SPORTOURISM – 22 Desember mulailah perjalananku menuju Pulau Bali. Pulau seribu pura di mana pertama kalinya aku ke sana. Cuaca saat sebelum badai cempaka datang beruntung sekali waktu itu tetapi tetap saja di waktu musim hujan. Sebuah kesempatan yang tidak akan datang ke dua kali dengan mudahnya bagiku.

Kesempatan yang telah hilang saat seharusnya aku sudah ke sana saat SMP.  Siapa yang tidak akan senang bila mendengar kata ‘Bali’. Yang ada di bayanganku waktu itu adalah wewangian yang enak, bunga Kamboja khas, pantai yang indah, pegunungan yang hijau, keadaan alam yang masih asri.

Trip ku tidak sendirian. Tripku bersama teman-teman kerja ibuku. Pukul 7 pagi kami berangkat dari Klaten menaiki bus. Total semua ada 4 bus. Beruntung aku mendapat bus1 di mana fasilitas paling lengkap terdapat bantal, selimut, AC, dan tempat untuk mengecas HP di setiap kursi.

Apalagi saat malam tiba, langit-langit bus di dalam akan bercahaya kuning serta warna-warna lainnya. Seakan seperti disko di dalam. Tak lupa kita dapat request lagu sesuka hati. Terdapat banyak lagu yang diinginkan. Film juga tersedia dari biro.

Setelah hampir menempuh kurang lebih 21 jam dari Klaten akhirnya tiba di pelabuhan Ketapang sampai di sana sekitar pukul 3 pagi. Penyeberangan berlangsung selama 1 jam. Ini adalah kali pertama aku menyeberang pulau Jawa.

Selama perjalanan tidak terasa sudah sampai ke Pelabuhan Gilimanuk. Saking herannya karena aku berpikir sepertinya kapal belum berjalan. Tidak terasa sudah sampai di sana. Keluar dari kapal, di pelabuhan sudah disambut oleh anak-anak muda laki-laki yang berada di bawah pelabuhan.

Apa yang mereka lakukan di sana? Aku kira mereka adalah lumba-lumba aku pikir. Karena mereka juga mengeluarkan suara-suara. Setelah aku lihat-lihat ternyata banyak pemuda yang sedang meminta koin kepada para pengunjung.

Apabila ada yang melempar koin ke air, mereka akan berenang dan mengambil koin-koin itu. Yang aku pikirkan saat itu, pagi masih gelap dan luar biasa jika mereka bisa mencari koin di dalam air tanpa penerangan. Suatu pemandangan yang baru pertama kali aku lihat.

Perjalanan selanjutnya adalah ke Pantai Lovina. Saat sampai ke Gilimanuk fajar telah menyingsingkan sinarnya. Rencana untuk ke pantai Lovina dan melihat sunrise sepertinya harus dikubur dalam-dalam. Aku takut tidak akan melihat lumba-lumba juga.

Karena setiap perjalanan kami dari berangkat juga tidak melupakan ibadah dan istirahat sehingga dengan hati yang ikhlas harus ada pengorbanan. Perjalanan ke pantai Lovina tidaklah cepat karena membutuhkan waktu sekitar 2 jam kurang dan ditambah sopir yang nyasar.

Di sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan alam seperti perbukitan yang tinggi-tinggi dan nuansa hijau-hijau sawah, kabut, dan rumah-rumah penduduk yang membuat mata sejuk. Ini pertama kali aku melihat rumah-rumah penduduk yang notabene 80 persen beragama Hindu dengan segala pernak-pernik adatnya.

Sekitar pukul 8-an pagi sampailah ke Pantai Lovina dan teranyata bus kami adalah bus terakhir yang sampai di sana. Sudah setengah dari bus yang selesai mengejar lumba-lumba dan sebagian dari mereka sudah selesai mandi dan sedang sarapan.

Rombongan yang tersisa segera menuju ke kapal kecil tanpa atap di pagi yang cerah dan menyengat. Beruntung cuaca sedang cerah dengan langit biru. Ini pertama kali aku mengejar lumba-lumba secara langsung di laut.

Aku sangat takut pertama karena mesin yang sering mati jalan dan hanya membawa pelampung. Aku takut karena tidak bisa berenang. Sedikit demi sedikit kapal menjauh dari bibir pantai. Berharap lumba-lumba datang dan melompat ke atas air.

Setelah lama menunggu akhirnya rombongan lumba-lumba datang. Aku pikir akan kehilangan kesempatanku karena apabila sudah siang mereka malu-malu untuk menunjukkan diri mereka.  Perburuan pun dimulai.

