Oleh : Lengkong Sanggar

SPORTOURISM-- Lokasi PG Medari berjarak 11 km dari kota Yogyakarta. Memang agak jauh dari kota tapi hal ini wajar karena pada waktu itu, pabrik gula biasanya dibangun di dekat lokasi perkebunan tebu supaya  biaya pengangkutan tebu mentah dapat ditekan serta untuk mengurangi dampak polusi yang dapat mencemari lingkungan sekitar.

 

Cukup sulit untuk mencari catatan sejarah tentang PG Medari, sehingga masih belum banyak yang bisa ditulis mengenai sejarah keberadaan pabrik gula ini ketika masih berdiri. Salah satu data yang dapat ditemukan adalah bahwa pabrik ini dahulu dimiliki oleh sindikat gula yang berkantor pusat di Surabaya, Koloniale Bank (L. F. Dingemans, 1925 ; 122).

 

Pada tahun 1930an, terjadi krisis ekonomi yang dikenal dengan krisis malaise. Meskipun terjadi krisis, pabrik ini masih tetap survive. Di masa penjajahan Jepang, pengelolaan pabrik ini diambil alih oleh Nanyo Kohatsu Kabusiki Kaisha. Nasib PG ini berakhir di masa agresi militer Belanda II, ketika bangunan pabrik dihancurkan oleh para pejuang hingga rata dengan tanah agar tidak dipakai lagi oleh Belanda.

 

Seperti yang diterangkan di atas,pabrik gula Medari sudah hilang sejak masa awal kemerdekaan, sehingga tidak ada lagi bangunan pabrik yang masih tersisa. Merujuk pada data peta lama dari tahun 1933, maka lokasi pabrik gula sekarang sudah menjadi pabrik tekstil GKBI. Barangkali Anda bisa membayangkan ketika parik gula Medari masih aktif  dengan cerobongnya yang menjulang tinggi sambil melintas di jalan Magelang.

 

Di sebelah utara pabrik, terdapat emplasemen lori. Emplasemen lori dapat dibilang sebagai terminal lori tebu untuk membongkar tebu yang diambil dari perkebunan sekitar. Setelah tebu dibongkar, tebu dibawa masuk ke dalam pabrik untuk diolah.

 

Meskipun bangunan pabrik sudah lama hilang, ternyata beberapa bangunan pendukung pabrik ada yang masih berdiri, salah satunya yang masih dapat Anda lihat adalah bangunan bekas rumah dinas pegawai pabrik gula. Sebuah pabrik gula pasti memiliki kompleks rumah dinas yang ditata rapi dan dibangun dengan gaya arsitektur yang menarik.

 

Bangunan rumah dinas dibangun di lokasi yang tidak jauh dari pabrik untuk memudahkan mobilitas dan pengawasan. Bangunan-bangunan ini sekarang digunakan untuk bermacam-macam kepentingan. Ada yang digunakan sebagai sekolah, ada juga yang dijadikan markas militer,namun ada juga yang dibiarkan kosong. Jumlah rumah dinas yang masih tersisa tidak begitu banyak.

 

 

Salah satu bekas rumah dinas yang masih berdiri ada di dalam kompleks SMP N 1 Sleman. Dilihat dari bentuk bangunannya yang sangat megah,kemungkinan besar bangunan ini dahulu dihuni oleh seorang administrateur atau manajer pabrik. Jabatan administrateur dipegang oleh orang Eropa. Karena di lingkungan pabrik jabatan  merupakan jabatan yang tertinggi, maka rumah dinas nya dibuat dengan bentuk paling besar dan megah ( Wertheim. Wim F,1993 ; 272 ).

 

Sejak tahun 1951,bekas rumah administrateur ini dipakai sebagai SMP ( BPCB Yogyakarta, 109 ; 2014 ). Sebelum melihat bangunan ini lebih dekat, ada baiknya lapor dahulu pada satpam yang berjaga dan lebih baik lagi jika berkunjung usai jam belajar sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar.

 

Dahulu terbentang jalur kereta api lintas Magelang – Yogyakarta yang membentang lurus di depan halaman bangunan ini. Jalur kereta api ini sudah non aktif sejak tahun 1976 dan jalur rel nya  sekarang sudah tertimbun tanah akibat dampak pelebaran jalan. Administrateur yang dahulu tinggal di rumah ini pasti sering melihat kereta api yang melintas di depan rumahnya. Bangunan rumah dinas ini terekam pada salah satu video lama yang menceritakan perjalanan kereta api dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tugu. Dari video lama, terlihat halaman depan tertata rapi dan bersih,serta lingkungan sekitar yang  masih belum banyak bangunan.

 

Menurut keterangan penjaga sekolah yang dahulu tinggal di dekat sekolah, dahulunya di bagian halaman belakang rumah dinas ini terdapat arca – arca dari masa Kerajaan Mataram Kuno. Kemungkinan besar arca – arca ini dahulunya merupakan koleksi milik penghuni rumah ini. Pada zaman dahulu,biasanya administrateur pabrik gula gemar  mengkoleksi arca-arca yang ditemukan di daerah sekitar pabrik untuk dipamerkan pada tamu-tamu yang berkunjung.

 

Setelah mereka tidak menempati rumah itu,arca-arca itu tertinggal karena tidak sempat dibawa. Pernah salah satu arca pada bagian kepalanya raib diambil oleh orang, namun beruntung bagian kepala tadi dapat ditemukan kembali sebelum dijual ke luar negeri. Oleh karena itulah, demi alasan keamanan, arca-arca tadi dipindah ke kantor BPCB Yogyakarta. [  ]

 

Sumber : jejakkolonial

Referensi

-Dingemans,L.F.1925.Gegevens over Djokjakarta.

-Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 2014. Lensa Budaya 2 ;Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan.

-Inagurasi,Hari Libra. 2010. Pabrik Gula Cepiring di Kendal,Jawa Tengah Tahun 1835 - 1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Program Magister Arkeologi. Universitas Indonesia. Depok. Tesis.

-Johanes,Olivier.2015.Kota di Djawa Tempo Doeloe.Kepustakaan Populer Gramedia.Jakarta.

 -Wertheim,Wim F.Conditions on Sugar Estates in Colonial Java,Comparasion with Deli dalam Journal of Southeast Asian Studies Vol.24. No.2 University of Cambridge Press.

related posts