SPORTOURISM – Berbicara tentang tanah Sunda, memang tidak pernah ada habisnya, dan tak lepas dari pesona wisatanya, terutama di Bandung. Kota yang terkenal dengan keindahan alam dan tata kotanya ini, menyajikan berbagai macam pilihan destinasi wisata. Mulai dari pegunungan, pemandian air panas, wisata berkuda, hingga wisata kuliner.

 

Bagi wisatawan luar daerah yang ingin melakukan kunjungan wisata ke Bandung, lebih baik menyiapkan list destinasi dari jauh hari dengan sekedar mencari-cari informasi di internet atau majalah, sebab ada banyak sekali tempat wisata pilihan yang dapat anda sambangi. Saking banyaknya, ada beberapa tempat wisata yang hampir mirip, alias sejenis. Meskipun terkesan sejenis, tapi setiap destinasi wisata tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing.

 

Beberapa contoh destinasi wisata yang mirip adalah, Dusun Bambu dengan Floating Market Lembang, kedua tempat wisata tersebut bisa dikatakan sejenis, karena segmentasinya sama-sama keluarga, ataupun grup besar seperti study tour. Dengan menawarkan wisata kuliner dari berbagai macam makanan khas Sunda, maupun makanan dari daerah-daerah lain di Indonesia. Perbedaan dari keduanya adalah, Floating Market Lembang menawarkan konsep yang menyerupai pasar apung Muara Kuin di Banjarmasin. Sedangkan Dusun Bambu memberikan konsep yang berbeda, terbilang baru dan sangat unik di Indonesia, yakni sensasi makan di dalam sebuah sangkar besar yang menyerupai sangkar burung.

 

Contoh lain adalah wisata Gunung Tangkuban Perahu dengan Kawah Putih. Lagi-lagi, kedua destinasi ini merupakan tempat wisata yang hampir sejenis, karena sama-sama menyajikan view yang berfokus pada gunung dan juga kawahnya. Akan tetapi diantara kedua destinasi wisata ini memiliki karakteristik yang lumayan kontras.

 

Di Gunung Tangkuban Perahu kita dapat melihat pemandangan tiga kawah utama yang masih aktif, yaitu Kawah Ratu, Kawah Domas, dan Kawah Upas, kita dapat melihat kawah yang masih terlihat jelas mengepulkan uap panas ini dari jalan setapak yang dibuat di sekitar kawah Gunung Tangkuban Perahu. Nah, yang membuat Kawah Putih berbeda dengan Gunung Tangkuban Perahu adalah, jika di Gunung Tangkuban Perahu kita dihimbau untuk tidak turun kedalam kawah di Gunung Tangkuban Perahu, di Kawah Putih ini kita diajak berwisata di kawah gunung itu sendiri! Ya, kita bebas berkeliaran di kawah dari gunung Patuha tersebut.

 

Mengapa kita boleh berkeliaran di sebuah kawah gunung? Karena, pada dasarnya Kawah Putih adalah sebuah danau yang terbentuk dari letusan gunung Patuha. Letusan gunung Patuha membuat tanah di danau Kawah Putih menjadi bercampur dengan belerang, sehingga permukaan tanahnya berwarna putih. Airnya sendiri, jika dilihat secara sekilas berwarna putih kehijauan, dan tentu saja, kawah ini memiliki keunikan, yaitu warna airnya kadang berubah warna menjadi putih kebiru-biruan.

 

Karena keunikan dari Kawah Putih ini lah teman sekolah saya semasa SMP tertarik untuk menyambangi lokasi wisata ini. Valin namanya, jauh hari sebelum dia datang ke Bandung, dia memberi kabar pada saya, bahwa dia ingin diajak jalan-jalan keliling kota Bandung dan sekitarnya yang sekiranya menarik untuk dikunjungi.

 

Pilihan pertama dan utamanya adalah Kawah Putih ini. Alasannya karena dia penasaran sejak SD, dulu dia pernah nonton salah satu film Indonesia yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Irwansyah, yang salah satu scene-nya mengambil setting di Kawah Putih ini. Dia begitu penasarannya dengan lokasi shooting film itu, apakah benar seromantis yang digambarkan oleh film itu? Untuk menjawab pertanyaannya selama ini, tentu saja tidak cukup hanya dengan melihat di film atau sekedar di foto, dia harus melihatnya secara langsung.

