SPORTOURISM - Situs Batu talempong yang terletak di Nagari Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sebenarnya/merupakan medan nan bapaneh dengan batu-batu sandar (stone seat) yang melingkar membentuk formasi empat persegi. Selain menjadi Situs Cagar Budaya sekaligus salah satu objek wisata andalan, warga Talang Anau kadang-kadang juga menjadikan Batu Talempong itu sebagai media untuk mengumpulkan masyarakat.

Luas lokasi Situs ini adalah 21×13 meter. Batu sandar yang sekarang masih tinggal sebanyak 28 buah. Pada sisi timur sebanyak 3 buah, sisi selatan 9 buah, sisi barat 5 buah, dan sisi utara 11 buah. Batu sandar yang memiliki ukuran terbesar berada di sisi selatan ujung timur dengan ukuran tinggi 120 centimeter (cm), lebar 20 cm, dan tebal 18 cm.

Pada sisi timur situs, terdapat cungkup berukuran 5x3,22 meter yang di dalamnya terdapat Batu Talempong. Talempong sebenarnya merupakan alat musik tradisional Minangkabau yang berbentuk gong kecil atau bentuk kenong yang merupakan alat musik tradisional Jawa. Dengan meniru pada bunyi talempong besi maka batu talempong terdiri dari enam batu andesit pipih dalam berbagai ukuran yang disusun secara berjajar dengan bantalan bambu besar berdiameter 12 cm. Pada bagian bawah susunan batu ini terdapat rongga berbentuk lubang dengan ukuran panjang 250 cm, lebar 80 cm dan kedalaman 50 cm.

Berdasarkan cerita masyarakat setempat, konon Batu Talempong ini ditemukan pertama kali oleh seorang ulama bernama Syeikh Syamsudin. Masyarakat sekitar memperkirakan batu tersebut ditemukan pada abad XII masehi. Konon Syeikh Syamsudin bermimpi didatangi seorang berjubah putih, berjanggut panjang sampai ke pusat, dan memakai sorban. Orang tua dalam mimpi Syeikh ini memberi tahu bahwa ada beberapa buah benda di dalam hutan yang ditumbuhi talang dan daun enau. Benda tersebut akan dapat memberi manfaat bagi anak cucu dan masarakat kalau dapat dikumpulkan.

Masyarakat percaya ada kekuatan supranatural yang dimiliki oleh lemengan batu itu. Itu sebabnya sebelum dipukul atau dibunyikan, batu ini harus diasapi dengan kemenyan putih. Berdasarkan info yang dihimpun dari kebudayaan.kemdikbud.go.id apabila tidak dilakukan lempengan batu ini tidak akan menimbulkan bunyi yang nyaring seperti talempong, bahkan menurut keterangan warga, si pemukul juga akan terkena kutukan. [AR]