MALANG – Indonesia sepertinya layak menjadi pusat karnaval. Sebab, banyak sekali karnaval keren di Tanah Air. Salah satunya yang akan berlangsung di Malang, Jawa Timur, 16 September nanti. Yaitu Malang Flower Carnival (MFC) 2018.

Event ini akan diikuti ratusan peserta. Mereka siap memberi suguhan karnaval kelas dunia. Warna-warni bunga, akan mereka tuangkan dalam beragam bentuk dan desain. Dijamin jadi tontonan yang unik dan menarik.

"Saya senang karena MFC cukup mengakomodir budaya-budaya lokal Indonesia dan lebih menggali lagi kekhasan daerah Malang dan lainnya. Ke depan untuk akomodasi kegiatan pengunjung ke Malang ini harus dipersiapkan secara matang. Dan terus dijaga kualitasnya dari para pesertanya," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta, Jumat (31/8).

Ajang MFC merupakan sebuah pemanasan sebelum mengikuti event tingkat internasional. Para peserta karnaval dibagi dalam dua kategori, yakni kategori anak dan dewasa.

Dengan kostum atau busana yang berdimensi besar, mereka melenggang di ruas Jalan Ijen yang pada saat acara berlangsung akan menjadi semacam catwalk. Sekitar 75 persen busana peserta harus berornamen bunga, dan material lainnya terbuat dari bahan-bahan daur ulang.

"Event-nya dijamin keren. Kostum MFC itu sudah kita kelilingkan di berbagai travel mart, festival, dan show di berbagai penjuru dunia. Dan selalu menjadi ajang selfie dan perhatian khusus pengunjung booth Wonderful Indonesia," ujar Arief Yahya,

Waktu tempuh ke Malang dari Jakarta pun tak lama. Malang bisa dicapai sekitar 1 jam 25 menit via udara. “Silakan datang ke Malang. Kalau dari Jakarta bisa direct terbang ke Malang,” ucap Arief.

Kemasan acara Malang Flower Carnival dijamin bagus. Jalan Ijen yang merupakan salah satu ikon Kota Malang, akan dibuat berbunga oleh ratusan desainer dan pelajar. Keindahan dan keelokan bunga akan diselaraskan ke dalam bentuk kostum pakaian yang keren.

“Gelaran tahunan ini dikemas secara atraktif. Selain diikutkan dalam parade yang indah dan megah, busana dan gerakan tarian para peserta juga dilombakan. Tentu saja kriteria penilaian didasarkan pada keunikan dan keindahannya. Pemenang dari tahun-tahun sebelumnya tidak diperbolehkan mengikuti lomba lagi, tapi diperbolehkan berpartisipasi dalam parade grand show,” ujar Ketua Pelaksana Top 100 Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty.

Peserta tidak hanya berasal dari Malang, tapi juga dari daerah-daerah lain di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Jember, Kediri, Nganjuk, Probolinggo, Surabaya, dan beberapa kota lainnya. Jumlah peserta meningkat pada beberapa tahun belakangan.

Pada 2016, MFC dimeriahkan 115 peserta, dan pada 2017 meningkat menjadi 214 peserta. Diperkirakan pada tahun 2018 ini, yang merupakan penyelenggaraan yang kesepuluh, jumlah peserta akan meningkat seiring kian gencarnya promosi yang telah dilakukan.

Ada pula pertunjukan budaya yang dipersembahka…
[17:17, 9/14/2018] Hermawan: Ingin Tahu Semarang Tempo Doeloe ? Datang Aja ke Festival Kota Lama 2018

JAKARTA – Sudah pernah ke Semarang? Meski terus membangun layaknya kota besar, Ibukota Provinsi Jawa Tengah itu tidak pernah melupakan sisi tradisional. Nah kalau kalian ingin tahu seperti apa Semarang tempo doeloe, ada baiknya berkunjung ke kawasan Kota Lama, 20-23 September nanti.

Kenapa harus datang? Karena di saat itu digelar Festival Kota Lama. Momennya sangat matching dengan pecinta heritage. Apalagi, pada abad 19-20 Kota Lama adalah pusat perdagangan.

Untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka di kawasan itu dibangun benteng Vijhoek. Di dalam benteng, ada jalur yang mempercepat perhubungan antar ketiga pintu gerbang. Jalan utamanya dinamai Heeren Straat atau sekarang lebih dikenal dengan nama Jl. Letjen Soeprapto.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga mendapat julukan "Little Netherland".

