SPORTOURISM - Bersepeda, salah satu aktivitas olahraga yang santai dan tidak begitu memberatkan. Biasanya, bersepeda dilakukan oleh orang-orang yang asih segar dan kuat kakinya. Tapi, apa jadinya jika seorang pria setengah abad mengayuh sepeda dari Bandung menuju Banda Aceh?

Pria tangguh berusia 48 tahun adalah salah satu warga Bandung. Asli Supriyadi namanya. Pada Rabu, (22/11) pria yang akrab disapa Kang Anom ini bertekad kuat ingin mengunjungi Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Karena Kang Anom berkeinginan kuat menunaikan shalat di tempat Masjid Baiturrahman.

Niat ibadah, membuat Kang Anom merasa ringan dan tak gentar terus mengayuh sepedanya menuju Kota Serambi Mekah. Meski dirinya sadar, usianya tidak muda lagi. Impian dan niat tulus Kang Anom membuat semuanya menjadi mudah.

Baginya, melalui perjalan ini merupakan salah satu rasa kagum dan syukur kepada Allah. Sekaligus, sebuah upaya untuk mempertebal keimanan dengan cara menjelajahi kekayaan alam hasil ciptaan-Nya.

Kang Anom memulai perjalanannya dari KM Nol Bandung di Jalan Asia Afrika, atau tepatnya di depan Kantor Dinas Binamarga Provinsi Jawa Barat. Kepergian Kang Anom dilepas teman-teman dari komunitas sepeda dan sesama alumni sekolahnya dulu, SMAN 15 Bandung angkatan 88.

Sekitar 3.200 kilometer jarak tempuh akan dilalui Kang Anom. Diperkirakan, menghabiskan waktu satu bulan untuk sampai di Banda Aceh. Rutenya, melalui beberapa tempat wisata di Sumatera. Seperti Pantai Barat Sumatera, dari Bakauheni, Lampung, menuju Bengkulu, kemudian melewati jalur Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Dalam perjalanan, Kang Anom membawa bekal sekadarnya, mulai dari pakaian hingga makanan. Berat barang bawaan Kang Anom sekitar 22 kg.

Sebelum berangkat, tentunya Kang Anom mempersiapkan segala sesuatu terlebih dahulu. Mulai memodifikasi sepeda, berlatih keras di daerahnya, serta menguji sejauh mana kemampuan saat bersepeda. Bukan hanya sekadar mengayuh, Kang Anom pun memberi beban pada sepedanya sebagai latihan supaya lebih kuat.

Perjalanan yang sangat bermakna ini telah diniatkannya sebagai ibadah. Karena di akhir tujuan, dirinya ingin sesegera mungkin melaksanakan shalat di masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada 1022 H/1612 M ini. Dan dia pun berharap, supaya diberi kelancaran dalam perjalanan religinya ini.