SPORTOURISM – Menyambut tahun baru, saya awali dengan traveling ke Bali. Tanggal 31 Desember 2016. Pukul 13.40 WITA saya sampai di Bali, perjalanan di udara sekitar satu jam 45 menit dari Bandung. Berdua dengan temanku, kita berencana menghabiskan momen tahun baru di Pulau Dewata hingga lima hari ke depan. Ini kali kedua saya pergi ke tujuan pariwisata nomor satu di Indonesia dan kali pertama untuk temanku ini, tidak memiliki banyak cerita menyenangkan saat pertama kali ke Bali karena saat itu dengan rombongan SMA, study tour dan juga perjalanan darat yang sangat melelahkan. Maka kali ini saya berniat untuk menjelajah Bali, sebenarnya kita memiliki beberapa tujuan tempat, tapi tidak kami buat secara detail dan tiket pulang belum kami beli, halte tersebut sengaja kami lakukan agar perjalanan kami lebih spontan.

Dari Bandara Ngurah Rai menuju hotel di daerah seminyak menggunakan taksi online, sebelumnya kita mampir dulu untuk mengisi perut kami di RM nasi pedas Ibu Andika. Setelah menyantap habis nasi pedas dan sesampainya di hotel kita bersiap untuk catching sunset di La Plancha Beach Bar di antara Double Six Beach dan Seminyak Beach.

Berawal dari hanya mau melihat sunset, kami memutuskan menghabiskan malam tahun baru di sini. Mengobrol, mengamati orang, menyantap sea food dan meneguk wine telah kami lakukan. Tak terasa waktu sudah jam 11 dan air laut sudah naik, ada beberapa seat bag sudah terbawa ombak saking ramainya pengunjung sehingga kurang terkontrol oleh pelayan. Saya memutuskan untuk membeli beberapa minuman sebelum jam dua belas, sayangnya mesin debit kalaitutidakbisadigunakan, kita ke bar sebelah dan bertemu pasangan chinese yang sangat friendly, laki-lakinya Chinese Singapura dan perempuannya Chinese Malaysia, Obrolan singkat tapi hangat pun berakhir, saya memutuskan kembali ke bar sebelumnya, karena musiknya lebih saya suka. Sempat hujan sebentar lalu reda pas detik-detik pergantian tahun. Segala macam kembang api dipersiapkan hingga akhirnya siap diluncurkan menandakan saatnya counting down 10,9,8,7,6,5,4....3,2,1 HAPPY NEW YEAR!! Ombak dan suara kembang api bersahut-sahutan, pemandangan langit dibanjiri percikan api dan pemandangan laut, momen yang sangat tidak ternilai menyambut awal tahun, selamat datang 2017.

Bangun jam 12, lalu saya bergegas ke Pelabuhan Sanur untuk menyebrang ke Nusa Penida. Pulau ini lebih besar dari Gili Trawangan, antara satu pantai dengan pantai lainnya. Dan luar biasanya memiliki karakteristik pantai yang berbeda-beda, saat saya ke sana saya mengunjungi 5 pantai berbeda.

Pertama Pantai Atuh yang memiliki pemandangan super indah. Dari atas bukit yang menuju pantai ini melewati jalan kecil dengan berbeda pemandangan. Pantai kedua yang saya kunjungi yaitu Pantai Pulau Seribu. Banyak tebing seperti pulau-pulau jika dilihat dari tebing yang sangat memukau.

 Pantai selanjutnya saya kunjungi keesokan harinya yaitu Broken Beach. Di pantai yang ada tebing dan tengahnya terbelah seperti terowongan, makanya disebut Broken Beach. Banyak ikan pari di sana, sayangnya saya dating saat pasang. Keempat Angels Billabong yang  merupakan bidadarinya Nusa Penida. Kata Billabong yang diambil dari Bahasa Inggris yang berarti “ujung dari sebuah sungai yang buntu” bukan merek Billabong. Dan terakhir Crystal Bay. Biasanya di sini digunakan untuk snorkeling.

Mengejar kapal jam 3 sore kami tiba di Pelabuhan Sanur jam 4 sore dan menunggu motor sewaan diantar, sambal menunggu kami membeli tiket pulang dengan harga lumayan  setelah kami hitung hari kami akan pulang pada hari keenam. Kira-kira jam 6 sore motor kami dating dan langsung melaju ke Ubud yang akan kami habiskan selama dua malam. Pada malam pertama kami pergi ke Reggae Bar. Setiap saya berlibur ke pantai, reggae bar adalah tempat favorit saya. Keesokannya saya ke Monkey Forrest, saya sangat suka dengan monyet. Sebelum saya ke Monkey Forrest dan sebelum tragedy monyet menggigit saya di Monkey Forrest.

Lalu saya ke Tirta Empul, mandi air suci, orang Hindu mempercayai keinginan kita akan terwujud jika kita meminta dan mandi di air ini, menghilangkan mimpi buruk dan kesialan, keberuntungan dll. Mandi air ini menggunakan kain yang di sewa, airnya dingin, dan wisata budaya ini sangat menarik ditambah kita bias melihat upacara adat di puranya. Dari sana kami ke Pasar Ubud untuk berbelanja lalu kembali ke hotel. Keesokannya  kami pergi ke Museum  Blanco, pelukis keturunan Spanyol dan Amerika yang menikah dengan pribumi, ia banyak melukis fisik perempuan. Banyak lukisannya yang mendapat penghargaan. Setelah Antonio Blanco meninggal, bakat melukisnya turun pada anaknya, Mario Blanco yang sekarang mengurus museum tersebut.

Keesokan harinya saya check out dan menitip barang ke resepsionis. Pergi menonton bioskop di Denpasar, lalu beli oleh-oleh menghabiskan waktu ke salah satu kafe terkenal di daerah Seminyak dan bertemu kawan. Hari terakhir yang santai namun tetap menyenangkan menutup hari saya di Bali, dan hamper saya ketinggalan pesawat yang membuat saya harus memotong antrean check in di Bandara. Pantas saja orang jatuh cinta pada destinasi mainstream yang tak pernah habisnya membuat cerita yang selalu menyenangkan untuk diceritakan, orang bilang what happens in Bali stay in Bali, menurut saya what happens in Bali stay forever.

 

Marinda Nur Solihin

Facebook: Marinda Nur Solihin

Twitter: @marindans

Instagram: @marindans

related posts