sportourism.id - Jalan-jalan ke Kampung Warna-warni di Penas Tanggul, Jalan Pancawarga 30, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, kita langsung disuguhkan dengan sebuah konsep kampung yang penuh dengan warna. Masuk melalui Gapura Penas Tanggul, kita langsung disambut keramahan warga dan sebuah tulisan besar di dinding 'BEBAS ROKOK' yang memiliki panjang lebih kurang 6 meter.

Semakin kita masuk kedalam kampung, kita mulai melihat rumah-rumah dengan beragam warna dan gambar-gambar grafiti. Semakin jauh berjalan, semakin kita merasakan hawa bersih / sejuk layaknya di pedesaan. Padahal jika dilihat dari lokasinya, Kampung Penas Tanggul ini sangat dekat dengan proyek kontruksi jembatan layang yang sudah pasti kotor dan berdebu.

Kampung Penas Tanggul, sebelumnya hanyalah kampung kumuh yang masuk dalam skema penggusuran dua tahun yang lalu. Namun sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menangani masalah warga berpenghasilan kecil, memiliki ide bagaimana agar kampung ini tidak masuk skema penggusuran dan dipertahankan kelangsungannya.

Setahun yang lalu, enam orang dari Kampung Penas Tanggul di pilih untuk mengikuti study tour di Yogyakarta. Beberapa diantaranya mempelajari skema pembuatan kampung warna-warni di Kali Conde dan sebagian lainnya mempelajari bagaimana cara menghilangkan kebiasaan merokok warganya yang dipelajari di kawasan bebas rokok di Umbulharjo.

"Awal mulanya itu tanggal 30 Maret 2017, kita diajak sebuah LSM yang menangani warga kurang mampu. Mereka membuat suatu program bagaimana caranya agar warga ini tidak digusur tapi penolakannya tidak melalui aksi fisik," kata Joko Sundoko, salah satu warga Kampung Penas Tanggul.

Sekilas, Kali Code Yogyakarta dulunya adalah perkampungan kumuh yang relatif tidak dapat dimanfaatkan lagi karena kotor dan bau. Pada tahun 1970 seorang sejarahwan Y.B. Mangunwijaya melakukan usaha mebuat kali yang bersih untuk menjadi alternatif pariwisata. Selanjutnya pembangunan Kali Conde terus dikembangkan hingga muncul ide untuk menata daerah menjadi warna-warni.

Sedangkan Umbulharjo merupakan sebuah kawasan tertib rokok dan menghormati hak-hak wanita hamil dan anak-anak untuk tidak terpapar asap rokok. Umbulharjo menetapkan denda sebesar Rp100 ribu bagi siapa saja yang melanggar peraturan tersebut.

Setelah kembali dari Yogyakarta keenam perangkat desa langsung mendiskusikan apa yang mereka dapatkan kepada warga Penas Tanggul. Setelah itu barulah seluruh warga dikumpulkan untuk dilakukan musyawarah, akhirnya warga menyepakati agar kampung Penas Tanggul berbenah. Penataan dimulai dari masalah sampah hingga pembersihan sungai.

"Sesampainya di Jakarta, mereka membuat program penataan kampung yang nyaman dan sehat. Dan bagaimana jika kampung Penas Tanggul ini dibuat warna-warni dan bebas rokok. Bagaimana caranya agar warga bisa berhenti merokok tapi tanpa paksaan," imbuhnya.

Perlahan namun pasti, selama enam bulan warga dipastikan bebas rokok dalam ruangan atau rumah. Meski demikian tidak dibatasi bagi perokok dan penjual rokok untuk melakukan kegiatan rutin mereka. Hanya saja dibatasi untuk tidak didalam ruangan.

"Kita Alhamdulillah enam bulan sudah bersih untuk di dalam rumah. Disini hampir 90 persen adalah perokok. Kalau enjua rokok kita tidak memaksa untuk tidak menjual. Kedepannya, peroko dijalan pelan-pelan akan dikirangi," ucapnya.

Sejak usulan membuat kampung bersih dan ramah lingkungan, warga sangat antusias dan menyambut baik usulan tersebut. Bahkan meski pada awalnya warga dipatok membayar Rp 20ribu per KK yang nantinya diakumulasi untuk membeli cat dan berbagai kelengkapannya, saat ini warga mulai inisiatif untuk menyumbang demi penataan kampung bersih.

Awal mula pewarnaan kampung disupport oleh sebuah perusahaan kontraktor PT. Waskita dengan menyumbang dana Rp15 juta untuk pengadaan cat. Sisanya adalah swadaya masyarakat dan bantuan dari berbagai sumber hingga mencukupi senilai Rp130 juta.

Tujuan diadakannya kampung Warna-Warni bebas rokok ini selain menciptakan kampung bersih dan nyaman, juga menekan angka kekerasan terhadap  wanita dan anak yang umunya tidak merokok.

"Ibu-ibu disini juga sangat setuju jika dosini bebas asap rokok. Lama-lama mereka sadar sendiri bahwa asap rokok membuat penyakit," kata Nobby pengagas kampung warna-warni.

Program kampung warna-warni ini akan menjadi percontohan kepada kampung warna-warni lainnya. Selanjutnya penataan kampung lain akan dilakukan dibebebrapa kawasan seperti Cililitan, Koja, Pejaten dan Rorotan. Program ini sendiri mendapatkan support penuh dari Dinas Lingkungan Hidup yang secara berkala memberikan bantuan berupa pupuk, bibit tanaman dan tong sampah.