SPORTOURISM - Ini perjalanan kali ketiga saya ke gunung Bromo di Jawa Timur. Dengan menggunakan kereta ekonomi jurusan Pasar Senen – Malang, saya berangkat untuk menyaksikan acara Kasodo yang diadakan setahun sekali di pura Luhur Poten, gunung Bromo. Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, sampailah saya di stasiun Malang. Rencananya saya akan pergi dengan teman saya bernama Hadi dan teman-temannya.

Setelah menunggu selama lima belas menit, Hadi muncul untuk menjemput saya. Setelah melepas kangen, tiba-tiba saja Hadi berkata bahwa teman-temannya tidak bisa berangkat ke Bromo nanti malam. Saya terkejut. Selain karena estimasi biaya yang akan membengkak, ada kemungkinan saya batal naik ke Bromo. Kami lalu mencari warung nasi rawon untuk menyusun ulang rencana dan mengisi perut yang belum sarapan.

Setelah menelepon sana, sms sini, akhirnya diputuskan saya akan ke Bromo nanti malam dengan menggunakan motor trail bersama Hadi dengan estimasi biasa sewa motor sebesar 250.000 dan bensin 50.000. Setidaknya jauh lebih murah dibandingkan harus menyewa mobil jeep sendirian sebesar 600.000. Setelah nasi rawon kami habis, saya dan Hadi berboncengan menuju rumah Hadi di kota Batu.

 

Sehabis istirahat dan mempersiapkan fisik, kami bersiap-siap. Motor trail merk Kawasaki jenis KLX 150 sudah berdiri gagah di depan rumah Hadi. Setelah menghabiskan kopi yang dibuatkan oleh ibunya Hadi, kamipun berangkat menuju Bromo pukul 12.10 tengah malam. Ini kali pertama saya naik motor trail, malam hari pula.

Suhu di kota Batu sendiri sudah menyentuh 19 derajat selsius saat motor trail kami keluar rumah. Beruntung saya dipinjami celana gunung milik adiknya Hadi lalu saya rangkap dengan celana jeans saya, kalau tidak, mungkin saya sudah masuk angin saat masih di kota Batu.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam setengah menuju tenggara kota Batu, via Tumpang. Sepi sepanjang jalan, sesekali saya mengajak Hadi mengobrol, takut dia mengantuk. Memasuki Tumpang, Hadi merasa ban motor kurang angin. Kami pun terus naik dengan harapan menemukan tukang tambal ban. Tapi setelah sampai di rest area terakhir sebelum gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kami tidak menemukan tukang tambal ban.

Kami lalu beristirahat sebentar di rest area untuk meminum obat anti masuk angin dan obat batuk, karena kebetulan kami berdua sama-sama sedang batuk, sambil saya bertanya kepada pedagang makanan tentang lokasi tukang tambal ban di sekitar sini. Celakanya, tidak ada tukang tambal ban setelah gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Menurut pedagang makanan itu, ada tukang tambal ban yang buka 24 jam namun posisinya ada di dekat pasar Tumpang.

 

Tak ingin mengambil resiko lebih tinggi, kami memutuskan untuk putar balik ke arah Tumpang untuk mencari tukang tambal ban. Beruntungnya kami karena di pertigaan menuju Tumpang ada plang tukang tambal ban. Setelah yakin kondisi motor baik, Hadi langsung memacu motor menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Memasuki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sekitar dua kilometer setelah loket masuk, tepat dipersimpangan jalur Bromo – Semeru, kami menghadapi medan yang cukup berbahaya, dengan kondisi jalan hancur, berbatu, berdebu, ditambah dengan tingkat kecuraman sekitar 35 derajat, memaksa saya untuk turun dari motor agar memudahkan Hadi mengendalikan motor. Saya tak bisa membayangkan pengunjung lain yang datang dengan menggunakan motor yang tidak sesuai dengan jalur lintas alam seperti ini.

Setelah dua kali menghadapi jalan rusak yang cukup panjang, kami memasuki area berpasir, dimana dibutuhkan keahlian mengendarai motor yang lihai dan refleks yang baik. Pukul 01.30 dinihari motor kami berada di tengah lautan pasir, berusaha mencari arah jalan menuju pura Luhur Poten.

Walaupun malam itu sedang full moon, kami tetap buta arah karena lautan pasir yang luas dan tak ada penunjuk arah dan jalan yang pasti yang membuat kami berkali-kali memasuki area pasir yang cukup dalam dan membuat ban motor selip. Kami pun hampir terjatuh dua kali, untungnya Hadi memiliki refleks yang baik sehingga mampu menahan motor yang kami naiki.

Perlahan, suara keramaian mulai terdengar, tapi kami masih belum bisa menemukan sumber suara maupun sumber cahaya. Kurasa waktu itu kami sudah berada di balik bukit Teletubies dan mengarah ke pasir berbisik yang nanti akan bertemu gunung batok.

Dalam suhu yang mendekati 10 derajat, jari jari saya mulai membeku. Bahkan jemari Hadi sudah mulai kaku sejak memasuki area berpasir. Saya mulai khawatir, takut Hadi mengalami kram. Lalu kami melihat beberapa mobil jeep yang melaju di depan kami, kami mengikutinya sehingga sampai ke pura Luhur Poten dengan sedikit lebih mudah meski harus sering kelilipan karena butiran pasir yang beterbangan akibat laju mobil jeep di depan kami.

