sportourism.id- Maraknya penutupan diskotik-diskotik di Jakarta membuat para pelaku bisnis hiburan mulai kebingungan. Beberapa diskotik bahkan gulung tikar akibat sepinya pengunjung.

Beberapa diskotik-diskotik jaman old yang identik dengan lampu disko saat ini mulai beranjak menghilang. Hal ini dikarena pergeseran 'selera' anak muda jaman now yang barang pasti berbeda dengan selera jaman old.

Diskotik 'jaman old' yang masih bertahan saat ini salah sarunya adalah Musro yang berasa satu gedung dengan Hotel Borobudur. Musro sendiri merupakan singkatan dari Music Room. Mulai berdiri pada tahun 1983, diskotik ini banyak melahirkan para DJ berpengalaman dan sebagai tempat manggung band terkemuka jaman dulu.

Pada tahun 1990 Musro sempat mengalami renovasi gedung yang cukup lama. Hingga pada tahun 2002 Musro hadir kembali dengan gedung satu lantai dan konsep yang berbeda namun tetap memunculkan interior borobudur.

"Konsep ruangan kita jaman dulu lebih ke vintage, Tapi setelah tahun 2000an lebih modern, tapi tidak meninggalkan konsep hotel Borobudur itu sendiri seperti patung yang masih ada," kata Public Relation Musro Wahyu.

Menurut Wahyu, konsep diskotik jaman old memang sangat digemari dimasanya. Hal ini lantaran jumlah tempat hiburan yang sangan bisa dihitung dengan jari. Beberapa diskotik ternama era 80an adalah Tanamaur, Ebony, Fire, Musro dan lain sebagainya umumnya menarik minat maayarakat karena saat itu diskotik hal baru.

Saat ini, berbagai diskotik jaman now atau bar yang mengusung konsep 'longue' sudah menjamur di Jakarta. Kawasan Kemang dan Senopati menjadi sebuah ladang bisnis Loung yang menarik minat anak muda jaman sekarang.

Konsep Lounge merupakan sebuah konsep cafe yang menghadirkan sajian musik dengan cita rasa masa kini. Selain itu konsep ini juga didukung dengan tata cahaya, artistik dan desain interior yang minimalis serta elegan. Inilah yang membuat konsep longue ini sangat diminati saat ini.

Memurut Dinar, seorang pengunjung Savoi Ultralongue di Senopati Jakarta Selatan mengaku dirinya lebih senang menghabiskan waktu bercengkrama dengan teman-temannya dalam sebuah private party yang menghadirkan konsep modern. Hal ini ia lakukan untuk mengusir penat usai seharian bekerja.

"Ya kalau private party aja lebih seru, karena tempatnya juga nyaman banget. Sesualilah sama kebutuhan," ujar Dinar.

Hal yang sama adalah diskotik dan lounge sama-sama memiliki sebuah sajian makanan khas dan minuman alkohol dengan kadar yang berbeda hasil racikan dari bartender-bartender unggulan. Lounge memang diciptakan untuk eksekutif muda, sehingga jangan heran harga yang ditawarkan cukup menguras kantong.

Untuk menikmati fasilitas lounge sendiri tampaknya anda harus menrogoh kocek agak dalam berkisar Rp 300 ribuan hingga Rp 500 ribuan. Hal ini karena konsep kekinian yang ditawarkan sangat berbeda dengan diskotik jaman old.