 

Malam menunjukkan pukul sembilan. Valin meminta saya untuk menjemputnya di stasiun Kiaracondong pukul 10 malam. Pesannya adalah, tolong membawa teman yang juga membawa motor, karena ternyata dia tidak sendirian. Dia bersama seorang teman, yang juga teman SMA saya, namun ketika Valin menyebutkan namanya, yaitu Fatma, saya tidak mengenali namanya sama sekali. Mungkin karena kelasnya berbeda dan dia jarang keluar dari kelasnya.

 

Sesampainya di Bandung, Valin memberikan saya sebuah list yang sudah dia buat sejak dirinya masih berada di Surabaya. Di dalam list tersebut hanya bertuliskan;

  1. Kawah Putih,
  2. Wisata kuliner dalam kota Bandung,
  3. Tempat nongkrong eksis di Bandung.

 

Melihat list yang dia berikan ada dua hal yang terpatri di benak saya, yang pertama saya bingung harus membawanya kemana (atas dasar hal ini lah saya menyarankan anda untuk membuat list yang mendetail dulu sebelum berwisata di Bandung), dan benak saya yang kedua adalah, anak ini pasti benar-benar penasaran akan Kawah Putih.

 

Saya dan teman saya kemudian mengantarkan Valin dan Fatma menuju rumah tantenya Valin, mereka menumpang menginap di rumah tante Valin. Valin pun memberikan alamat, dan alamatnya tidak asing, ternyata alamat rumah tante Valin tidak jauh dari kampus saya. Sesampainya dirumah tante Valin, kami disambut tante dan om Valin, disuguhi kopi dan beberapa gorengan. Kami pun ngobrol membicarakan planning untuk besok. Namun karena Valin sudah memberikan list, dan dia terlalu malas untuk mencari-cari di internet, akhirnya semua tugas destinasi dilimpahkan ke saya. Dengan bingung saya pun menuruti kemauannya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, sudah saatnya saya pulang, saya pun pamit dan mengatakan akan datang ke rumah tantenya lagi pagi-pagi sekitar pukul 8.

 

Berbekal list yang diberikan Valin, terang saja keesokan paginya saya langsung mengajak Valin ke Kawah Putih. Menyembuhkan rasa penasarannya adalah hal yang saya prioritaskan. Saya, Valin, dan Fatma berangkat dari Bandung pada pukul 9 pagi, untuk menghindari macet yang sangat keterlaluan, kami berangkat tidak terlalu pagi, juga tidak terlalu siang. Jarak perjalanan dari Bandung menuju Kawah Putih sebenarnya tidak terlalu jauh, bila dilihat di Google Maps, jaraknya sekitar 50 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Akan tetapi, apabila kondisi jalanan macet, waktu tempuh bisa mencapai 5-6 jam. Tak jarang pula orang-orang memutar balik mobilnya, karena terkadang kita bisa menunggu 5 jam stuck tanpa bisa berjalan sedikitpun. Untunglah pada hari dimana kami melakukan perjalanan, tidak begitu sering mendapati macet di jalan. Kala itu, Valin menyewa sebuah mobil besertakan supirnya, jadi kami tinggal duduk manis menanti sampai sambal ngobrol-ngobrol, ngemil, dan tidur.

 

Di sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidur, karena cuaca yang sangat mendukung, sedikit mendung dan dingin pada waktu itu. Sedangkan Valin dan Fatma asik melihat-lihat suasana kota Bandung, sampai pada akhirnya memasuki daerah kabupaten Bandung. Begitu melewati Soreang, udara semakin dingin saja rasanya. Tapi karena celotehan kedua teman saya tersebut, saya terbangun dari tidur saya dan ikut nimbrung dengan obrolan mereka. Supir kami pun ikut nimbrung di pembicaraan kami, padahal kami menggunakan Bahasa Sulawesi dalam obrolan kami bertiga.

