SPORTOURISM – Ada kalanya manusia ingin lebih. Ada kalanya manusia ingin menemukan sesuatu yang tak diketahui,  jauh di luar sana. Dan sayangnya, tak semua yakin bahwa ia akan meraihnya. Awal 2015 lalu, dari kelas 2 SMA di Garut, Jawa Barat, seseorang, sebut saja lelaki pertama, punya mimpi menuju timur jawa, melewati berbagai kota, menyisihkan beberapa ribu rupiah setiap ada waktu. Kasarnya bahwa ia hanya ingin tahu saja, tidak lebih.

Kebetulan lelaki pertama baru saja mendapatkan kerja proyek seharga perjalanan pergi, sementara pria kedua dengan senang hati menjadi penjual air mineral, berkeliling pada tiap kelas, untuk bekal tambah, tekadnya. Untuk pria kedua, berencana pergi ke Surabaya dalam waktu yang hampir sejajar, namun jadwalnya cerai, dia sedih dan akhirnya mencari pelampiasan ikut lelaki pertama, menuju Banyuwangi.

Pria kedua beranjak lebih awal—perbedaan waktu keberangkatan, akhirnya bermalam ria di ruang tunggu Stasiun Surabaya Gubeng. Sebelum melanjutkan jalan esoknya, dengan kereta. Sementara lelaki petama tiba sehari sesudahnya setelah 22 jam dibakar tulang belakang-pinggulnya, dengan kursi kereta.

Menuju Bali

Banyuwangi malam hari.  Mereka telah bertemu di sebuah kafe di antara stasiun dan pelabuhan, pria kedua bilang, “dimana ada lampion merah, aku bernafas—ada”, sebutlah ‘kafe ajaib’, nanti diceritakan. Tujuan mereka belum sejelas semangatnya malam itu. Berunding sejenak, si lelaki pertama bilang, “Bali saja”. Seketika kapal meninggalkan Ketapang dan cerita ini berlanjut tentang ‘preman goblok’ yang sebenarnya adalah seorang calo bis biasa. Bedanya, ia telah memiliki target yang esa, mereka! Sementara si preman lengah, mereka menuju bagian atas. Anjungan kapal dan bertabur bintangnya angkasa adalah candu terbaik. Hembusan angin menyuruh mereka tetap diam, agar menikmatinya. Dan sepuluh ribu rupiah adalah pelerai keributan terbaik, biarkan lambung kapal dan para supir bersaksi.

Dinihari di Pulau Bali, masih Gilimanuk sebenarnya. Hanya satu hal yang mereka ingat baik, belum mandi! Dan tiba-tiba mereka terlelap di kursi sebuah salon dekat Pasar Gilimanuk, terima kasih! Bus yang ditunggu tiba. “Halah, bangku tukang bubur!” benar saja, bangku ini berderet di sepanjang koridor bus kecil ini. Tujuannya agar semua penumpang memperoleh hak yang sama karena perjalanan cukup jauh, niatan yang tulus memang. Mata terpejam, badan pun berdansa menurut kaidah Newton—kelembaban, karena jalur yang dilalui menuju Denpasar memang demikian.

Setelah tragedi kepulan asap dalam bis, mereka akhirnya menikmati Denpasar pukul 6 pagi WITA, diantar ojek memang, mereka sampai Kuta. Menyusuri pantai seharian beserta semerbak lotion bule, masih dalam suasana Nyepi. Pria kedua yang kecewa ajakan selfie-nya terhadap seorang wanita bule ditolak mentah, hingga raga kembali bersandar di kapal—angan entah kemana, ke masa lalu mungkin, atau jadi gila.

Panggilan Ijen

Karena bukan pengingat yang baik, lelaki pertama lupa kapan cerita ini berlanjut. Malam itu, setelah jadi gila. Mereka merebahkan tubuh di kursi yang saling berjauhan, karena kebetulan banyak penumpang sedang tidak menumpang. Hanya memandang kapal lain, kebetulan arus bawah sedang kencang, iman pun dituntut makin kencang pula.

Dinihari-fajar, mereka terlelap di parkiran masjid seberang Ketapang. Beralaskan karpet tentu saja, karena sebelumnya memang sedia—diperuntukkan bagi pejalan-penempuh jalan. Mereka berlanjut menuju Paltuding, atau Desa Licin sebelumnya. Dengan angkutan kota ‘lin’, juga kalian wahai tukang ojek. Materi bisa habis, tapi semangat tidak pernah. Dari pabrik belerang itu mereka menyusuri jalan belasan kilometer ke depan, menanjak, dan terik, dengan kaki masing-masing. Putus asa tidak pernah. Tapi kalau lelah, mungkin saja.

Di sebuah tikungan bersemak, dekat peternakan lebah, orang gila tadi (jamak) bertemu Pak Ribut, yang mereka kira sebelumnya hanya sebagai tukang kebun baik hati biasa, bukan, beliau pernah jadi penambang-pengangkut belerang, sekarang tour guide-ojek, kebetulan. Pinjam ungkapan Sujiwo Tejo, Tuhan Maha Asyik. Seasyik mandi di sungai, tidur bersama—satu atap dengan keluarga bapak tadi, percaya bahwa langit Ijen ternyata lebih berbintang dari Selat Bali, dan ternyata lebih dingin dari lirikan matanya, api biru, hampir mati di bibir kawah—salah satu terasam, karena kepulan belerang, lelaki pertama gunakan sapu tangan basah untuk masker, sedang pria kedua—goblok, sehelai kapas dengan karet gelang yang melingkar dari hidung hingga belakang kepala, dan goblok lagi setelahnya di semak samping jalan. Dasar bedebah! Dan seterusnya, hingga kafe ajaib.

Seminggu kemudian sayangnya, mereka sudah di rumah. Namun cerita mereka masih berkelana di hatinya, juga bagi siapa saja yang bersemangat mendengarnya. Hidup cuma sekali, lakukan apa yang ingin dilakukan, percayalah bahwa hal-hal indah akan terulang.

Smartphone pria kedua sebagai dokumenter utama hilang dalam perjalanan pulang, selamat!

Rifan Rifandy

Twitter : @rifan_rifandy

Instagram : @egraveline_