JAKARTA – Kehadiran Wonderful Indonesia di World Travel Market (WTM) London mampu menarik perhatian dunia internasional. Buktinya, CNN melakukan wawancara dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam wawancara itu, Menpar memaparkan pertumbuhan pariwisata Indonesia.

Menteri asal Banyuwangi itu mengatakan, brand Wonderful Indonesia milik Kementerian Pariwisata makin kuat. Semakin mengakar. Buktinya, World Travel and Tourism Council (WTTC) menempatkan pertumbuhan pariwisata Indonesia di peringkat 9.

“Peringkat dari WTTC turut mendongkrak National Brand Indonesia di level dunia. Brand equity Indonesia hampir USD 1 Triliun. Dan pariwisata tampil sebagai penyumbang utama devisa, selain Trade dan Investment,” tuturnya, Senin (5/11).

Namun, penghargaan dari WTTC bukan satu-satunya indikasi meningkatnya pariwisata Indonesia. Indikasi lainnya, adalah keberhasilan Wonderful Indonesia menempati peringkat 42 dunia versi WEF World Economic Forum, di TRavel and Tourism Competitiveness Index.

Tidak itu saja, Indonesia masuk dalam daftar the fastest growing tourism industry. Oleh The Telegraph UK, pariwisata Indonesia ditempatkan di peringkat 20 besar.

“Tapi ada juga yang membuat bangga. Tahun 2016 Wonderful Indonesia mendapatkan 46 international awards, dari 22 negara. Tahun 2017, jumlah penghargaan bertambah menjadi 27 awards dari 13 negara. Sedangkan Tahun 2018, 30 awards dari 8 negara,” paparnya.

Semakin tingginya reputasi Wonderful Indonesia, berdampak sangat signifikan. Khususnya terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Datanya pun tidak terbantahkan. Tahun 2014, Indonesia dikunjungi 9.3 juta wisman.

Jumlah ini meningkat tahun 2015, dengan 10,4 juta. Sementara tahun 2016, tercatat 12 juta wisatawan berkunjung ke Indonesia. Jumlah ini kembali meningkat tahun 2017 dengan 14 juta. Diperkirakan 2018 julah itu akan menjadi 16.5 juta.

Bagaimana pariwisata Indonesia bisa sesukses itu. Dapat melesat dengan cepat. Menpar membeberkan rahasianya.

“Kuncinya, Digital Marketing dengan platform yang sudah Look, Book, Pay. Lalu menggunakan teknologi CDM, diperkuat dengan Digital Media, Google, Baidu, Trip Advisor, Ctrip, dan lainnya,” terang mantan Dirut PT Telkom itu.

Tapi tentu itu bukan satu-satunya strategi pemasaran yang ditempuh. Kemepar juga meluncurkan Hot Deals, More For Less. Program ini sukses di Kepri (Batam-Bintan), dan sedang diterapkan di Jakarta dan Bali.

“Yang juga tidak kalah penting adalah Deregulasi, policy kemudahan untuk masuk ke Indonesia. Dengan Visa Free untuk 169 negara, ditambah pencabutan CAIT untuk Yachts, dan Cabotage untuk Criuse, wisman semakin banyak datang. Karena, kapal pesiar bisa embarkasi dan disembarkasi di pelabuhan utama di Indonesia,” ungkapnya.

Apa yang sudah diraih pariwisata Indonesia, tidak membuat Kementerian Pariwisata puas. Sejumlah langkah sudah disiapkan. Termasuk pengembangan destinasi sebagai produk wisata.

“Kita meluncurkan 10 Bali Baru, 10 Destinasi Prioritas, dan menempatkan 4 super prioritas. Yang kita pilih menjadi destinasi super prioritas adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo,” katanya.

Untuk mendukung destinasi-destinasi prioritas itu, Kementerian Pariwisata juga fokus pada pengembangan akses. Hal ini dibuktikan dengan makin banyak bandara yang naik kelas menjadi international airport, seperti Silangit Danau Toba, dan Belitung. Kemenpar juga menginisiasi dan membangun LCT (Low Cost Terminal) di Soekarno Hatta.

“Yang terbaru, kita menyasar Millenials Market, dengan destinasi Nomadic Tourism. Indonesia sedang dibangun menjadi surganya Nomadic Tourism, yang menjadi impian anak-anak millenials. Produk Amenitasnya: Glamcamp, Caravan, Homepod. Produk aksesnya: Helicity, Life a board,” paparnya.

Arief Yahya menilai hal yang sangat penting adalah kebijakan Presiden Jokowi menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas. Kebijakan yang dilakukan selama 4 tahun terakhir.

“Dukungan Presiden Jokowi sangat nyata. Buktinya, beliau berkali-kali datang ke destinasi-destinasi dan event pariwisata. Hal ini menjadi dukungan nyata yang direspons positif wisatawan,” paparnya.(*)