 

Meskipun tak terlalu banyak bicara, supir kami sering menjawab pertanyaan-pertanyaan kami mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Jawa Barat. Mulai dari bahasanya, makanan khasnya, hingga kebiasaan-kebiasaan adat masyarakatnya, yang meskipun terlihat telah hilang dimakan zaman, tapi ternyata masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadatnya, contoh kecil warga di sekitaran Kawah Putih masih rutin melakukan ritual dan mengadakan acara spiritual adat sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta. Bahkan yang lebih menggembirakan lagi, Perum Perhutani turut membantu mengangkat kearifan lokal dan potensi obyek wisata Kawah Putih dengan mengadakan agenda rutin tahunan bertajuk Festival Kawah Putih. Festival ini mengangkat berbagai potensi yang ada di sekitar Kawah Putih, mulai dari seni, budaya, hingga destinasi wisata lain yang letaknya tak begitu jauh dari Obyek wisata Kawah Putih itu sendiri. Agenda yang dikemas dengan konsep yang kekinian, diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengunjung ke obyek wisata Kawah Putih, dan juga obyek wisata lain yang berdekatan dengan Kawah Putih.

 

Sayang sekali Festival Kawah Putih tersebut hanya sekedar obrolan di pagi hari itu, karena festival tersebut hanya diadakan satu tahun sekali, dan sudah lewat dua bulan ketika kami pergi mengunjungi Kawah Putih hari itu. Kulihat Valin sedikit kecewa juga karena dia datang tidak di saat festival tersebut berlangsung, namun dia terlihat lebih banyak bersyukur, karena dia tidak ingin pengalaman pertamanya pergi ke Kawah Putih yang telah didambakannya sejak SD, hanya memberikan kesan “lautan manusia”.

 

Di sela-sela obrolan kami, tanpa terasa akhirnya mobil kami memasuki daerah jalan khas pegunungan, yakni berkelok-kelok dan banyak pohon-pohon yang membuat suasana makin rindang. Melihat pepohonan itu membuat Valin ingin menghirup udara segar, dia pun meminta pada supir kami untuk mematikan air conditioner mobil kami, lalu meminta semua ornag untuk membuka kaca mobil. Tak selang berapa lama kami menikmati udara segar, lewat mini bus menyalip kendaraan kami dengan mengeluarkan asap hitam yang tebal. Saat itu pula kami sadar bahwa mustahil menikmati udara segar di jalan, seketika pula pula kami menutup kembali jendela kami masing-masing dan menyalakan kembali air conditioner mobil kami.

 

Mobil kami akhirnya memasuki kawasan obyek wisata Kawah Putih. Lahan parkirnya lumayan luas, kami tidak perlu mengantri ataupun berebutan untuk mendapatkan tempat parkir. Terlihat banyak bus-bus yang terparkir, yang menandakan banyaknya rombongan parawisatawan yang datang. Tapi tidak apa lah, batin saya. Keramaian ini lah yang memberi pemasukan bagi pengelola obyek wisata Kawah Putih, dan juga warga-warga sekitar yang berjualan makanan dan minuman di sekitaran Kawah Putih.

 

Kami pun bergegas turun dari mobil kami. Begitu membuka pintu, udara yang dingin langsung berhembusan di wajah kami. Bahkan Fatma sampai mengambil jaket dari dalam tasnya. Berdasarkan informasi yang dia terima udara di Kawah Putih memang dingin, bahkan di siang hari sekalipun. Persiapan yang bagus, batin saya.

 

Kemudian kami pun langsung berjalan menuju loket tempat pembelian tiket, cukup murah menurut saya. Satu tiket untuk satu orang diberikan tarif Rp. 20.000, bagi yang membawa mobil, bisa tambah Rp. 15.000. Kami pun membeli tiga tiket dan tiket untuk parkir mobil, totalnya Rp. 75.000. Tiket seharga Rp. 20.000 tersebut sudah termasuk angkutan yang akan membawa kita menuju lereng Kawah Putih nanti. Kita harus menaiki angkutan tersebut untuk naik menuju ke lereng, karena kita tidak diperkenankan membawa mobil menuju ke atas sana, mungkin karena dulunya banyak yang memarkir mobil mereka secara sembarangan di atas sehingga menimbulkan kemacetan. Dan menggunakan angkutan yang telah mereka siapkan merupakan solusi yang baik, lebih teratur.

 

Angkutan yang tersedia cukup banyak, kita tidak perlu menunggu lama untuk dapat naik ke angkutan tersebut, hanya sekitar 5 menit. Jarak yang ditempuh dari loket hingga lereng Kawah Putih sekitar dua sampai tiga kilometer. Di sinilah kita dapat menikmati udara segar, karena angkutan yang tersedia didesain terbuka. Udara yang dingin serta pepohonan yang rimbun membuat suasana benar-benar segar.

