Napak Tilas Asian Games 1962

SPORTOURISM – Pesta olahraga terbesar se-Asia yang tahun ini kembali terlaksana di Indonesia memang masih punya sejumlah PR. Salah satunya urusan transportasi yang hingga kini masih dicarikan solusi. Namun, tahukah Sahabat Sporto bahwa pada 1962, urusan transportasi juga jadi masalah yang dikeluhkan seluruh rakyat Indonesia?

Penyelenggaraan Asian Games pertama kalinya di Indonesia pada 1962 memang menjadi kebanggaan bangsa hingga saat ini. Ambisi Soekarno saat itu untuk menyukseskan Asian Games ke-IV di Indonesia menuai pro dan kontra.

Bisa dikatakan, persiapan Kota Djakarta saat itu dengan beragam pembangunan demi suksesnya Asian Games menjadi titik mula pembangunan Ibu Kota. Namun, ternyata masalahnya masih sama dengan yang dihadapi saat ini. Yakni urusan transportasi.

Bedanya, tahun ini pemerintah masih mencarikan solusi sebelum berlangsungnya Asian Games 2018.

Kembali ke Asian Games 1962, kala itu pesta olahraga yang berlangsung 24 Agustus hingga 4 September, setiap pertandingannya selalu dibanjiri ratusan ribu pengunjung. Permasalahannya adalah saat mereka pulang pertandingan.

Pengunjung yang kebanyakan tak memiliki kendaraan mengalami kesulitan saat kembali ke rumahnya. Bahkan mereka harus berjalan dengan jarak berkilometer untuk mencari kendaraan. Dihimpun dari surat kabar Duta Masjarakat, 28 Agustus 1962, kendaraan yang berciri ASG, Bemo, dan sejumlah oplet pun enggan berhenti untuk mengangkut.

 

Alasannya, selain sudah penuh, kendaraan tersebut juga sudah dicarter untuk keperluan Asian Games. Belum lagi, para bemo dan oplet yang menjadi buruan pengunjung saat itu, ‘sok jual mahal’. Mereka maunya hanya sistem birongan dengan tarif sangat tinggi.

Baca juga : Duh, Sombongnya Para Bemo dan Oplet Ini!

Selain itu, peraturan bemo dan oplet cukup mengejutkan. Mereka punya aturan sendiri, yakni hanya mengantar hingga Tosari, tak sampai Harmoni, Jakarta. Setelah penumpang turun di Tosari, kendaraan-kendaraan tersebut mengangkut kembali penumpang untuk diantar ke Harmoni, dan begitu seterusnya.

”Kalau setudju penumpang boleh naik,” begitu yang dikatakan surat kabar tersebut. Ada pula masalah para pemilik kendaraan ASG dan Bemo yang menggunakannya untuk keperluan pribadi, yaitu mengangkut keluarganya sendiri.

Apalagi saat perebutan piala antara Indonesia-Vietnam yang kala itu dimenangkan tuan rumah, seusai pertandingan, ribuan orang terlantar di jalan raya sepanjang Senayan-Thamrin. Kesulitan mereka tak lain adalah kendaraan yang tak memadai.

Bahkan sepanjang jalan saat itu hampir semua orang mengacungkan jempolnya meminta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Sejumlah bemo dan oplet yang saat itu juga enggan narik, dipaksanya untuk mengangkut para pengunjung saat itu.

Termasuk “mobil segitiga” milik pemerintah. Hingga salah seorang pengunjung ada yang mengatakan, “itu kan milik pemerintah, kita dong boleh djuga nikmati sekali2 dalam keadaan seperti ini.” Seperti Sportourism kutip dari surat kabar Merdeka, 27 Agustus 1962. 

Padahal, saat itu Gubernur KDCI Brigdjen Dr Sumarno menginstruksikan khusus mobil sedan ASG yang ditugaskan di Hotel Indonesia harus bersiap sebelum tanggal 23 Agustus di depan Gedung Olahraga Medan Merdeka Selatan. Berbagai merek mobil pesanan pemerintang yang didatangkan khusus untuk Asian Games ke-IV ini pun tak kunjung mencukupi.

Di antaranya Micro Bus, Fiat, Mercedes, bus-bus Mercedes, Ikarus, dan ratusan sedan Fiat seri 2300. Namun, tetap saja kekurangan kendaraan.

Saat itu, Jembatan Semanggi dinamai Jembatan Daun Semanggi. Jadi jalur cepat bagi penonton yang ingin berkunjung ke Senayan menyaksikan berbagai pertandingan. Di sini juga terjadi permasalahan. Karena kesulitan kendaraan, ribuan pengunjung harus berjalan kaki dan melewati jembatan ini.

Banyaknya jumlah pejalan kaki membuat Jembatan Daun Semanggi dipenuhi orang yang membahayakan keselamatannya sendiri. Hingga ada peringatan bagi pejalan kaki untuk tetap berjalan di jalurnya, tanpa ke jalan raya. Selain membahayakan diri sendiri juga menimbulkan kemacetan saat itu.