SPORTOURISM – Satu hal yang membuat saya penasaran dari kelas 6 SD hingga sekarang adalah merasakan suasana planetarium. Dulu, setiap Minggu orangtua saya seringkali mengajak berkeliling museum, tidak terkecuali planetarium.

Sayangnya, setiap kali kami sampai di sana entah kalau tiketnya habis, ya planetarium tutup, atau renovasi. Maklum, saat itu belum ada internet dan media sosial di mana kita bisa melihat dan menanyakan langsung situasi dan keadaan terkini di sebuah tempat wisata.

Saat mengunjungi Kota Yogyakarta, saya diberitahu bahwa terdapat planetarium di sana, tepatnya di Taman Pintar yang hanya beberapa meter dari Benteng Vredeburg di sekitar kawasan Jalan Malioboro. Tanpa membuang waktu saya segera pergi ke sana.

Planetarium Taman Pintar

Sayangnya, ketika saya tiba sudah melewati batas pemutaran terakhir dan mau tidak mau harus kembali 2 hari setelahnya, karena besok merupakan hari Senin dan wahana ini tutup. Hari Selasa, dengan penuh semangat saya pun langsung membeli tiket pertama pemutaran film di Planetarium Taman Pintar Yogyakarta.

Tiket dapat dibeli di loket pembelian tiket seharga Rp 22 ribu. Tiket tersebut kemudian akan discan ketika memasuki ruangan pemutaran film. Tidak ada pengunjung lain ketika itu, sepertinya saya terlalu pagi dalam memilih jadwal pemutaran film.

Bahkan nomor kursi saya pun menunjukan angka 1, yang mungkin menandakan bahwa saya merupakan pengunjung pertama di planetarium tersebut pada hari itu. “Silakan masuk, bangku nomor satu ya. Nanti kalau bangku lainnya kosong bisa pindah kok,” ujar petugas.

Planetarium Taman Pintar

Dengan senyuman hangat pengawas planetarium, saya pun memasuki ruangan pemutaran film. Firasat saya mengatakan bahwa pada saat itu tidak mungkin ada pengunjung lain yang akan datang. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, ternyata benar dugaan saya sebelumnya.

Film dimulai, pintu ditutup dan lampu mulai digelapkan. Oke, sebenarnya saya sedikit takut ketika ruangan mulai gelap. Bagaimana kalau di tengah pertunjukan ada yang membisiki? Huiiii…. Nyatanya ketika layar menunjukkan pemandangan malam Kota Yogyakarta pada malam sebelum pemutaran.

Saya pun menjadi takjub sendiri, dan mungkin sedikit menyesal. Sepertinya akan lebih indah jika datang satu hari setelah fenomena super blue blood moon, siapa tahu bisa melihat fenomena tersebut secara lebih jelas dan dekat.

Planetarium Taman Pintar

Selanjutnya, diceritakan juga proses terjadinya tata surya dan segala isinya seperti bulan, bintang, planet, meteor, dan lain-lain. Diceritakan juga mengenai rasi bintang dan fenomena di mana musnahnya dinosaurus akibat terjadinya benturan antara bumi dan benda luar.

Kegiatan mencari rasi bintang cukup menyenangkan, dan cukup membuat leher pegal karena harus memutar leher untuk mencari rasi bintang saya di antara rasi bintang lainnya. Sampai akhir sih tetap tidak ketemu, mungkin saya kurang ahli dalam melihat rasi bintang.

“Selamat pagi, hari mulai terang, artinya sudah semalam kita bersama,”. Mendengar kalimat tersebut, sungguh rasanya memang satu malam tercepat yang pernah saya rasakan selama hidup hahaha. Sedikit menggelitik, namun sangat terhibur dengan satu kalimat tersebut.

Pertunjukan dilanjutkan dengan dua film lainnya yang menceritakan tentang pendaratan manusia di bulan dan astronomi. Sesungguhnya, dapat memotivasi anak-anak untuk bercita-cita menjadi astronot, dan dengan berakhirnya kedua film tersebut, berakhir pula perjalanan saya melihat bintang di pagi itu.

Terlepas dari ketakutan sebelumnya, keluar ruangan dapat dilakukan secara cepat karena hanya saya yang ada di ruangan itu. Tidak perlu berdesak-desakan, dan hal yang paling menyenangkan adalah tidak ada hal-hal kecil menyebalkan.

Misalnya saja seperti, tendangan dari pengunjung di belakang, penggunaan alat telekomunikasi dan kamera di tengah pertunjukan, seperti ketika saya menonton pertunjukan pada saat penuh pengunjung. Tidak salahnya mencoba hal baru bukan?

Penulis: Emmaculata Gryta Anjani

IG : @emaculanja

FB : Emmaculata Gryta Anjani