SPORTOURISM - Mulanya belum ada sesuatu yang terlihat unik dari desa ini saat saya kali pertama datang. Seperti halnya perkampungan zaman sekarang, beberapa rumah penduduk sudah tak lagi didirikan dari pilinan bambu atau atap rumbai daun kelapa, melainkan sudah berbentuk gedung dengan atap genting.

Layaknya perkampungan pesisir, sekeliling halaman rumah dipenuhi pasir pantai. Namun, saat tahu ada ibu-ibu yang rebahan di tumpukan pasir di teras rumah dengan santainya, saya mulai berpikir ada hal yang berbeda dengan desa ini.

Padahal, tujuan saya ke Desa Legung, Batang-Batang, kabupaten Sumenep, sebatas mencari tumpangan tempat tinggal, selama penelitian kearifan lokal di kawasan pesisir utara Sumenep, termasuk pantai Lombang yang berada tepat di depan perkampungan ini.

 

Saya ke sana bersama seorang teman asli Sumenep, tetapi dia juga baru kali pertama ke Desa Legung. Sampai akhirnya, kami bertemu seorang bapak yang mengenakan sarung yang digulung selutut dan berkemeja pendek. Sebut saja namanya Pak Ghofur. Menurutnya, tak ada penginapan khusus di kampung ini. Sebaliknya, Pak Ghofur justru mengajak saya ke rumahnya.

 

Setibanya di sana, saya terkejut melihat seisi rumah dipenuhi pasir berceceran. Ternyata orang di desa ini biasa bertamu kapan saja sambil tidur-tiduran di atas pasir di dalam rumah. Tak berselang lama, istri Pak Ghofur datang menyambut saya sembari bilang, “Selamat datang di kampung kasur pasir.”

Kasur pasir? Dua kata ini sempat memunculkan pertanyaan bagi saya, sebelum akhirnya Pak Ghofur memperlihatkan sebuah kamar tidur ukuran 3×3 meter. Tak ada kasur kapuk apalagi ranjang, yang ada hanya petak berukuran 1,5×1,5 atau 1×2 meter berisi pasir setinggi 15 cm dengan pembatas semenan batu bata.

Sekilas mirip ‘kolam pasir’ di taman bermain. Namun, petak berisi pasir itulah yang oleh masyarakat sekitar disebut kasur pasir. Menurut Pak Ghofur, kebiasaan tidur di atas pasir ini ada sejak zaman dulu dan dilakukan secara turun-temurun.

Pasir yang digunakan sebagai ‘kasur’ pun bukan sembarang pasir. Teksturnya lebih lembut, bahkan menjadi pasir terlembut yang pernah saya pegang. Rupanya, sebelum dijadikan alas tidur, pasir-pasir diayak terlebih dulu, berulang kali hingga lembut.

Keunikan lainnya, pasir yang digunakan bukan dari pasir pantai yang ada di sekeliling rumah, melainkan pasir yang diambil dari sumber air tawar yang berjarak sekitar 5km dari perkampungan mereka.

Menurut istri Pak Ghofur, sumber mata air tersebut dikeramatkan, sehingga tetap terjaga kelestariannya. Biasanya setelah diambil, pasirnya dijemur sampai kering. Kemudian, diayak berulang kali hingga lembut dan nyaman untuk tidur.

Selain itu, Bu Ghofur juga menyampaikan, alasan lain kenapa mesti jauh-jauh mengambil pasir dari sumber mata air, karena pasirnya tidak lengket di kulit. Kenyatannya, saat saya pegang memang pasir lembut tersebut tak ada satu pun yang menempel. Mungkin karena mineralnya lebih sedikit dibandingkan pasir pantai.

Sekalipun hampir ditiduri setiap hari dan ada kemungkinan terkena ompol atau keringat, kasur pasir ini tak sampai berbau. Alasannya karena setiap hari rajin dibersihkan dan dijemur secara rutin. Selain itu, mereka akan mengganti pasir yang lama jika dirasa diperlukan atau minimal sebulan sekali dengan pasir baru. Dengan begitu, semua anggota keluarga dari bapak, ibu, hingga anak-anak tetap bisa istirahat dengan nyaman di atas kasur pasir setiap hari.

 

Menurut Pak Ghofur, sebelum saya, ada juga beberapa orang yang bertanya tentang penginapan saat ke Pantai Lobang. Namun, setelah tahu seisi kamar di rumah-rumah penduduk sini hanya berisikan kasur pasir, mereka akhirnya tidak jadi menginap dan memilih kembali ke pusat kota Sumenep untuk bermalam di sana.

Berbeda dengan pelancong yang diceritakan Pak Ghofur, saya justru memilih mencoba tinggal di sana walau hanya lima hari saja. Bagi saya, cara terbaik untuk memahami suatu budaya adalah merasakan dan mencobanya langsung di tempat asalnya.

Berkat kebaikan Pak Ghofur, saya pun akhirnya bisa memahami sekaligus menyelami keunikan budaya tidur di kasur pasir ini.

 

Nama  : Iwan Tantomi

Email   : achmadiwantantomi@yahoo.co.id

Instagram        : @mistersandal