 

Sesampainya diatas, kita sudah bisa melihat pemandangan kawah yang benar-benar indah dan jarang ditemui dimanapun. Terlihat gunung yang mengelilingi sebuah lereng, dan terlihat pula kawah yang airnya berwarna biru, dengan dikelilingi hamparan pasir putih, yang membuat hati semakin mendayu.

 

Diantara kesegaran udara, ada tercium sedikit bau belerang, yang bagi beberapa orang baunya sungguh menyengat. Dianjurkan menggunakan masker bagi yang merasa bau belerangnya sangat menyengat. Akan tetapi bagi saya sendiri, bau belerangnya memang menyengat, tetapi sama sekali tidak mengganggu indra penciuman saya. Justru yang saya rasakan hanyalah udara yang segar, sama seperti sebelum mencapai tepian Kawah Putih ini.

 

Untuk dapat mencapai kawahnya, kita perlu berjalan menuruni anak tangga yang telah disediakan oleh pengelola, tangganya benar-benar masif dan aman. Sudah ada pegangannya, tangganya di semen dengan baik dan rapi. Pengelolaan obyek wisata dan kebersihannya benar-benar terjaga, oleh karena itu kita sebagai pengunjung juga harus mengerti bahwa kebersihan tercipta bukan hanya dari pihak pengelola, tapi atas kesadaran diri masing-masing juga untuk tetap membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan, dan itu cukup banyak, seharusnya kita tidak terlalu malas untuk menjangkau tempat sampah terdekat.

 

Setelah berjalan sekitar 200 meter, sampailah kita di tempat yang kita dambakan. Sesampainya di Kawah Putih tersebut, kesan pertama yang muncul di benak saya adalah kesan mistis. Kenapa mistis? Karena dibalik keindahannya, di Kawah Putih terdapat banyak sekali pohon-pohon yang daun-daunnya telah berguguran. Seakan berada di planet lain seperti yang digambarkan di film-film science fiction yang beredar di bioskop. Bagaimana tidak? Keindahan paduan warna biru kawah, pasir putih, bau belerang, dan pohon yang berdiri tegak menyisakan ranting itu sungguh kombinasi yang luar biasa. Bahkan ada beberapa cerita warga yang mengatakan bahwa dulu hampir tidak ada kehidupan di kawasan sekitaran Kawah Putih.

 

Bahkan burung-burung yang beterbangan diatasnya banyak yang jatuh dan mati terkapar di tanah pasir putih Kawah Putih tersebut. Analoginya mungkin karena dulunya intensitas belerangnya terlalu banyak sehingga burung-burung yang jatuh mati tersebut kekurangan oksigen ketika melewati Kawah Putih. Tapi, itu hanya asumsi pribadi saya belaka, sedangkan penjelasan ilmiahnya saya pun tidak begitu mengerti. Atau mungkin cerita itu hanyalah legenda belaka?

 

Terlepas dari kemistisan yang saya lihat, pesona Kawah Putih benar-benar membuat Valin dan Fatma tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera mereka. Berbagai macam gaya dan spot untuk foto dijabani oleh mereka. Saya pun lebih fokus memotret pemandangan disana. Banyak hal yang menarik di mata saya dan mata lensa saya. Tentu saja mulai dari Kawah Putihnya itu sendiri, pohon-pohon tanpa daun, hingga batu-batu besar yang terlihat berserakan di sekitaran kawah. Batu-batu itu membuat saya berfikir, apabila batu sebesar dan dan hampir setinggi manusia ini terlontar dimuntahkan oleh letusan gunung pada saat terbentuknya Kawah Putih, lantas bagaimana besar letusan gunungnya pada saat itu?

 

Waktu pun silih berjalan, kami sampai di Kawah Putih sekitar pukul 11 siang, dan waktu di jam saya saat itu menunjukkan pukul satu siang. Tak terasa memang waktu bila kita melihat sesuatu yang indah-indah. Matahari terasa lebih dekat dengan kepala saya waktu itu. Tapi anehnya saya sama sekali tidak merasakan sengatan mataharinya. Yang saya rasakan hanya udara dingin yang menyentuh kulit saya. Matahari yang bersinar terang terkadang tertutup dengan awan-awan tebal yang juga terasa sangat dekat dengan kepala. Awannya terlihat berlalu dengan sangat cepat, mungkin karena saya sedang di ketinggian yang lumayan, sehingga awannya terasa lewat lebih cepat dari biasanya.

