SPORTOURISM - Kehidupan mahasiswa tak melulu hanya ruang kelas, ruang dosen, warung makan, dan toko fotokopi. Sekali waktu pergi ke tempat bebas “beban pikiran” perlu dilakukan. Bali mungkin salah satu destinasi yang direkomendasikan untuk melepas “beban pikiran” karena di sana begitu banyak pesona yang menawarkan kebahagiaan.

Beberapa bulan lalu, saya sengaja mengunjungi Bali bersama teman satu jurusan, untuk kegiatan akademik dengan rasa wisata. Kegiatan ini memang diikuti dengan beragam agenda, yang mampu merelaksasi pikiran dari deretan tugas yang membayangi tiap saat.

Bali memiliki banyak tujuan wisata terbaik. Berbagai karakter tempat wisata selalu mempunyai daya tariknya masing-masing. Sebut saja pesona sejarah dan budaya, di Bali ada sebuah monumen bernama Monumen Bajra Sandhi Renon, monumen yang dibangun untuk mendedikasikan perjuangan rakyat Bali dahulu kala.

Monumen Bali

Monumen ini  berhasil mengajak saya mengenang perjuangan rakyat Bali di masa lampau, ketika membangun dan memerdekakan Bali dari berbagai unsur penjajahan. Ornamen budaya Bali begitu kental saya rasakan, dari mulai patung, arsitektur bangunan, hiasan dinding, semuanya membuat saya terpukau dengan kemolekannya yang sarat makna.

Saking terpukaunya, sering kali saya berhenti sejenak saat berkeliling monumen hanya untuk mengabadikan diri saya dalam jepretan kamera ponsel. Hingga ketika saya berada di lantai paling atas Monumen Bajra Sandhi Renon, saya dapat melihat pemandangan kota Denpasar sejauh mata memandang.

Di samping pesona sejarah dan budaya, Bali juga memiliki destinasi wisata rekreasi dengan rindang pepohonan dan sejuknya udara alam yang dapat kita jumpai di Kebun Raya Bali. Terdapat berbagai jenis bunga dan tumbuhan di Kebun Raya Bali yang siap memanjakan mata dan menjadi spot foto yang bagus.

Hal lain yang semakin membuat saya terpukau adalah adanya berbagai patung berukuran raksasa yang menjadi kepercayaan sebagian besar masyarakat Bali yang membuat kebun ini semakin menarik. Tempat ini menjadi solusi efektif untuk lari sejenak dari kepenatan dan keriuhan kota yang sibuk dengan berbagai bising kendaraan yang berlalu lalang.

Destinasi lain yang wajib saya kunjungi adalah pantai. Mengapa pantai? Karena keistimewaan wisata Bali terletak di sana. Bahkan, banyak bilang “Jangan ngaku pernah ke Bali, kalau belum ke pantai.” Kalimat provokatif tersebut yang akhirnya membawa saya berkunjung ke pantai. Pantai Pandawa menjadi pilihan.

Pantai Pandawa

Kebetulan saat saya tiba di Pantai Pandawa tepat di saat matahari berada di atas kepala. Tidak ada pilihan lain selain menceburkan diri ke laut, sambil menikmati segarnya air laut yang jernih, juga bersuka cita bersama teman-teman saya di atas kano, yang kami sewa oleh seorang ibu yang menawarkannya kepada kami. Kebahagiaan semakin bertambah, ketika tahu ternyata penyewaan kano tersebut tanpa durasi waktu alias sepuasnya.

Seperti tiada puasnya, seusai bersenang-senang di Pantai Pandawa, destinasi perjalanan selanjutnya adalah Pantai Jimbaran. Memang tidak lama waktu yang saya habiskan di Pantai Jimbaran, hanya untuk memakan panganan seafood, serta menikmati hamparan ombak dan sunset yang romantis dengan iringan tarian dan musik khas Bali. Damainya angin sore menambah rasa takjub terhadap pulau ini. Keramahan orang-orang di sana menambah rasa cinta saya terhadap Bali.  

Pantai Jimbaran

Langit mulai gelap. Mentari telah menyembunyikan sinarnya dan berganti terang rembulan. Jingga senja telah berlalu. Pertanda ini adalah detik-detik saya menutup perjalanan saya pada hari itu. Hari yang mengisi album-album kenangan di hidup saya dengan keindahan dan kenyamanan. Saya berharap suatu saat nanti saya dapat kembali mengunjungi Pulau Bali, pulau sejuta pesona.

 

Nama Penulis            : Aziz Darmanto

Facebook                  : Aziz Darmanto

Instagram                 : @azizdarmanto

Twitter                     : @azizdarmanto