SPORTOURISM - Situs Mejan Tinggi terletak di Jorong Talago Gunung, Nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Lokasi situs ini berada di daerah pedalaman di perbukitan, sekitar 10 kilometer (km) dari kota Batusangkar. Situs ini terhampar di area seluas 40 x 80 meter (m), pada ketinggian 565 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi situs juga dikelilingi oleh pebukitan lainnya, seperti Bukit tersebut diantaranya adalah bukit Kandang Jano, Bukit Palano, Bukit Kayu Turah, Bukit panjang, Bukit Tujuh dan Bukit Bariang.

Nisan-nisan yang terdapat di situs Mejan Tinggi merupakan nisan tunggal atau tidak berpasangan seperti halnya nisan Islam yang memiliki Penanda bagian kepala dan kaki. Secara sekilas akan sulit untuk menentukan apakah nisan-nisan tersebut sebenarnya dapat dikatakan sebagi nisan atau bukan. Data pendukung yang dapat membuktikan bahwa nisan tersebut merupakan nisan Islam adalah arah hadapnya yang mengarah ke selatan seperti nisan-nisan kuno Islam yang terdapat di Kabupaten Tanah Datar lainnya.

Jumlah nisan yang ditemukan berjumlah 186 buah, semuanya polos tanpa ada ukiran ataupun tulisan, terkecuali satu nisan yang mengalami pengerjaan pengukiran. Dari bentuk nisan diketahui nisan-nisan ini dikerjakan dengan teknik pahatan yang mempunyai kesulitan tinggi. Berdasarkan info yang dihimpun dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, nisan-nisan di situs Mejan Tinggi terdiri dari beberapa bentuk dan tipe.

Secara garis besar diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yakni pipih, tonggak persegi dan bulat. Tipe nisan yang dominan adalah tipe hulu keris, kemudian diikuti oleh tipe empat persegi dan nisan tipe lain seperti nisan tipe segi tiga, bulat panjang, dan tonggak persegi. Bentuk nisan yang terdapat di Situs Mejan Tinggi sebagian besar pada ujung kepala nisan melengkung ke arah selatan.

Bentuk nisan yang terdapat di Situs Mejan Tinggi memiliki kemiripan dengan nisan kuno di Kabupaten Tanah Datar dan yang terdapat di situs megalitik Kabupaten Limapuluh Koto, Sumatera Barat. Beberapa tipe nisan, terutama tipe hulu keris memiliki kemiripan dengan nisan tipe tanduk di situs-situs megalitik Limapuluh Kota. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan tradisi penguburan yang terdapat di Sumatera Barat, dimulai dari penguburan di situs megalitik Limapuluh Kota, kemudian di Kabutaen Tanah Datar hingga pada situs mejan tinggi yang terletak di daerah pedalaman perbukitan.

Di pedalaman Sumatera Barat telah berkembang dua tradisi yang berbeda sebelum Islam masuk: tradisi Budha yang berpusat di sekitar istana kerajaan Pagaruyung dan tradisi megalitik yang dilakukan oleh masyarakat Nagari dan sekitarnya. Sehingga setelah Islam masuk pada kisaran abad 14, terjadilah kontak budaya satu sama lain dengan tradisi tersebut.

Keberlanjutan bentuk muncul dari adanya transformasi bentuk menhir yang terdapat di situs megalitik Limapuluh Kota ke bentuk nisan situs makam kuno Islam di Kabupaten Tanah Datar. Selain dari bentuk nisan dari segi keletakan situs juga sama-sama berada di daerah ketinggian yaitu di perbukitan. Barulah kemudian menyebar ke wilayah kerajaan Pagaruyung yang penyebaran situs makamnya tidak lagi diketinggian, namun mengikuti aliran sungai. Hingga saat ini tradisi pembuatan nisan tersebut juga masih berlanjut di beberapa nagari di Kabupaten Tanah Datar. [AR]