SPORTOURISM – Nordwand atau North Face, sebuah sisi tebing Pegunungan Alpen yang paling berbahaya. Di era Adolf Hitler, Jerman pernah mengirim dua pendaki terbaiknya, Toni Kurz dan Andreas Hintertoisser untuk menaklukkan North Face bersama 8 pendaki lainnya. Dalam tiga hari, seluruh pendaki tewas, termasuk Hintertoisser yang terseret badai serta Kurz yang meninggal terakhir karena hipotermia.

Konon misi pendakian yang terjadi pada 1936 itu merupakan upaya simbolis Jerman mengukuhkan supremasi di Eropa. Pendakian itu diliput banyak surat kabar, tetapi Tuhan berkehendak lain. Peristiwa itu untuk kemudian dikenal sebagai Eiger North Face Disaster.

81 tahun kemudian, tepatnya 16 November 2015 seorang pendaki berusia 39 tahun, Ueli Steck menaklukkan jalur Heckmair (1938) setinggi 1800 meter. Steck membukukan waktu 2 jam 22 menit sekaligus menggeser rekor dunia yang ia torehkan sendiri pada 2007.

Steck lahir dan berdarah asli Swiss, pendakiannya menaklukkan North Face seperti membuktikan “anak kampung” lah yang paling berkuasa atas salah satu dinding paling prestisius di dunia. Rekornya menjadi buah bibir, dan sesungguhnya Steck merupakan pendaki paling ambisius. Ia tak berhenti menciptakan rekor sebelum tergelincir tak jauh dari Kamp II Pegunungan Himalaya.

Kecelakaan yang diperkirakan terjadi Minggu (30/4) pagi itu merenggut nyawa Steck. Tetapi ia telah dikenang sebagai raja gunung se-dunia. Satu regu penyelamat yang terdiri dari 6 pendaki langsung melakukan pencarian dan berhasil menemukan jasadnya masih di hari yang sama. Steck kemudian segera diterbangkan ke Tribhuvan University Teaching Hospital untuk diotopsi.

Pendakian berujung ajal ini bukan tanpa maksud. Steck berulang kali mengutarakan keinginannya untuk menaklukkan jalur Nuptse yang dirintis Tom Hornbein dan Willi Unsoeld. Kedua pendaki itu melakukan misi American Expeditions pada 1963 sekaligus membuka jalur perawan, sayangnya gagal karena kehabisan tabung oksigen. Rute Nuptse pun hingga hari ini belum terselesaikan.

“Saya rasa itu (Nuptse) mungkin ditaklukkan, tapi saya tidak tahu. Jalur ini sangat menantang, saya tergoda menyelesaikannya, terutama karena belum ada pendaki yang melakukan itu,” ujar Steck melalui website personalnya.

Awal April 2017 Steck mengunggah video Youtube saat mengukur jarak pendakian melalui Nuptse. Sekaliber Steck, mendaki tentu bukan main-main dan sekadar mendapat foto Instagram yang bagus. Maka ketika ia yakin, segalanya telah diperhitungkan secara matang.

Tetapi ada yang menarik dari kesaksian Maurizio Folini, pilot helikopter tim SAR yang menemukan jasad Steck. Folini mengatakan langit sudah tampak mendung saat Steck bersama seorang rekannya, Tenji Sherpa memulai misi. Steck bisa saja tergelincir, tetapi cuaca yang tidak kondusif dapat mengaburkan pandangan, temperatur yang kian dingin atau menyebabkan hal-hal buruk lainnya.

Tenji saat peristiwa tersebut berada di Kamp II lantaran cedera tangan. Ia sangat terpukul atas maut yang menimpa rekannya. “Ini adalah kehilangan besar bagi pendakian gunung di manapun berada,” ujarnya.

Kemampuan Mesin Swiss, julukan Steck telah teruji sejak belia. Di usia 18 tahun dia berhasil menaklukkan North Face, Bonatti Pillar, dan Mont Blanc massif. Pada 2005 Majalah Climb menempatkannya sebagai pendaki Alpen terbaik di Eropa. Penobatan itu semakin terbukti ketika Steck pada 2015 merampungkan 82 Summit Project, yaitu menaklukkan seluruh puncak Alpen yang berketinggian 4.000 meter lebih dalam 62 hari saja.

Di Himalaya, Steck mengalami kesulitan. Ia hampir saja tamat pada 2007, sebuah batu besar menimpanya manakala mantan tukang kayu ini sedang berusaha mencapai Annapurna (8091 meter), Himalaya. Perjuangannya kali itu kandas, tetapi pada 2013 Steck justru sampai ke Annapurna seorang diri.

Steve House, seorang pendaki AS yang juga terkemuka mengenang Steck sebagai pendaki terbaik. Steve sudah mengenal Steck selama 15 tahun dan berterima kasih atas apa yang telah dilakukan sahabatnya itu.

Menurut Steve, kebanyakan pendaki memasuki masa kejayaan di usia 30-40 tahun. Tidak mudah menjadi spesial di usia muda, sebab seorang pendaki harus terampil menggunakan alat sekaligus memupuk pengalaman. Namun bagi Steve, Steck adalah pendaki yang alami. Ia menyebut Steck adalah sosok yang memiliki etos kerja tinggi.

“Apa yang dilakukannya bukan tentang keajaiban, bukan soal kecepatan dan rekor, tetapi apa dan bagaimana ia melakukannya di Himalaya? Orang-orang tidak tahu hal itu,” ujarnya.

Steck meninggal dunia dengan segudang rekor mengagumkan dan meninggalkan The Royal Treks Expedition, perusahaan tempatnya bekerja sebagai pemandu pendakian senior. Seperti layaknya mesin, ada saja waktu ketika pada akhirnya ia berhenti bekerja.

related posts