Kerusuhan suporter saat pertandingan sepak bola Liga Indonesia, kembali terjadi. Pertarungan Persib Bandung dan Arema Malang, akhirnya diwarnai masuknya pendukung ke rumput hijau.

Laga Arema FC kontra Persib Bandung yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur pun, terpaksa dihentikan di detik-detik menjelang pertandingan selesai setelah terjadinya lemparan-lemparan botol yang disusul masuknya suporter tuan rumah ke lapangan.

Keadaan mulai tidak menentu setelah penyerang Arema FC Dedik Setiawan diganjar kartu merah pada menit ke-89. Situasi yang kacau membuat wasit Handri Kristanto memutuskan laga tidak dilanjutkan dan berakhir dengan skor imbang 2-2.

Catatan hitam soal kerusuhan suporter tim pendukung klub liga Indonesia memang menorehkan sejarahnya tersendiri. Beberapa memang disinyalir akibat kepemimpinan sang pengadil alias wasit jadi alasan paling utama.

Paling anyar, kerusuhan yang terjadi pada Laga Arema FC kontra Persib Bandung berakhir ricuh, Minggu, 15 April 2018 malam. Kerusuhan memang akrab dengan sepak bola Indonesia.

Saking akrabnya, sampai muncul sebuah lelucon di media sosial yang kurang lebih bunyinya seperti ini: “Jika ingin menyaksikan dua cabang olahraga sekaligus dalam satu arena, maka datanglah ke stadion sepak bola di Indonesia. Di sana tak hanya sepakbola yang disuguhkan, tetapi juga pertarungan bebas a la Mixed Martial Arts (MMA).”

Kinerja kepimpinan wasit pada liga Indonesia selama ini, memang menjadi sorotan bagi perkembangan kualitas sepakbola itu sendiri. Pengamat sepak bola Indonesia Rayana Djakasurya mengimbau, PSSI membenahi sistem perwasitan di Indonesia demi memajukan sepak bola tanah air.

Apalagi, kata dia Sepak bola dapat maju jika mampu menjunjung tinggi fair play. Ia membandingkan dengan persepakbolaan maju di Eropa, asosisasi wasit punya kekuatan keuangan yang bagus sehingga sulit untuk diiming-imingi pihak klub.

Sedari awal sepak bola tanah air bergulir memang tercium aroma kecurangan. Mulai pengaturan skor, ditunggangi kepentingan politik, jadwal yang berantakan, dan tentu saja kerusuhan, baik antar pemain, tim, dan juga suporter.

Soal sejarah kerusuhan antar suporter, tidak mudah dilupakan paling sadis, kericuhan antar pendukung dari pendukug klub ibukota Persija dengan Perib bandung medio tahun lalu dengan memakan korban tewas seoarang pendukung Persib. Selain itu, masalah anarki di ranah sepak bola, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) punya peran tersendiri.

Pengamat sepakbola Indonesia, Ari Julianto menilai, masih banyak persoalan pelik yang harus ditangani PSSI dan pemerintah terkait soal suporter di Tanah Air. Salah satunya adalah ketidaktegasan aparat kepolisian terhadap suporter yang terlibat kerusuhan, sehingga akhirnya kerusuhan terjadi berulang.

"Hingga saat ini, bentrokan suporter masih terus terjadi di Tanah Air, bahkan telah menewaskan sejumlah suporter dari berbagai kesebelasan di Indonesia," kata Ari Julianto.

Bentrokan fisik yang paling parah antarsuporter mulai terjadi pada tahun 1997. Ketika itu kerusuhan meluas ke luar lapangan hingga terjadi pembakaran kendaraan bermotor.“Padahal sebelum tahun 1997-1998, bentrokan suporter tak pernah menimbulkan korban.”

Menurut dia, kericuhan terjadi di lapangan, itu menjadi tanggung jawab PSSI selaku induk olahraga sepakbola di Tanah Air."Namun ketika kerusuhan telah meluas ke luar lapangan, bukan lagi menjadi kewenangan PSSI,” tukas Ari Julianto.

Sementara itu, suporter sepakbola yang fanatik terhadap klubnya hingga sampai menimbulkan kerusuhan itu belum memahami dunia sepakbola. Padahal mereka harus bisa menikmati pertandingan sepakbola. "Di Inggris suporter yang bermasalah bisa dilarang masuk stadion seumur hidup dan kena hukuman sosial masyarakat," katanya.