SPORTOURISM – ‘Terpilih’ memiliki rambut gimbal bagi kepercayaan masyarakat Dieng, ibarat punya keistimewaan tersendiri. Karena, mereka percaya akan adanya titisan Kyai Kolo Dete, seorang yang dianggap sesepuh oleh warga Negeri Atas Awan.

Warga Dieng meyakini, memiliki anak dengan rambut tumbuh gimbal atau gembel merupakan tanda wilayahnya sejahtera. Ya, anak gimbal menurut kepercayaan Kyai Kolo Dete adalah tolok ukur kesejahteraan.

Pada zaman Kerajaan Mataran Islam, Kyai Kolo Dete adalah seorang punggawa, Ia hidup pada abad ke-14. Hingga kini, dirinya dianggap sebagai sesepuh yang tetap ‘hidup’ bagi masyarakat Dieng. 

Oleh karenanya setiap tahun, dalam pagelaran Dieng Culture Festival (DCF), pemotongan rambut gimbal ini dijadikan salah satu agenda khusus. Seperti pada gelaran DCF 2018 yang merupakan tahun ke-9 hadirnya acara budaya ini. 

Di hari terakhir, Minggu (5/8), ritual ini dimulai dari Jamasan Rambut Gembel pada jam 08.00 WIB. Saat langit kawasan Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah cerah para anak berambut gimbal pun dikumpulkan.

Tahun ini, DCF memotong 11 anak berambut gimbal, seluruhnya berjenis kelamin perempuan. Memang turun temurun, munculnya anak berambut gimbal lebih banyak pada anak perempuan. Tak menutup kemungkinan anak laki-laki, namun hal ini sangat jarang terjadi.

Setelah prosesi Jamasan, ritual dilanjutkan dengan Prosesi Ruwat Rambut Gembel. Seistimewa itu, proses pemotongan rambut gembelnya ini pun perlu melalui serangkaian acara adat. Jikalau sang orang tua tak menghendaki acara besar, warga Dieng bisa melakukan ritual tersebut dengan prosesi sederhana dengan bantuan sesepuh kampung.

Acara potong rambut ini pun tak sembarang, bagi masyarakat Dataran Tinggi Dieng hal ini akan dilakukan jika sang anak telah memintanya. Kalau dipotong sebelum diminta, rambut gembel akan kembali tumbuh.

Setelah dipotong, ritual diakhiri dengan Prosesi Larungan atau menghanyutkan rambut gembel yang telah digunting. Dalam DCF lalu, prosesi ini dilakukan di Telaga Warna kawasan Dieng, Kabupaten Wonosobo. Dihadiri oleh banyak warga pendatang maupun lokal yang ingin melihat prosesi ini.

Tumbuhnya Rambut Gimbal yang Penuh Misteri

Rachel (baju merah) pernah gimbal saat usianya 3 tahun.

Bagi warga asli Dataran Tinggi Dieng, tumbuhnya rambut gimbal memang menjadi ‘misteri’. Karena proses tumbuhnya rambut gimbal dimulai dari kenaikan suhu tubuh sang anak. Seperti yang dialami Habib, warga Jojogan, Kecamatan Kejajar Dieng, Kabupaten Wonosobo.

Ia memiliki anak yang juga ‘dianugerahi’ rambut gembel. Alisha Rachel Maahira namanya. Gadis yang kini telah berusia 8 tahun. Saat Rachel usia 3 tahun, Ia mengidap sakit panas hingga dua minggu. Hingga Habib dan istrinya, Barokah, datang ke tiga dokter.

Namun, tak satupun dokter yang mengerti mengapa panasnya tak turun. Hingga sesepuh di kampungnya memberi saran pada Habib untuk menggelar selamatan, siapa tahu anaknya itu calon anak gimbal.

Habib pun tak serta-merta percaya, namun Ia tak juga mengindahkan saran tersebut. Akhirnya, Habib bersama keluarga menggelar kenduri. Benar saja, pagi harinya setelah selamatan berlangsung, rambut Rachel tumbuh gimbal satu ulir. Sakit panasnya pun segera sembuh.

”Itu tandanya kalau mau gimbal, anak pasti panas dulu,” kata Habib, Sabtu (4/8). Rambut Rachel pun kian dipenuhi rambut gembel yang diawali dengan sakit panas.

Percaya tidak percaya, seperti Habib rasakan, perubahan perilaku nampak pada Rachel saat berambut gimbal. Punya kemampuan di atas rata-rata anak seusianya, tapi dengan suasana hati yang tak dapat ditebak.

Aneka Permintaan Aneh Anak Gimbal

Namanya anak-anak, ada saja permintaan yang harus dipenuhi. Tak terkecuali bagi anak yang punya rambut gimbal ini. Mereka punya permintaan yang berasal dari ‘dirinya’ yang lain.

Ya, setiap anak gimbal selalu punya permintaan unik sebelum dirinya diruwat dan diritualkan saat hendak dipotong rambutnya. Uniknya, permintaan itu bisa dibedakan. Seperti yang dikisahkan Habib saat Rachel meminta rambutnya dipotong diusia 6 tahun.

”Dia (Rachel) minta foto dengan burung merah yang sayapnya merentang,” ujarnya. Ia pun datang ke tiga kebun binatang untuk menemukannya. Habib mengaku hampir putus asa, sebelum akhirnya barisan merak di kebun binatang ketiga salah satunya menghampiri Rachel dan membuka sayapnya.

Aneh, tak masuk akal, namun begitulah adanya. Habib pun ‘terpaksa’ dibuat percaya dengan adanya hal-hal magis tersebut. ”Dulu saya tak percaya dengan mitos gimbal, tapi pas Rachel umur 3 tahun, saya dipaksa percaya,” katanya.

Rachel pun melalui ritual sederhana untuk memotong rambut gimbal. Ritual yang dibantu sesepuh kampungnya untuk memotong dan melarung rambut Rachel. Setelah dipotong, Rachel pun tumbuh biasa seperti anak-anak lainnya.

Sama halnya dalam DCF 2018 lalu, 11 anak gimbal yang melalui prosesi mengajukan banyak permintaan. Mulai dari es krim, kambing jantan, sepeda, mercon, mentok, hingga tablet gambar apel untuk bermain.

Unik dan aneh memang. Lucunya permintaan yang berasal dari ‘sesepuh’ anak rambut gimbal ini ditandai dengan berdirinya rambut gimbal mereka, seperti rambut Petruk dalam kisah pewayangan. Itu tandanya permintaan ‘anak istimewa’ ini bukanlah berasal dari dirinya sendiri. (Almira Putri)