berbeda ketika dulu hidup jauh lebih berat tetapi masih bisa traveling. 

Ternyata yang salah adalah perspektif. Twelvi lupa bahwa makanan memegang peranan penting, tidak hanya buat kesehatan tubuh, akan tetapi untuk ketenangan batin dan keuangan.

Bila Sahabat Sporto berujar “Saya nggak punya waktu”, itu adalah kebohongan terbesar yang kita katakan pada diri kita sendiri. Twelvi bekerja setiap hari mulai jam sembilan sampai jam enam, kadang jam delapan bahkan sepuluh malam.

Twelvi nyaris bekerja setiap hari Sabtu, bahkan Minggu juga, karena ada event kantor yang harus di-handle. I don’t have time, I make time. Kalau ada mimpi besar di depan, yang lain akan menjadi tidak penting.

Rasa cinta pada mimpi masa kecil,  kemudian mengalahkan rasa bangga akan hidup foya-foya. Awal 2015, Twelvi memutuskan untuk berkomitmen. Mengubah gaya hidup, mengubah pola makan agar lebih sehat, dan mengubah manajemen keuangan demi mewujudkan impian masa kecil. 

Twelvi kembali memasak sendiri dan memilih untuk meal prep. Teknik menyiapkan makanan untuk beberapa hari sekaligus. Diawali dengan belanja bahan makanan dalam jumlah besar, lalu masak dalam jumlah besar. Tujuan utama Meal Prep adalah menghemat uang, menghemat waktu, dan supaya bisa makan lebih sehat.

Dengan memasak sendiri, Twelvi mampu menghemat empat sampai delapan juta rupiah perbulan. Sejauh ini, sudah menabung biaya traveling hingga total lebih dari 150 juta Rupiah.

Hasil komitmen terealisasi pada tahun 2015, Twelvi bisa melakukan traveling bersama keluarga. Singapura, Korea, Philipina, Kuala Lumpur, Jepang, United Kingdom, Taiwan, New York dan pada 2018 ini akan traveling ke Paris

Twelvi patur berbangga, semua itu di beli dengan tunai, tanpa berhutang. 29 bulan terakhir ini tidak hanya bisa menabung, Twelvi juga bisa menyiapkan makanan yang jauh lebih sehat.  

(Sumber foto : http://twelvifebrina.com/wp-content/uploads/2017/07/20170709130937_IMG_8240-1170x600.jpg )