SPORTOURISM - Diawal Tahun 2017, Diriku Kembali menjadi Pengangguran Setelah kontrak kerja di sebuah Perusahaan anak BUMN (Badan Usaha Milik Negara) selesai. Sempat terfikir kembali untuk mencari kerja, namun teringat target awal paska lulus kuliah adalah berburu beasiswa untuk lanjut studi, akhirnya aku mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa yang kutargetkan.

Salah satu syarat mutlak untuk mengajukan aplikasi beasiswa adalah kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris yang mumpuni. Kemampuan ini harus dibuktikan dengan sertifkat resmi dari lembaga yang diaukui oleh pemberi beasiswa. Kemampuan (skill) bahasa Inggris yang diminta biasanya adalah TOEFL. Skor atau nilai minimal TOEFL berbasis komputer yang disebut TOEFL IBT harus berkisar 80 keatas untuk mengajukan aplikasi beasiswa.

Menyadari kemampuan bahasa Inggrisku yang belum bagus, terutama pada bagian tata bahasanya (grammar), membawakau ke kampung Inggris, di Kediri untuk belajar bahasa Inggris. Dimulai pada sepuluh Februari, aku mengambil program khusus belajar tata bahasa Inggris (grammar) selama sebulan penuh, yang dilanjutkan program khusus TOEFL di bulan berikutnya.

 

Dikelas grammar inilah yang menjadi awal perjalanan wisataku ke Prigi. Sebelum mengikuti ujian akhir kelas grammar, aku bersama teman-teman kelasku memutuskan liburan untuk rehat sejenak. Selama sebulan penuh dimana sehari kami belajar delapan jam yang terbagi selama 5 pertemuan, membuat kami penat dan butuh sedikit rehat. Dihari terakhir pertemuan kami menerima materi grammar kami berdiskusi untuk merealisasikan destinasi wisata. Hingga aku dan teman-temanku sepakat untuk mengunjungi Hutan Bakau (Mangrove) Pancer Cengkrong dan Pantai Prigi.

Dari Kediri menuju Hutan Bakau Pancer Cenkrong menggunakan mobil travel seperti helep yang mampu membawa penumpang hingga 25 orang, kami menghabiskan waktu dua jam perjalanan hingga tiba di Hutan Bakau Pancer Cenkrong. Ongkos masuk Mutan Mangrove Pancer Cengkrong saat itu hanya Rp.3000 per orang. Dengan uang 3000 perak kami bebas memasuki Hutan Mangrove Pancer Cenkrong seharian penuh.

Disini aku dan teman-temanku mendapat ilmu baru dengan mengenal berbagai macam jenis Mangrove, termasuk nama latinnya dan di habitat seperti apa mereka bisa terus tumbuh dan bertahan hidup. Aku dan teman-temanku menghabiskan waktu hingga tiga jam disini sebelum menuju pantai Prigi. Kami mengelilingi setiap sudut Hutan Bakau yang rindang itu dengan jembatan kayu yang disediakan, hingga setiap jembatan kami temukan ujungnya, kami pun beralih kejembatan lain, hingga semua sudut jembatan kami temui.

Setelah puas jalan-jalan melihat Hutan Bakau Pancer Cenkrong, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Prigi. Untuk memasuki wisata Pantai Prigi ini kami dikenakan biaya Rp.50.000 untuk satu kendaraan. Biaya ini cukup murah mengingat hanya kendaraannya saja yang dikenakan biaya/ongkos masuk. Setibanya di Pantai Prigi kami langsung menuju bibir pantai.

Disinilah aku takjub dengan indahnya Pantai ini. Airnya yang berwarna biru dan pasir pantainya yang sedikit keputih-putihan membuat Pantai ini terlihat begitu cantik. Ketika kami sedang menikmati panorama pantai Prigi, kami ditawari oleh salah seorang yang menyewakan perahunya untuk menjelajahi pantai Prigi. Hingga aku dan teman-temaku sepakat untuk menyewa perahu tersebut untuk mengelilingi Pantai Prigi dari air. Dengan ongkos Rp.10.000 per orang kami pun bisa menikmati pemandangan salah satu Laut di Jawa Timur ini.

 

Dari perahu ini aku melihat air laut yang semakin membiru. Kami juga melihat beberapa pulau yang dipenuhi batu besar dan pepohonan, menurut informasi dari si penyewa perahu, pulau itu bernama Pulau “Kecil” dan Pulau “Mutiara”. Melalui perahu ini juga aku dan teman-temanku melihat wisata rumah terapung yang disediakan untuk pengunjung. Setelah melihat sekeliling rumah terapung kami singgah disalah satu Pulau bernama Pulau “Rembeng”.

Suasana Pulau “Rembeng” yang sunyi dan hanya terdengar derai ombak, memberikan kesan menenangkan dan serasa seperti pulau milik sendiri. Panorama Laut Biru yang  mempesona ditambah Pasirnya yang putih dan pemandangan Matahari tenggelam (Sunset) melengkapi keindahan Pulau “Rembeng”. Diriku bahkan sempat berfikir, mungkin Tuhan sedang tersenyum ketika membuat pulau ini.

Setelah puas menikmati pulau Rembang, dimana Matahari juga sudah mulai redup, kami pun menaiki perahu untuk kembali ke Pantai Prigi. Diperjalanan menuju Pantai Prigi kami diperlihatkan sebuah jembatan. Kami terkejut ketika tahu nama jembatan itu. Jembatan itu bernama jembatan “Luna Maya” yang terletak di Pantai Karanggongso. Menurut si penyewa kapal, jembatan itu diberi nama jembatan “Luna Maya” karena Luna Maya pernah melakukan syuting di jembatan yang memiliki panjang 150 meter itu.

 

Setelah cukup melihat-lihat jembatan itu, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Pantai Prigi. Deru ombak yang seolah mendayu-dayu menemani perjalanan kami kembali menuju Pantai Prigi. Hingga tiba kembali di Pantai Prigi, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu disalah satu rumah makan yang ada di Pantai Prigi, sebelum akhirnya bertolak pulang kembali ke Kediri.

 

Nama                 : Ichsan Adil Prayogi

Facebook           : Ichsan Adil