Tepat pukul 02.10 dini hari kami sampai di pura Luhur Poten. Suasana sangat ramai, padahal suhu menembus 5 derajat selsius. Beberapa warung berdiri di sekitar pura Luhur Poten, menjajakan pop mie dan aneka minuman hangat. Saya pikir saya adalah salah satu dari sedikit orang yang ke Bromo dengan menggunakan sepeda motor, ternyata banyak sekali masyarakat suku Tengger dan masyarakat sekitar Taman Nasioal Bromo Tengger Semeru yang datang untuk melihat acara Kasodo dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan kebanyakan diantara mereka menggunakan sepeda motor biasa, bukan jenis sepeda motor trail yang memang khusus untuk jalur-jalur khusus.

Tak terbanyangkan oleh saya bagaimana perjuangan mereka untuk sampai menuju pura Luhur Poten. Lalu saya dan Hadi bergegas masuk menuju pura Luhur Poten. Asap dan wangi menyan menyambut kami di dalam pura. Masyarakat sudah banyak yang duduk di dalam pura. Rupanya ritual inti belum dimulai, yaitu pengujian calon dukun adat dan pelemparan sesaji yang sudah didoakan ke kawah gunung Bromo.

Sesaji yang berupa hasil panen masyarakat berasal dari tiap desa yang sebelumnya sudah didoakan oleh dukun adat desa tersebut. Lalu dibawa oleh masyarakat dengan berjalan kaki menuju pura Luhur Poten sebelum dilemparkan ke dalam kawah gunung Bromo.

Para calon dukun adat sibuk menghapal bacaan mantra yang ternyata campuran dari bahasa Jawa Kuno dengan bahasa Sanskerta. Mereka melapal dengan sangat cepat. Pantas saja saya tidak paham. Pukul tiga, pengujian dimulai. Calon dukun adat maju ke tengah, mendekati lurah dukun untuk dites. Calon dukun adat harus mampu melafalkan mantra dengan baik dan cepat di depan masyarakat dan lurah dukun. Jika berhasil, sang calon dukun adat akan menjadi dukun adat di desa tempat ia tinggal.

 

Setelah pengujian calon dukun adat, dukun adat yang lulus dan dukun lurah serta masyarakat membawa sesaji yang sudah mereka kumpulkan untuk dibawa naik ke atas kawah gunung Bromo. Sesaji harus dilempar sebelum subuh. Saya dan Hadi tidak ikut naik, karena tidak ingin mengganggu prosesi ritual adat suku Tengger. Kami melihat dari bawah sambil menyeduh kopi untuk menghangatkan tubuh.

Tak lama kemudian, rombongan dukun adat dan dukun lurah turun. Kami lalu mulai naik ke arah kawah untuk melihat matahari terbit. Ternyata melihat matahari terbit dari kawah gunung Bromo tak kalah indahnya dengan melihat matahari terbit di Pananjakan 1 ataupun Penanjakan II. Dan saya melihat kejadian yang menurut saya langka, yaitu gunung Batok yang berada di sebelah kawah gunung Bromo diapit oleh matahari di sisi kiri dan bulan di sisi kanan. Mulut saya tak henti mengucapkan syukur atas kesempatan melihat matahari dan bulan secara bersamaan.

Di kawah Bromo sendiri ternyata banyak masyarakat Tengger yang menunggu di bibir kawah bagian dalam untuk menangkap sesaji yang dilemparkan. Selain sesaji yang dilempar atas nama desa, masyarakat juga ada yang melempar sesajinya sendiri. Ada yang berupa sekarung kentang, bahkan seekor kambing.

Masyarakat yang berada di bibir dalam kawah menunggu lemparan sesaji dari masyarakat. Menurut mereka sesaji yang sudah dilempar tidak masalah jika diambil. Saya melihat dengan kengerian. Karena jika mereka tidak berhati-hati, mereka bisa tergelincir ke dalam kawah!.

Saya dan Hadi akhirnya memutuskan untuk turun lebih cepat, karena kami sama-sama sudah tidak kuat menahan bau belerang yang sangat menyengat. Apalagi kami berdua sama-sama sedang flu dan batuk. Kami pun memutuskan untuk tidak pergi ke bukit teletubis karena jika kami pulang agak siang, akan berbarengan dengan mobil jeep yang akan pulang juga. Dan itu akan menganggu kami karena debu dan pasir yang berterbangan yang disebabkan laju mobil jeep.

Perjalanan ke Bromo saya kali ini adalah pengalaman baru yang tak tergantikan dan membuat saya ‘ketagihan’ untuk kembali ke Bromo lagi. Naik sepeda motor trail, merasakan dingin di bawah 10 derajat selsius, jok motor yang diselimuti salju saking dinginnya, lalu ketaatan masyarakat suku Tengger yang menahan dingin berjalan kaki membawa sesaji hanya memakai penahan sarung, dan melihat bulan dan matahari secara bersamaan di satu waktu. Dan sejak saat itu, saya selalu merasa ‘pulang’ saat pergi ke Bromo. Terima kasih, gunung Bromo, semoga saya bisa kembali lagi dan lagi.

 

nama           : Siti Nurlaela Hanifah

Blog             : stnurlaelahanifah.blogspot.com

Media sosial berupa Facebook, Twitter dan Instagram dengan nama @lelasipit 

related posts