SPORTOURISM-- Sebelum para peserta Tour de Singkarak (TdS) 2016 masuk ke titik finish di Ngalau Indah, Payakumbuh, pihak penyelenggara TdS menyajikan sebuah tradisi khas Payakumbuh kepada para penonton yang sudah setia menanti kedatangan para pebalap. Tradisi itu bernama pacu itiak. Dalam bahasa Minang, Itiak berarti itik atau bebek. Hewan ini sudah dikenal sebagai menu favorit di Sumatera Barat. Itik-itik tersebut biasanya diolah menjadi makanan yang menggoda selera para pecinta kuliner seperti Gulai Itiak atau Itiak Ladu Mudo. Namun pernahkah terbayangkan apa jadinya jika itik-itik tersebut dilombakan? pacu1 Tradisi Pacu Itiak di Payakumbuh mulai ada sejak tahun 1028. Pada saat itu para petani di Aiu Kuning, Payakumbuh, Kanagarian, dan Sicincin menghalau itik yang memakan tanaman padinya. Itik-itik yang dihalau itu kemudian terbang ke dataran sawah yang lebih rendah di bawahnya. Rupanya itik-itik terbang ini menjadi hiburan tersendiri bagi para petani, dari sinilah sejarah lomba pacu itiak tercipta. Namun ternyata tidak sembarang itik bisa diikutkan dalam ajang pacu itiak. Itik yang diikutkan dalam lomba harus memenuhi beberapa kriteria, seperti usia itik yang dilombakan berkisar antara empat hingga enam bulan. Kemudian itik memiliki kesamaan warna pada paruh dan kaki, berleher pendek, sayap lurus yang mengarah ke atas, jumlah gigi yang ganjil, dan ujung kaki yang bersisik kecil. Tentunya selain memenuhi kriteria-kriteria tersebut, itik juga memerlukan perlakuan khusus seperti dikurung dan hanya diberi makan padi dan telur selama seminggu menjelang perlombaan. Selain itu itik-itik juga terus dilatih terbang. Perlu diketahui, teknis pacu itiak adalah itik-itik tersebut dipegang oleh pemilik kemudian dilemparkan ke udara sehingga itik akan terbang ke udara dan terbang menuju garis mati atau garis finish. Ajang Pacu Itiak di Payakumbuh telah mendapat perhatian khusus dari Dinas Pariwisata Kota Payakumbuh. Bahkan sebuah organisasi bernama  Persatuan Olahraga Terbang Itik (PORTI) sengaja dibentuk untuk mengakomodir para pegiat kegiatan tersebut. [Agung Rahmadsyah dari Payakumbuh]