SPORTOURISM - “Jogja”, jika mendengar nama kota tersebut, apa yang terbayang pada benak anda? Keraton, Tugu, ataukah suasana malam nan romantis di pinggiran Malioboro? Kurasa, hampir tiap pasang mata yang pernah berkunjung di kota ini memiliki kesan tersendiri.

Entah pada adat istiadat, bangunan, ataupun budayanya. Sehingga tidak heran jika kota ini mampu menjadi magnet yang menarik perhatian sebagian besar orang untuk bersinggah, termasuk aku. Meski bukan kali pertama, tetapi lagi-lagi Jogja membuatku rindu.

Tugu Yogyakarta

Namun, ada yang sedikit berbeda dengan suasana Jogja pada saat kali terakhir aku kesana. Bukan pada bangunannya, bukan pula pada pedagang asongan ataupun pengamen jalanan dengan ritmenya. Tetapi lebih dari itu, aku merasakan suasana berbeda ditengah malam Kota Jogja yang tak pernah mati.

Baru kusadari bahwa masih tersimpan 1000 dimensi lain yang asyik untuk ditelusuri selama di Jogja. Bukan hanya dimensi sejarah ataupun filosofis, tetapi lebih dari itu, terdapat sebuah dimensi paseduluran yang sarat akan ilmu dan nuansa. Dimensi paseduluran atau biasa disebut dengan Mocopat Syafaat Yogyakarta/Maiyah diadakan rutin tiap sebulan sekali, tepatnya pada tanggal 17 dengan menghadirkan narasumber–narasumber baru, mulai dari akademisi, tokoh agama, ataupun pejabat publik.

Pada mulanya aku masih merasa asing dengan kata Mocopat Syafaat atau Maiyah itu sendiri, bahkan belum terlintas dibenakku seperti apa Kiai Kanjeng dan Cak Nun itu. Hingga suatu saat ada salah seorang kawan yang mengajakku untuk datang ke acara tersebut.

Mocopat Syafaat/Maiyah berlokasi di daerah Kasihan, Bantul dengan waktu tempuh antara 45-50 menit dari pusat Kota Jogja, itupun jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Waktu serta jarak tempuh yang lumayan jauh, rupanya tidak menyurutkan niat kawanku untuk datang. Sampai kadang berkecambuk dalam pikiranku acara seperti apa yang akan kami saksikan nanti?

Mocopat Syafaat          

Suasana malam yang dibarengi guyuran hujan, memaksaku untuk mempercepat langkah sembari mencari tempat duduk. Meski, dalam benakku masih merasa asing dengan atmosfer yang diciptakan oleh rombongan Kiai Kanjeng serta Cak Nun. Pasalnya ini adalah kali pertamaku mengikuti Mocopat Syafaat. Jarum pendek pada arlojiku menujukkan pukul 21.00 tetapi acara tak kunjung dimulai, dengan sedikit jengah aku mulai memainkan layar ponsel untuk mengusir kebosanan, hingga sentakan antusias dari kawanku mulai membuyarkan semuanya “hey.. hey.. wes mulai” ujar kawanku.

Aku kira Mocopat Syafaat ini akan menjadi hal yang membosankan, tetapi hal tersebut justru jauh dari perkiraan. Semuanya digelar dengan sangat apik, terlebih acara pembuka yang diawali oleh alunan Gamelan Kiai Kanjeng yang dilantunkan begitu magis dan bersinergi. Dengan menarasikan lagu-lagu bertema islam yang dibalut dengan gaya kekinian, mampu membuatku terpukau dan enggan beranjak. Aku mulai menikmati setiap pitutur yang diutarakan oleh Cak Nun. Pembawaan Cak Nun yang santai, tidak terkesan menggurui dan diselingi humor, acap kali menimbulkan gelak tawa diantara jamaah.

Sedikit demi sedikit, pemikiran beliau mampu membuatku memaknai kembali apa-apa yang masih terbuka untuk dimaknai, namun seringkali sudah terlalu baku dalam pemikiran masyarakat pada umumnya. Mocopat Syafaat tidak hanya mengajarkan kita menjadi pendengar yang handal, tetapi lebih dari itu, kita diajak untuk berpikir dan berolah rasa tentang permasalahan krusial yang kerap kali terjadi di jagad bernama Indonesia ini.

rombongan Kiai Kanjeng serta Cak Nun

Lakon yang diangkat pada malam ini mampu mengajarkanku dan jamaah Mocopat Syafaat lainnya bahwa hati suci belum cukup untuk menyelesaikan permasalahan, perlu ketajaman pikir, bangunan logika yang kokoh, ilmu yang mumpuni serta kepekaan akan nuansa. Mungkin inilah kenikmatan yang dirasakan dan selama ini dicari oleh orang-orang yang saat ini berada disini, batinku dalam hati.

Sekitar pukul 03.00 acara telah usai, kami memutuskan untuk pulang. Dengan perasaan baur yang masih menyelimuti, kuberanikan berkata pada kawanku.“asik ternyata acaranya, bisalah kapan-kapan kalau aku ke Jogja lagi diajak ke acara seperti ini”. Kudongakkan pandanganku kelangit, diselingi perasaan riang.

Ya, lagi lagi Jogja mampu menyuguhkan sesuatu yang berkesan untukku malam ini, tidak hanya pada romantisme kotanya, tetapi lebih pada ketenangan pemikiran yang hakiki pada batin tiap insan. Jogja, tunggu aku dilain waktu. Aku tidak sabar dengan dimensi apa lagi yang akan kau suguhkan padaku, kelak.

 

Nama   : Gading Dita Indasari

FB        : Gading Dita

Ig         : Gading_dita

Twitter  : @ditasinonasiwon

related posts