Semua kapal selalu mengejar lumba-lumba yang selalu menghilang bila hampir dekat. Menung kejar menunggu kejar. Sayangnya laut tidak terlalu bersih karena banyak sampah kiriman di luar Bali yang mana dapat merusak keindahan laut.

Inilah yang sering di salah artikan bagi pengunjung apalagi pengunjung luar yang mendapat berita bahwa pantai Bali tidak lagi bersih padahal bukan rakyat Bali yang melakukan. Setelah selesai perburuan dan membersihkan diri.

Sarapan pagi telah menanti sembari menikmati keindahan pantai ditemani nyiur pohon kelapa. Suasana restoran di pinggir pantai sangat menyejukkan mata. Banyak terdapat lampu dari janur di sana dan turis-turis yang sedang berlibur juga.

Perjalanan selanjutnya adalah ke Bataran Bedugul. Salah satu destinasi favoritku karena suasana sejuk dengan perbukitan hijau. Nuasana seperti negeri di atas awan. Bataran Bedugul adalah dataran tertinggi kedua di Bali sehingga perjalan sangat ekstrem dengan jalan yang sangat menanjak dan kelokan tajam.

Bahkan untuk motor saja harus sangat berhati-hati. Setelah sampai rasa khawatir terbayar dengan keindahan alam Bedugul. Danau yang sangat luas dengan dikelilingi perbukitan di sekitarnya. Terdapat kapal bertema hewan untuk berkeliling berjelajah danau.

Banyak pura dan terdapat pura di atas danau tersebut. Rasanya aku ingin tinggal di sekitar sana. Kebetulan waktu itu sangat ramai karena menjelang liburan natal. Satu hari sebelum natal. Selesai dari Bedugul, di bus kami sudah terdapat Tour Guide Bali. Bli Wayan namanya. Dia adalah seorang lelaki paruh baya yang lucu.

Selama perjalanan bus diceritakan hal-hal tentang Bali. Di perjalanan menuju Denpasar, tidak lama terasa sudah menuju ke Dagadu barunya Bali. Harga di sana cukup mahal karena original tidak seperti yang di depan Dagadu terdapat Dagadu loakan. Dagadu tersebut sangat luas. Bahkan di tempat kasir terdapat bunga-bunga.

Di Bali dimana pun pasti kita akan melihat bunga-bunga seperti sesaji. Di pantai pun juga banyak. Ibuku membelikan kaos asli Bali dan aku membeli gantungan. Perjalanan pun dilanjutkan, selama perjalanan dengan ditemani oleh pak Bli sampai akhir perjalanan nanti. Di tengah jalan sempat melihat proses Ngaben di kuburan Bali. Di mana setiap kuburan pasti ada pohon beringin.

Waktu menunjukan pukul 6 sore dan hari masih terang tidak seperti di Jawa. Itu karena selisih 1 jam. Hujan kemudian mengguyur. Beruntung tidak lama karena kami harus dinner ke Pantai Jimbaran. Inilah pertama kali merasakan dinner di Pantai Jimbaran dengan ditemani deburan ombak yang tenang dan rembulan yang cerah.

Sedikit rintik tapi tak masalah. Suasana hangat berkumpul dengan keluarga dan rombongan lainnya tercipta. Ditemani alunan musik yang membuat suasana syahdu romantis. Meja-meja tersusun sejajar di atas pasir. Awkaward moment itu kursi yang diduduki sedikit ambles ke pasir. Menu dua macam ikan dan 2 sambal dengan buah semangka dan segelas air putih yang menggugah selera.

Selesai dinner kami menuju ke Ibis Style Hotel sekitar pukul 10 malam. Karena terlalu lelah tidak sempat mandi dan langsung tertidur. Suasana hotel bintang 3 yang nyaman dengan dekorasi2 ala Bali modern sangat memanjakan mata.

Esok paginya aku harus bangun pukul 5 pagi dan bersiap-siap sarapan pukul 6 pagi. Jam bekerja di Bali pukul 9 berbeda dengan Jawa pukul 8 pagi. Makanan yang disajikan alhamdulillah sangat mengenyangkan. Pagi itu dengan diguyur sedikit gerimis berangkatlah kami untuk melihat tari Barong di Gianyar.

Ini pertama kali aku melihat tari Barong secara langsung. Sayangnya aku kebagian tempat di samping yang mana kurang terlihat bila ingin menonton lebih jelas. Tapi aku masih bisa menikmati dari samping. Para penari menggunakan bahasa Sanskerta mereka yang mana kurang aku mengerti tetapi aku tetap menikmati pertunjukannya. Saat aku melihat, ternyata tidak seseram yang aku bayangkan, bahkan mereka terlihat jenaka.