 

Rasa lapar pun melanda, kami pun harus segera menunaikan ibadah solat dzuhur. Kami pun duduk istirahat sejenak sebelum kembali menaiki anak tangga yang tadi kami lewati. Ketika kami duduk, perlahan-lahan kami menemukan sesuati yang menarik. Kawah yang tadinya berwarna biru muda, perlahan-lahan menjadi kehijau-hijauan. Mungkin hijau tosca, mungkin juga hijau tortoise. Kami pun memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Peristiwa ini lah yang seharusnya kami tunggu, tapi terlupa karena kami sebenarnya sudah puas dengan melihat Kawah Putihnya. Dengan adanya peristiwa ini, jadinya sempurna! Saya pun memutuskan untuk memasang tripod saya yang sedari tadi belum saya gunakan, dan saya pun membuat timelapse. 

 

Puas melihat pemandangan dan juga mendapatkan moment-nya di kamera saya, kami pun memutuskan kembali ke atas dengan menyusuri anak tangga yang kami lewati tadi. Naik ke atas ternyata memang lebih berat, padahal tidak terlalu jauh, tidak terlalu banyak anak tangga, tidak terlalu tinggi pula. Tapi memang pada dasarnya kami bertiga jarang berolahraga jadi rasa ngos-ngosan pun datang. Di tengah jalan di anak tangga tersebut kami menemui jalan kecil menuju ke hutan, hutan ini benar-benar rindang, daun-daunnya hijau, berbeda dengan pohon tanpa daun yang kami temui di Kawah Putih dibawah tadi. Tidak mau rugi, kami pun menyempatkan berfoto lagi di hutan tersebut. Tiga sampai lima foto dari kami masing-masing, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri anak tangga ke atas.

 

Akhirnya, sampailah pada anak tangga terakhir, lega rasanya. Sesampainya di atas, kami sudah ditunggu oleh angkutan yang disediakan untuk mengantar jemput wisatawan dari atas Kawah Putih menuju tempat kami memarkir mobil tadi. Masih belum puas sebenarnya, terlebih lagi kedua teman saya, Valin dan Fatma. Mereka masih ingin menetap sebentar, sekedar duduk memandangi pegunungan beserta Kawah Putihnya, sambal menikmati angin yang sepoi-sepoi, tapi apa daya, waktu kami terbatas, dan juga mobil yang kami sewa hanya sampai jam 8 malam, jadi kami harus bergegas menuju lokasi list wisata dadakan yang baru kami rencanakan setelah bertanya dengan warga lokal Kawah Putih pagi tadi.

 

Sesampainya di tempat parkir mobil, kami langsung mencari musholla. Tidak jauh dari mobil kami, saya pun meletakkan terlebih dahulu barang-barang saya di dalam mobil. Sebelum melaksanakan sholat, saya ke toilet terlebih dahulu, terletak di sebelah musholla. Toiletnya dikenakan fee Rp. 2000, sama seperti toilet-toilet umum biasanya. Lumayan bersih, dan banyak ruang toiletnya, jadi tidak perlu mengantri. Setelah lega menahan buang air kecil selama kurang lebih setengah jam, saya pun mengambil air wudhu, airnya dingin sekali, khas air pegunungan. Dengan sedikit menggigil saya pun menunaikan ibadah solat dzuhur.

 

Rasa lapar yang tadinya terlupakan, kembali menyerang seketika setelah saya solat. Saya pun menunggu kedua teman saya selesai solat, lalu kami mencari tempat makan yang enak. Ada banyak pilihan makanan di sana, mulai dari ayam goreng, nasi goreng, mie baso, Mie Yamin, hingga Lotek dan Ketoprak. Saya memesan Lotek pedas dengan segelas es teh manis. Diluar rasa pedasnya Loteknya yang luar biasa, rasa bumbu dari Loteknya sendiri tidak begitu istimewa. Masih banyak di luar sana yang jauh lebih enak dari Lotek ini, tapi dengan harga Rp. 25.000 beserta es teh manisnya, saya rasa harga itu lumayan worth it.

