Rencana pembelian hak penamaan Istora Senayan oleh Perusahaan perdagangan dalam jaringan Blibli masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan. Sebab, banyak pertanyaan, kritik, dan tudingan berbagai macam. Namun, tak sedikit yang mendukung rencana itu dengan harapan memajukan olahraga Indonesia sendiri.

Chief Executive Officer (CEO) Blibli, Kusumo Martanto, belum mau berkomentar lebih jauh. Menurutnya hal ini menjadi sensitif ketika sudah bergulir di masyarakat.

Apalagi, belum ada kesepakatan pasti bersama pengelola pengelola Istora Senayan atau Gelora Bung Karno yaitu pihak Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK-GBK) sebagai organisatoris Istora.

"Mendingan saya tidak komentar dulu deh saat ini. Pembicaraan sedang dalam proses nanti jika sudah jelas akan kami kabari, pokoknya yang penting kami ditawari untuk mendukung karena komitmen kami juga, karena lokasi itu untuk perhelatan olahraga juga," kata Kusumo dalam jumpa pers di Jakarta, Kemarin, Rabu 16 Mei 2018.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi tidak mempersoalkan pergantian nama tersebut. “Jadi polemik biasa jika ada sesuatu yang baru. Tapi dalam hal ini begini, kompleks GBK butuh biaya perawatan dan pasti butuh pemasukan untuk mempertahankan kualitas yang dimiliki dan itu tidak mungkin diambil dari APBN,” kata Imam beberapa waktu lalu.

Namun, dirinya memberikan alternatif lain pada isu tersebut. Jangan lah (diganti nama). Ini kan dibiayai APBN, jadi namanya harus tetap Istora Senayan.

Imam menambahkan kepada pihak swasta agar mereka hanya sekadar menyewa saja. Sebab, biaya sewa akan membantu pengelolaan dari venue terkait. "Seandainya ada pihak swasta yang ingin sewa, kita tentu terbuka. Tapi kalau sampai mengubah nama, saya kira jangan karena terlalu bersejarah," jelasnya.

Sebetulnya, di Eropa sendiri pembelian hak penamaan merupakan hal yang lumrah. Keduanya merupakan kerjasama yang sama sama menguntungkan di satu sisi sebuah produk atau perusahaan ikut menyumbang dana tak sedikit.

Sebagai contohnya, Stadion anyar Arsenal lebih dikenal dengan nama Emirates Stadium. Nama tersebut didapat setelah Emirates maskapai penerbangan asal Dubai-membayar Arsenal 100 juta paun pada 2004, kemudian 150 juta paun pada 2012. Kandang Arsenal akan terus bernama Emirates Stadium sampai 2028 berkat kesepakatan tersebut.

Penamaan stadion atau fasilitas olahraga lain oleh pihak luar banyak contohnya: Groupama Stadium (Lyon, Prancis), FNB Stadium (Johannesburg, Afrika Selatan), Allianz Parque (São Paulo, Brazil), Gillette Stadium (Foxborough, Amerika Serikat), Ajinomoto Stadium (Chofu, Jepang), Chang Arena (Buriram, Thailand), sampai ANZ Stadium (Sydney, Australia).

Dari semua polemik yang ada, hak penamaan dalam olahraga memang menjadi dua sisi mata uang tak bisa dipisahkan. Sekarang bagaimana cara menyikapinya dengan baik.

Istora Gelora Bung Karno atau Istora Senayan, merupakan stadion tertutup di dalam lingkungan Gelanggang Olahraga Bung Karno di daerah Senayan, Jakarta.

Gedung olahraga ini dibangun mulai sejak pada tanggal 24 Agustus 1962 sebagai kelengkapan sarana dan prasarana dalam rangka Asian Games 1962 mulai buka diresmikan sejak pada tanggal 24 Agustus 1962 yang diadakan di Jakarta.

Pemerintah meresmikan renovasi Istana Olahraga (Istora) yang berada di komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa sore (23/1/2018). (Foto: PUPR).

Untuk Asian Games 2018, Kawasan Olag Raga Senayan, Presiden Joko Widodo renovasi Istana Olahraga. Renovasi Istora dilakukan dengan kontrak rancang bangun (design and build) yang dikerjakan oleh PT. Adhi Karya (Persero) dan Atelier Enam KSO dengan biaya sebesar Rp 132 miliar.

Wajah baru Istora juga dilengkapi dengan pendingin ruangan yang menggunakan tipe AHU dan tentunya telah disesuaikan dengan corong udara pada sisi atap. Sehingga meskipun pertandingan sedang dilangsungkan, hal tersebut tidak akan mempengaruhi lambungnya shuttlecock di udara. Kenyamanan atlet juga didukung dengan flooring (karpet dan lantai dasar lapangan) kualitas terbaik.

Daya tampung Istora, sebelum direnovasi adalah 10.000 penonton dengan kursi kayunya. Sedangkan pasca renovasi, Istora menggunakan kursi tunggal lipat dengan kapasitas tampung 7.166 penonton.

Renovasi juga menyentuh sistem pencahayaan yang kini menggunakan lampu LED yang sesuai standar internasional berkekuatan 2000 lumens namun tidak menimbulkan panas berlebih.