Suasana semakin sendu karena mulai gerimis deras lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Benoa. Selama perjalanan ada satu tempat menarik perhatian di mana tempat itu dulunya milik Bali tetapi sudah dijual ke Christian Ronaldo pada zaman era Susilo Bambang Yudhoyono. Sayang sekali aset bangsa harus ada di tangan orang asing.

Sesampainya di Tanjung Benoa kami menuju ke Pulau Penyu dengan menaiki perahu. Untuk menuju ke Pulau Penyu berkisar seratusan ribu per orang tetapi karena terdapat tour guide akhirnya mendapatkan courting. Kami pergi ke Pulau Penyu bersama rombongan 10 orang per kapal. Sesampainya disana dikenai tarif Rp 5 ribu per orang agar bisa masuk.

Di dalam sana terdapat penangkaran penyu dan ukuran penyu yang super besar juga ada. Selain itu, terdapat binatang lain seperti ular, kelelawar, burung, dan lain-lain. Kita bisa berfoto dengan kelelawar super besar dan ular python raksasa. 

Usai dari Pulau Penyu sayang gelombang sedang tidak bersahabat disertai hujan deras. Hatiku sangat deg-degan saat itu berharap kembali dengan selamat. Apalagi hanya terdapat 3 pelampung yang tersedia. Alhasil aku basah kuyup karena air gelombang yang terbawa oleh angin.

Sesampainya di sana, karena tidak membawa baju ganti terpaksa memakai baju yang basah untuk ke destinasi selanjutnya yaitu ke pantai tetapi, kami harus mengisi perut kami dahulu ke rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Dilihat dari namanya ini adalah makanan Solo. Tapi bila dilihat dari judulnya sedikit menggelitik berbunyi ayam yang membakar orang.

Setelah itu hari sudah sore dan waktu sangat mepet dan sepertinya tidak bisa menghabiskan semua destinasi. Akhirnya salah satu destinasi dihapus yaitu Pantai Pandawa. Sayang sekali, untuk menuju ke Pantai Kuta tidak bisa dilewati oleh bus jadi kami menunggu settle.

Settle adalah kendaraan umum berwujud seperti bajaj tapi beroda empat dan panjang. Karena jalanan yang sangat padat sehingga terlalu bosan untuk menunggu karena waktu hampir habis. Selama penantian, terdapat mobil dari luar Bali yang keluar marah-marah karena padatnya jalan dan menghampiri mobil depannya.

Lalu orang lain dari mobil lain muncul dan memperingatkan orang luar Bali tersebut. Untuk saran saja bila berada di wilayah orang jangan seenaknya sendiri karena akan berhadapan dengan banyak orang asli. Saat settle tiba, kami naik dan memang harus sabar karena jalanan macet. Sesampainya di sana sudah sangat terlalu sore. Dan kami menikmati pantai Kuta hanya beberapa menit karena hujan turun tiba-tiba.

Inilah yang aku sebut marathon vacation hehe. Settle ternyata kecepatannya tidak kalah dengan bus dengan lihainya menyalip kendaraan di depan. Wussshh wusshhh.. lalu tiba ke tempat perjanjian yang telah ditentukan dan kembali menaiki bus. Cuaca sangat cerah saat itu dengan senja oranye dan ke ungu-unguan.

Setelah itu, kami mampir membeli oleh-oleh di Khrisna berupa makanan ringan, aksesoris, pakaian, dan hiasan-hiasan rumah. Lalu kami kembali ke hotel. Ini adalah malam terakhir di Bali. Sedih rasanya. Jam 10 malam tiba dan langsung beres-beres untuk packing pulang.

Esok harinya, sedih rasanya berpisah dengan Bali dan Bli Wayan. Tujuan terakhir adalah ke Tanah Lot yang memakan waktu sangat lama karena harus turun dahulu. Langit sedang tidak bersahabat saat itu. Hujan turun sedang dan aku ingin sekali ke Tanah Lot tapi karena hujan aku hanya menunggu di bus.

Sementara yang lain keluar dengan mantel, aku dan adek ku mencuri kesempatan untuk turun melihat tanah lot daripada di parkiran. Sepanjang jalan terdapat banyak ruko dengan sesaji dupa di pinggir jalan dan bunga-bunga. Aku sangat menyukai wangi itu.

Sampai ke destinasi aku tidak bisa mengajak adek  ku masuk ke dalam karena ada beberapa pantangan. Akhirnya aku meminta adek ku memfotokan aku dan tidak turun ke bawah. Setelah berlama-lama di sana akhirnya kami kembali pulang.

Penulis : Ratri Prananingrum