SPORTOURISM-- Gunung Susuru merupakan patilasan dari Kerajaan Galuh Kertabumi, kerajaan vazal dari Kerajaan Galuh Pangauban yang didirikan Prabu Haur Kuning di Putrapinggan Kalipucang (sekitar 1530-1580 M).

Menurut riwayat yang menyebar dari wilayah Talaga, Prabu Haur Kuning  merupakan generasi keempat Prabu Siliwangi. Ayah Prabu Haur Kuning bernama Rangga Mantri atau Sunan Parung Gangsa (Pucuk UmumTalaga) yang menikah dengan Ratu Parung (Ratu Sunyalarang atau Wulansari).  Rangga Mantri adalah putra Prabu Munding Surya Ageung dari Mayangkaruna. Sedangkan Munding Surya Ageung adalah salah seorang putra Prabu Jayadewata dari Dewi Rajamantri.  Rangga Mantri yang awalnya beragama Buddha kemudian  masuk Islam setelah ditaklukan Cirebon tahun 1530 M.

Prabu Haur Kuning yang memiliki nama kecil Ujang Ayem, meninggalkan kerajaan ayahnya mencari tempat perlindungan (pangauban) yang jauh dari jangkauan Cirebon karena dirinya ingin mendirikan kerajaan penerus Pajajaran yang terancam runtuh, sekaligus membawa misi untuk membangkitkan kembali pamor Galuh. Mengingat pada saat itu kerajaan Galuh yang dipimpin Prabu Jayaningrat (1528 M) melakukan eksodus dari Kawali ke Rajagaluh, berperang  dengan Cirebon dan kalah di tahun itu pula.

Maka tahun 530 Masehi pasukan gabungan Pakungwati, Demak, dan Kuningan melakukan ‘pembersihan’ terhadap sisa‑sisa pasukan Kerajaan Galuh yang bertahan di Talaga. Akhirnya, pada 1531 wilayah Galuh berada di bawah kekuasaan Pakungwati Cirebon.  Tahun itu pula terjadi perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati untuk saling mengakui kedaulatan, tidak saling menyerang, dan mempererat rasa persaudaraan sebagai sesama keturunan Prabu Siliwangi.

Patut diduga pada saat genting itu, Ujang Ayem melakukan misi penyelamatan kadaulatan Kerajaan Galuh ke wilayah yang dipandang aman. Pertama ke lokasi di antara Sungai Cipamali dan Cisanggarung,  kemudian berpindah menuju Ciamis Selatan yaitu ke Citanduy di wilayah Putrapinggan Pangandaran.

Menurut R. Gun Gun Gurnadi, ahli genealogi dan cicit dari Dalem Wirabaya (Wiratmaka I) (bupati terakhir Kabupaten Ciancang 1658-1811 M), berdasar data silsilah dari ‘Sejarah Galoeh’, menyatakan Prabu Haur Kuning memiliki tiga orang putra. Mereka masing-masing bernama Maharaja Upama, Maharaja Sanghyang Cipta dan Sareuseupan Agung.  Ketiganya diduga kuat masihngagem (memeluk) agama Hindu-Buddha yang diwariskan Prabu Haur Kuning. 

Sebagai anak tertua, Maharaja Upama mewarisi Kerajaan Galuh Pangauban dari ayahnya. Maharaja Sanghyang Cipta diberi wilayah Salawe (Cimaragas) dan mendirikan Kerajaan Galuh Salawe. Sedangkan Sareuseupan Agung menjadi raja di wilayah Cijulang. Maharaja Sanghyang Cipta di Salawe mempunyai tiga orang putra, Tanduran Ageung, Cipta Permana dan Sanghyang Permana. 

Tanduran Ageung kemudian menikah dengan Rangga Permana.  Pada beberapa sumber yang mengacu pada tulisan sejarawan Nina Lubis, Rangga Permana disebut  putra Geusan Ulun. Padahal keterangan yang diperoleh dari sumber Sumedanglarang menyebutkan, Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri. Yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru yang merupakan putrid Sunan Pada. Istri kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, ketiga Nyi Mas Pasarean.

Dari ketiga istri tersebut Geusan Ulun dikaruniai 15 orang putra. Di antara mereka tidak ada nama Rangga Permana. R.Gun Gun Gurnadi menjelaskan bahwa Rangga Permana adalah putra Kyai Rangga Haji, sedangkan Rangga Haji adalah putra Pangeran Santri hasil pernikahan dengan Ratu Pucuk Umun.

