SPORTOURISM - Kopi asal Lampung terkenal dengan aromanya yang khas serta rasanya yang nikmat saat diteguk. Jenis kopi yang dibudidayakan oleh kebanyakan petani kopi di daerah Lampung adalah jenis Kopi Robusta.

Sebagian besar perkebunan kopi Lampung di dataran tinggi daerah tersebut merupakan perkebunan rakyat yang terpusat di daerah Lampung Tengah, Lampung Barat, dan daerah Tanggamus.

Saat ini, kopi robusta diolah sedemikian rupa dan memiliki khasiatnya tersendiri, salah satunya adalah Ghalkoff. "Ghakoff adalah kopi robusta lampung yang dihasilkan dari cara penanamannya secara organik tanpa bahan kimia," kata Pemilik kopi Ghalkoff Khairullah saat ditemui sportourism.



Menurutnya, Kopi Ghalkoff adalah sejenis kopi robusta yang difermentasi secara organik sehingga selama proses fermentasinya mengakibatkan zat-zat tersendiri yang menjadikan masing-masing tingkatannya memiliki khasiat. Dengan proses teknologi tertentu dapat menghasilkan kopi dengan kualitas di atas fermentasi kopi yang dihasilkan luwak.

"Kopi luwak juga memfermentasi kopi secara alami yang dikeluarkan melalui kotorannya. sSedangkan Ghalkoff hasil fermentasi secara organik yang menggunakan teknologi tertentu," ujarnya. Selain itu, sensasi rasanya pun berbeda dengan kopi robusta lainnya. ketika diminum dan saat sampai ke tenggorokan, air kopi tersebut akan pecah hanya meninggalkan rasanya saja di lidah.

Menariknya, Kopi Ghalkoff memiliki berbagai macam varian, yaitu original (grand premium pure organic robusta), F2 (speciality rileks dan stamina), F4 (specility diet), F7 (speciality sexuality moods). F9 (spesiality quality sleep). F12 (speciality anti diabetes), F17 (speciality quality herbal), speciality kopi wine (very low caffeine dan acidity high rileks effect).

Hasil fermentasi ini menimbulkan kualitas kopi grand premium serta menimbulkan rasa efek kopi luwak yang nikmat, higienis dan dijamin ke-halalannya. "Semuanya sudah kami uji coba melalui beberapa rangkaian tes laboratorium, dan untuk serifikasi halalnya sedang diproses untuk diajukan ke Majelis ulama Indonesia (MUI)," katanya. [Novie Fauziah]