SPORTOURISM-- Kabuyutan atau hutan keramat yang masih terpelihara karena masyarakatnya kukuh menjaga amanat leluhur merupakan kearifan lokal para leluhur untuk menjaga keseimbangan alam.

 

Kabuyutan seolah menjadi benteng terakhir yang menyimpan air ketika  kekeringan melanda dan tempat resapan air ketika musim hujan tiba. Banyaknya banjir di wilayah perkotaan salah satunya disebabkan karena semakin hilangnya hutan alami. Maka tidak salah jika raja-raja di tanah Sunda-Galuh begitu menjaga kawasan kabuyutan dengan tegas.

 

SriJayabhupati dalam prasati ‘Sanghyang Tapak’ menuliskan sumpahnya untuk menjaga kawasan kabuyutan Sanghyang Tapak dengan ancaman yang mengerikan bagi yang melanggarnya. Ancaman itu tegas berbunyi:

 

“Tidak ada seorangpun yang boleh melanggar aturan ini. Di bagian sungai ini tidak boleh menangkap ikan, di kawasan pemujaan Sanghyang Tapak dekat hulu sungai. Jauh hingga ke batas Sanghyang Tapak yang ditandai dua pohon besar. Demikanlah tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah Kerajaan Sunda.”

 

Sumpah ini memanggil semua kekuatan gaib, dewata (hyang) dari langit dan bumi untuk membantu menjaga dan melindungi mandat sang raja. Siapa saja yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh segenap makhluk halus, mati dengan cara yang mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, ususnya dihancurkan, dan dada dibelah dua. Prasasti ini ditutup dengan kalimat, "I wruhhanta kamung hyang kabeh" (Oh ketahuilah kamu sekalian hyang).

 

Namun saat ini tidak sedikit kabuyutan yang berada dekat kawasan pengembangan kota, akhirnya tumpur dikorbankan demi dalil pembangunan. Demikian pula di pedalaman, pembalakan liar turut mengancam hutan larangan dan hutan alam yang seharusnya dijaga. Maka tidak heran jika alampun pada akhirnya menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Peristiwa banjir, longsor merupakan gerak alamiah alam dalam  mencari keseimbangannya.

 

Salah satu tempat yang masih konsisten menjaga kawasan hutan keramat di Kabupaten Ciamis adalah Kabuyutan Gandoang yang terletak  di Dusun Cipeucang, Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih Kabupaten Ciamis. Di arealnya yang tersisa sekitar 5 ha, masih terasa sejuk oleh rimbunan berbagai jenis pohon hutan dan rumpunan bambu.

 

Kabuyutan ini dulunya merupakan hutan belantara yang masih tersisa di Desa Wanasigra. Nama desa ini menyiratkan hal itu.  Wana berarti hutan dan sigra artinya besar. 

 

Kabuyutan Gandoang  merupakani komplek pemakaman kuno tinggalan peralihan masa klasik ke masa islam. Sosok yang ditokohkan dan menjadi leluhur bagi masyarakat Gandoang adalah Syeh Padamatang. pusaranya berada dipuncak hutan Gandoang.

 

Yang menarik, di areal hutan Gandoang tersebar puluhan bahkan ratusan jirat makam kuno tak dikenal.  Masyarakat Gandoang hanya mengenal beberapa makam utama yang menjadi leluhurnya.

 

Di samping hutannya yang masih segar, Kabuyutan Gandoang juga mewariskan tinggalan budaya yang komplek. Selain situsnya yang masih alami, juga meninggalkan beberapa sumber sejarah yang masih diliputi misteri.  Demikian pula dengan budaya tradisinya yang disebut Merlawu sampai saat ini masih berdenyut kuat di masyarakat Wanasigra.

 

Ritual tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Mulud setelah panjang jimat di Cirebon dilaksanakan. Perayaan itu dihadiri ribuan warga  memenuhi kawasan kabuyutan  untuk bertawasul di makam Syeh Padamatang.

 

Kondisi hutan yang rindang dan lebat berpadu dengan keindahan sungai Citanduy di bagian lembahnya yang landai dan dipenuhi bebatuan besar dan rimbunan pohon di pinggirannya menciptakan panorama sungai-gunung yang eksotik sehingga menarik untuk dijelajahi. Padahal, kawasan Kabuyutan Gandoang berada di perbatasan perkotaan Ciamis dan Tasikmalaya yang ramai.

 

Karena itu kawasan Kabuyutan Gandoang saat ini tengah dirancang untuk dijadikan salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kabupaten Ciamis. Karena tidak saja kondisi alamnya yang masih terjaga, namun terdapat juga tradisi budaya yang masih kuat serta keberadaan berbagai peninggalan sejarah dari masa klasik sampai masa kolonial yang masih ada dan tersimpan untuk  menjadi modal utama pengembangan wisata budaya.

 

Peninggalan masa kolonial yang dapat dilihat di Desa Wanasigra adalah banyaknya rumah-rumah kuno zaman belanda yang masih ditinggali oleh masyarakat. Jumlahnya lebih dari 50 bangunan. Selain itu terdapat juga jembatan lengkung khusus untuk pejalan kaki yang dibuat akhir abad 18.

 

Kabuyutan Gandoang juga menyimpan berbagai pusaka yang menarik untuk diteliti, terutama keberadaan naskah kuno yang ditulis di lembaran tembaga dan naskah berbahan kertas daluwang yang sampai saat ini masih diteliti isinya. Selain itu,  terdapat juga berbagai pusaka seperti keris, tumbak, pangot dll  peninggalan syeh padamatang yang saat ini disimpan di rumah Ki Lili, kuncen Gandoang.

 

Penelitian peninggalan sejarah di Gandoang secara intensif dilaksanakan tahun  2015 oleh Komunitas Sejarah Tapak Karuhun atas kegelisahan warga Paguyuban Gandoang saat itu, yang diwakili Lurah Cimamut, Nono Darsono, Ki Yudi Wahyudi dan Ki Lili Kuncen Gandoang yang mengharapkan tinggalan sejarah di kampungnya bisa diteliti.

 

Mereka juga menunjuk naskah kuno Gandoang berbahan kertas daluang juga  kearkeologian kabuyutan Gandoang, nilai budaya Merlawu dan kajian pemukiman masa colonial.

 

Peneliti Komunitas Tapak Karuhun yang terlibat diantaranya tiga filolog dari Kesultanan Cirebon, yaitu Ki Muhamad Mukhtar Zaedin, Ki Doddie Yulianto dan Ki Tarka Hanacarakajawa. Sedangkan dari arkeolognya adalah Mang Nanang Saptono dan Ceu Endang Widyastuti, keduanya, selain aktif di Tapak karuhun juga  merupakan arkeolog di Balai Arkeologi Bandung.

 

Penelitian yang  berlangsung terpadu melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan dari tingkat RT sampai tingkat  kabupaten yang diwakili oleh bidang kesejarahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ciamis.  Hasil penelitian berupa kajian nilai budaya, kini menjadi rekomendasi bagi Desa Wanasigra dan pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengembangkan Kabuyutan Gandoang sebagai tujuan wisata budaya yang komplek dan menarik.  [Pandu Radea].