Rangga Haji merupakan putra kedua dari enam bersaudara.  Kakaknya yang tertua bernama Raden Angkawijaya yang terkenal dengan nama Geusan Ulun. Jadi Rangga Permana adalah keponakan Geusan Ulun, bukan putranya. Wilayah Muntur pun diberikan Maharaja Sanghyang Cipta kepada Tanduran Gagang pada tahun 1585 M, sebagai hadiah perkawinan dengan Rangga Permana. Di wilayah tersebut kemudian berdiri Kerajaan Galuh Kertabumi dengan Rangga Permana sebagai penguasanya bergelar Prabu Dimuntur yang memerintah dari tahun 1585 sampai 1602 M.

Rangga Permana sebagai putra Kyai Rangga Haji merupakan penguasa Muslim pertama di Kawasan Galuh. Namun mertuanya yaitu Maharaja Sanghyang Cipta tetap menganut agama Hindu. Raja inilah penganut Hindu terakhir di wilayah Galuh yang ketika meninggal jasadnya dilarung di Sungai Ciputrapinggan, diantar atau diiringi perahu-perahu lainnya sampai ke laut selatan (Pangandaran). Dalam tradisi khas Galuh kuno ritual tersebut disebut nerebkeun.

Adiknya Tanduran Ageung yang bernama Cipta Permana diberi wilayah Kawasen (Banjarsari)  dan mendirikan kerajaan Galuh Kawasen. Sedangkan Sanghyang Permana mewarisi kerajaan ayahnya memerintah di Galuh Salawe (Cimaragas) dengan gelar Prabu Digaluh. Masa berdirinya Kerajaan Galuh Kertabumi merupakan masa pengembangan agama Islam dari Cirebon dan Sumedang ke wilayah Kerajaan Galuh.  Adanya pertalian kekerabatan disertai  kesadaran akan pengaruh Islam yang semakin kuat dan gencarnya dakwah para ulama Islam, membuat keturunan Prabu Haur Kuning tidak melakukan perlawanan.

Jejak Tanduran Ageung yang menjadi Muslimah diikuti adiknya, Cipta Permana (penguasa Kawasen) yang memeluk Islam ketika menikahi Nyi Anjungsari, putri Pangeran Mahadikusumah penguasa Dianjung Kawali, cucu Pangeran Dungkut yang telah diangkat Cirebon sebagai penguasa Kawali di tahun 1528-1575 M.

Sejak saat itulah pengaruh Islam semakin kuat di Kerajaan-kerajaan Galuh.

Menurut hasil kajian Komunitas Tapakkaruhun tentang Gunung Susuru, nama Muntur sebagai wilayah kekuasaan Galuh sudah tercatat abad 8 M. Naskah ‘Carita Parahyangan’ mengisahkan upaya Dangiang Guru Rahyang Sempakwaja dalam menyikapi kekalahan Sanjaya saat menghadapi trisula Galuh, yang terdiri dari  Sang Wulan, Tumanggal dan Pandawa. Maka  untuk mencegah Sanjaya membalas dendam ke Kuningan yang juga merupakan wilayah kekuasaannya, sesepuh Galuh ini mengangkat beberapa pejabat setingkat bupati (buyuthaden) yang dianggap bisa menjaga kesetabilan pemerintahan. Salah satunya adalah Buyuthaden (Bupati) Pagergunung sebagai penguasa di Muntur.

Artinya sejak abad 8 M, Muntur yang menguasai kawasan sepanjang Sungai Cimuntur sudah eksis dan berperan cukup penting. Sedangkan Pagergunung merupakan wilayah di kecamatan Cisaga saat ini. Nama Pagergunung pun beberapa abad berikutnya digunakan oleh salah satu cucu Prabu Dimuntur  yaitu Rd Apun Pagergunung yang menjadi penguasa Galuh Kertabumi tahun  1618-1641, dengan gelar Rd Adipati Singaperbangsa II.

Nama Muntur kemudian disebut sebagai wilayah yang turut diserang oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa di Pajajaran tahun 1521-1535 M,   dengan istilah ‘Prangrang Ka Muntur’. Serangan Surawisesa tersebut untuk menegakkan kembali kekuasaan Pajajaran di beberapa daerah yang mulai berontak akibat pengaruh Cirebon yang dibantu Demak.

Muntur termasuk daerah di kawasan Galuh yang mulai terbawa pengaruh Islam Cirebon,  sehingga Surawisesa merasa perlu untuk menegakkan kembali kedaulatannya.  Putra Jayadewata yang perkasa ini telah melakukan 15 kali perang dengan memimpin seribu prajurit dan tidak pernah kalah.  Banyaknya makam pemuka Islam dari Cirebon di kawasan sekitar Muntur seperti di Sukadana, Rancah, Rajadesa dan Cisaga,  menjadi indikasi adanya pengaruh Cirebon yang kuat di Kawasan ini.

Antara tahun 1535 sampai tahun 1585 M tidak terdengar  lagi kisah tentang Muntur. Kemungkinan besar wilayah Muntur kosong kekuasaan semenjak diserang Prabu Surawisesa. Baru terdengar kembali gaungnya setelah Rangga Permana mendirikan kerajaan Galuh Kertabumi di Kawasan Gunung Susuru.