Di Festival Kota Lama, Kita akan dibawa ke suasana yang benar-benar lawas. Selawas lagu Jangkrik Genggong yang liriknya benar-benar membuat kita terkenang ke masa lali. “Semarang Kaline Banjir ja sumelang ra dipikir”. Begitulah kira-kira salah satu penghalan liriknya yang sangat tenar.

"Tahun 2015 lalu Kota Lama Semarang masuk dalam list tentatif World Heritage UNESCO, jadi semuanya harus terus disiapkan menjadi destinasi Internasional. Adanya festival ini semakin mempopulerkan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah," ujar Plt Deputi Pengembangan Pemasaran 1 Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani di Jakarta, Rabu (12/8).

Salah satu festival terbesar di Semarang itu, akan mengangkat tema "Collaboration in Diversity". Wisatawan bersama masyarakat Semarang diajak bersenang-senang sambil mengangkat Kota yang terkenal dengan sebutan kota Atlas. Kota yang multikultural. Disamping itu, Semarang adalah kota tempat merawat kenangan.

“Hal Itu dibuktikan dengan banyaknya bangunan kuno yang masih berdiri dan terawat hingga kini. Contoh lainnya, di Kota Atlas ini wisatawan dapat menemukan penjual jajanan lawas nan legendaris yang sudah bertahan hingga 3 sampai 4 generasi. Artinya sudah berlangsung antara 80 hingga 100 tahun,” ujar Ni Wayan Giri Adnyani.

Tanggapan Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II Kementerian Pariwisata Sumarni, juga nyaris sama. Baginya, Festival Kota Lama menjadi sebuah cawan. Eventnya mengarah kangen kenangan, bukan sekedar kangen-kangenan.

Akan ada banyak hal yang bisa membangkitkan kenangan selama festival berlangsung. Tidak hanya untuk yang sudah berumur, namun juga dapat dinikmati untuk remaja milenial hingga anak-anak.

“Festival Kota Lama 2018 akan menjadi ruang persahabatan. Karena, Semarang menjadi mealting pot seluruh kebudayaan. Mulai dari Tionghoa, Arab, Melayu, hingga Belanda. Ini diharapkan menjadi kegiatan berskala internasional dengan bekerjasama dengan beberapa pihak mancanegara. Untuk mengobati ruang rindu masyarakat pada Semarang tempo dulu," ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Area I Kementerian Pariwisata Wawan Gunawan menambahkan, Festival yang sudah 7 kali digelar ini akan dilaksanakan pada pukul 16.00 hingga 22.00 WIB setiap harinya, kecuali di hari Minggu yang dimulai lebih awal pukul 12.00 WIB.

Serangkaian acara dapat dinikmati. Seperti Pameran Kangenan, yang memampang kekhasan Semarang disertai informasi menarik. Juga beragam atraksi menghibur, dan pernak pernik yang meleburkan sejarah dan kebudayaan. Seperti tari tradisional, fashion show batik semarangan terkini.

Ada juga Pasar Sentiling yang berisi aneka kuliner legendaris seperti jamu jun, lumpia, ganjelrel, dan masih banyak lagi. Kuliner lumpia asal Semarang juga akan tampil. Tidak tanggung-tanggung, akan ada stand Bonlancung. Yaitu kampung pembuatan kulit lumpia terbesar yang ada di Indonesia.

Para wisatawan dijamin tidak bakal kesepian. Akan ada performa musik jazz dari Nial Djuliarso dan Tohpati yang siap menghibur Anda. Di samping itu Anda dapat menjelajah Kota Lama dengan segala romantismenya. Juga terdapat penyelenggaraan Temu Pusaka Indonesia yang bekerja sama dengan BPPI dan Pekan Film Semarang bersama dengan Sineroom.

Menteri Pariwisata Arief Yahya ikut bicara soal Festival Kota Lama 2018. Dia mengaku sangat senang lantaran Semarang mulai rajin membuat even kreatif yang bisa mendatangkan banyak wisatawan.
“Ini bagus sekali. Kota Lama Semarang sudah masuk radar UNESCO karena daerahnya yang berpotensi menjadi Warisan Dunia. Lewat even-even kreatif seperti ini, mata dunia akan terus mengarah pada Semarang," ujar Arief.(*)