Serangkaian langkah konkret memerangi bentuk diskriminasi dan mempromosikan keberagaman dalam sepakbola bakal dilakukan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) saat gelaran Piala Duni Russia yang akan berlangsung Juni ini.

FIFA telah menyiapkan sistem pengawasan anti diskriminasi khusus pada semua pertandingan. Bahkan, jika wasit tidak bisa menghentikan diskriminasi saat pertandingan dapat diberhentikan.

Sekretaris Jenderal FIFA, Fatma Samoura mengharapkan, suasananya ramah dan bersahabat hadir dalam gelaran Piala Dunia Rusia. Ajang ini harus jado pertemuan luar biasa dan beragam pecinta sepak bola dari seluruh dunia."FIFA memiliki pendekatan toleransi nol terhadap diskriminasi dan ini adalah sesuatu yang mereka anggap sangat serius," katanya.

FIFA telah melakukan simulasi dan penerapan anti diskriminasi selama kualifikasi 2018 Rusia dan Piala Konfederasi FIFA dengan bekerjasama dengan Fare Network yang merupakan sebuah organisasi dengan rekam jejak panjang memerangi diskriminasi dalam sepakbola.

"Kami memiliki sistem untuk bereaksi dan sanksi terhadap tindakan diskriminatif serta langkah-langkah untuk memastikan lingkungan bebas diskriminasi di Piala Dunia FIFA," katanya.

Nantinya, dalam Piala Dunia Rusia, pengamat pertandingan akan memantau perilaku penggemar dari kedua tim. Pengamat dibekali pemahamaan memahami bahasa dan dilatih tentang budaya penggemar. Selain itu, pengamat akan berhubungan langsung dengan petugas keselamatan dan keamanan stadion dan memfasilitasi penyelidikan terhadap badan disiplin FIFA melalui penyediaan bukti jika terjadi insiden diskriminatif.

Wasit di lapangan pun, dapat melakukan intervensi jika diperlukan. Wasit memiliki kewenangan untuk menghentikan pertandingan terlebih dahulu dan meminta pengumuman publik yang meminta agar perilaku diskriminatif berhenti, untuk menangguhkan pertandingan sampai perilaku berhenti mengikuti pengumuman peringatan lainnya.

Jika jika perilaku itu masih berlanjut, wasit bisa memutuskan untuk meninggalkan pertandingan. "Kami memiliki sistem pemantauan yang kuat," kata FIFA Head of Sustainability dan Keanekaragaman, Federico Addiechi.