Rangga Permana atau Prabu Dimuntur meninggal tahun 1602 dan dimakamkan di Dusun Sukamulya, Desa Kertabumi. Komplek makam menempati bagian teratas sebuah bukit kecil yang dikelilingi persawahan penduduk. Di sebelah barat bukit kecil itu mengalir Sungai Cimuntur. Salah satu jenis pohon yang tumbuh di lokasi tersebut adalah pohon bungur yang sudah cukup tua berada di sebelah utara makam. Pada saat ini pohon bungur tersebut terbelit oleh akar pohon Kiara. Menurut penuturan Pak Eman (juru kunci ketujuh) pohon Bungur tersebut ditanam oleh Prabu Dimuntur pada waktu beliau membuka lahan di komplek makam dan di sekitarnya.

Penguasa berikutnya adalah Sang Raja Cita, putra Prabu Dimuntur menjadi penguasa Kertabumi bergelar Kertabumi I (1602-1608) dengan pangkat adipati.  Pada waktu itu kekuasaan Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang (1580-1608 M) meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) dengan Kutamaya sebagai ibukota kerajaannya.

Wilayah Galuh (Ciamis) tidak dikuasai Sumedang. Namun yang menarik adalah turunnya gelar Sang Raja Cita dari prabu menjadi adipati. Kemungkinan besar hal tersebut  disebabkan  Cirebon tunduk kepada Mataram tahun 1595 M, yaitu pada masa Panembahan Senopati (1586-1601) yang berhasil memaksa Cirebon tunduk kepada Mataram.

Hal tersebut mengubah situsi politik dan kekuasaan di Galuh, karena pada perkembangannya Mataram memasukan Galuh dalam wilayah Cirebon. Pengaruh Mataram Islam kemudian semakin kuat di wilayah Galuh di masa kekuasaan Sultan Hanyokrowati (1601-1613). Turunnya gelar Prabu menjadi  adipati bagi Sang Raja Cita awal tahun 1600  agak luput dari perhatian  tentang  perubahan  politik yang menyebabkan gelar raja, susuhunan, prabu, diganti menjadi adipati. 

Peristiwa tersebut lebih dulu dialami oleh Sang Raja Cita daripada Adipati Panaekan yang diberi gelar adipati pada tahun 1618 M. Selama ini Adipati Panaekan dianggap tokoh pertama di Galuh yang diangkat oleh Sultan Agung untuk dijadikan sebagai Adipati  di wilayah Galuh.  Setelah wafat Raja Cita dimakamkan di Kampung Buner, Desa Bojongmengger. Putri Raja Cita bernama Natabumi diperistri oleh Ujang Ngoko alias Adipati Panaekan Putra Prabu Di Galuh Cipta Permana. Sedangkan putra kedua Raja Cita yang bernama Wiraperbangsa kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Adipati Singaperbangsa I (1608-1618).

Singaperbangsa I kemudian memindahkan pusat Kerajaan Galuh Kertabumi dari Gunung Susuru ke Banjar Patroman (Desa Banjar Kolot). Penyebab perpindahan tersebut disebabkan perselisihan paham antara Singaperbangsa I dengan Adipat Panaekan (kakak iparnya) dalam rencana penyerangan terhadap Belanda di Batavia.

Adipati Panaekan condong kepada rencana Dipati Ukur untuk menyerang secepatnya ke Batavia sebelum kekuatan Belanda makin besar. Sedangkan Singaperbangsa I lebih sependapat dengan Rangga Gempol yang merencanakan membangun kekuatan dengan mempersatukan wilayah Priangan. Rangga Gempol adalah penguasa Sumedanglarang (1620 M) dan berada di bawah pengaruh Sultan Agung Mataram.

Perbedaan pendapat itu mencuat ketika keduanya sedang menikmati acara berburu bersama di kawasan hutan Karangkamulyan. Lama-lama kemudian memuncak menjadi pertengkaran. Tanpa diduga Singaperbangsa I yang dikenal berwatak keras ini menikam Adipati Panaekan sampai meregang nyawa. Mayatnya digusur dan dibuang ke Cimuntur.  Jasad itu terbawa hanyut sampai kemudian diangkat di Patimuan Karangkamulyan oleh para pengawalnya yang tak bisa berbuat banyak menyaksikan peristiwa itu.

Jenazah Adipati Panaekan kemudian dimakamkan di Karangkamulyan. Akibat peristiwa tragis itu membuat Singaperbangsa I tidak genah tinggal di Gunung Susuru, sehingga akhirnya pindah ke Banjar Patroman. [selesai]

Penulis: Pandu Radea  (Komunitas Tapak Karuhun)