 

Tanpa saya sadari, Valintia dan Fatma ternyata memilih menu makanan yang sama dengan apa yang saya pilih. Terlihat Valin sedang kepedasan, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, karena pada dasarnya Valin tidak suka makanan yang terlalu pedas. Fatma pun raut wajahnya terlihat sedikit aneh ketika menyantap makanannya. Setelah saya tanya kenapa, Fatma menjawab, “sayurnya belum dimasak”. Disitu saya sedikit tertawa, saya pun berkata kepada Fatma, “Lotek memang sayur-sayurnya segar dan tidak dimasak”. Seharusnya Fatma memesan Ketoprak, dan seharusnya saya menjelaskan perbedaan antara Lotek dan Ketoprak tadinya.

 

Walaupun makanan yang kami makan kurang sesuai dengan espektasi Valin dan Fatma, realitanya mereka menghabiskan makanan mereka masing-masing. Sayang, daripada mubazir ujarnya. Padahal menurut saya mereka kelaparan. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, kami menunggu waktu solat ashar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk pergi ke Situ Patenggang, jaraknya hanya sekitar tujuh kilometer dari Kawah Putih. Menurut supir kami, waktu yang ditempuh menuju Situ Patenggang hanya sekitar 10 menit.

 

Baru sekitar satu kilometer mobil berjalan, mata kami semua terpana pada pemandangan hamparan kebun teh yang berada di sisi kanan dan kiri jalan yang kami lalui. Tanpa pikir panjang lagi, kami meminta kepada supir kami untuk menepikan mobil sebentar. Kami bertiga pun turun, tentu saja dengan kamera di tangan. Belum juga saya memotret view dari kebun teh itu, kedua teman saya ini sudah merengek minta difoto. Menuruti mereka adalah kesalahan terbesar saya, saya sampai lupa memotret pemandangan yang indah itu. Tapi biarlah, saya disini memang mendampingi mereka dan mendokumentasikan mereka.

 

 

Benar saja, belum sampai mata saya tertutup karena mengantuk, kami sudah sampai di obyek wisata Situ Patenggang. Dari tempat mobil kami parkir, Situ Patenggangnya sudah terlihat. Situ Patenggang ini adalah danau yang dikelilingi hamparan luas kebun teh, yang mana membuat danau ini sangat asri.

 

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan di Wikipedia.com, nama Situ Patenggang ini berasal dari bahasa Sunda, “pateangan-teangan”, yang artinya adalah saling mencari. Menurut informasi yang tertera di lokasi wisata Situ Patenggang, danau ini mempunyai cerita tersendiri yang mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu mendalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan "Batu Cinta".

 

Dewi Rengganis pun meminta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati yang mana kedua pulau tersebut adalah Pulau Asmara atau Pulau Sasaka. Menurut cerita ini, orang yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara, akan senantiasa mendapatkan cinta yang abadi seperti halnya Ki Santang dengan Dewi Rengganis.

 

Kebenaran cerita ini hanyalah legenda yang mengetahuinya. Saya pribadi pun tidak pernah menggantungkan kepercayaan terhadap legenda yang beredar di masyarakat. Bagi saya cerita ini merupakan sebuah retorika yang menarik dan dapat menjadi cerita seru yang dapat di bagikan ke anak-anak.

 

Ketika kami sampai, cuacanya berubah menjadi mendung, dan tak lama gerimis. Melihat cuaca mendung, saya memutuskan untuk tetap di mobil. Karena factor lelah, dan malamnya saya kurang tidur, serta cuaca yang sangat mendukung untuk tidur, saya pun menurunkan sandaran kursi saya, dan mulai menutup mata.

 

Tidak sampai setengah jam, Valin dan Fatma sudah kembali, rambut mereka terlihat sedikit basah, hujan masih belum juga berhenti. “Pemandangannya kurang bagus, karena mendung, hujan dan gelap”, namun, Valin dan Fatma tidak menunjukkan satu pun keluhan dan ekspresi kecewa. Rasa penasaran mereka telah terbayarkan di Kawah Putih siang tadi. Dengan berakhirnya perjalanan di Kawah Putih dan Situ Paenggang ini, maka berakhir pula lah perjalanan singkat kami pada hari itu. Kami sudah harus kembali ke Bandung kota sebelum jangka waktu sewa mobil kami berakhir. Kami pun harus mengisi kembali tenaga kami dengan beristirahat untuk menjalani perjalanan singkat dan dadakan kami di esok hari.

 

Penulis: Muhammad Dicka Ma’arif A

  • Twitter: @badnizzle
  • Instagram: @hairstuck
  • Facebook: @muhammaddika
  • Youtube: @muhammaddika