Oleh : Pandu Radea  (Komunitas Tapak Karuhun)

SPORTOURISM-- Adanya temuan dan kegiatan penelitian tersebut memunculkan berbagai rumor dikalangan warga sekitarnya. Apalagi setelah tempat itu semakin diyakini sebagai  pusat pemerintahan Galuh Kertabumi.

Yang paling santer terdengar adalah berita ditemukannya sebuah bokor yang terbuat dari emas di dalam sebuah gua. Hal itu tentu saja memancing penduduk yang lainnya untuk datang berburu harta karun yang diduga masih banyak terpendam.Tak ketinggalan, cerita-cerita misteri pun meruak menjadi bahan obrolan di ingkungan warga. Seperti cerita tentang auman harimau di sekitar Gua Macan 1 dan 2 yang kerap terdengar oleh warga, atau berbagai kabar aheng lainnya. Kabar aheng artinya berita heboh yang dekat-dekat ke musykil.

“Maklum namanya juga berita, sejengkal menjadi semeter, dibumbui lagi sehingga banyak rumor di masyarakat,” ujar Ki Adang. Lebih jauh, lelaki yang terlihat masih jagjag belejag alias sehat wal afiat ini menceritakan bahwa memang warga banyak menemukan berbagai benda. Sejenis perhiasan pun pernah ditemukan warga. Namun tidak ada yang terbuat dari emas melainkan dari bahan bebatuan indah.

Gua Kamuning. Beberapa warga menemukan berbagai barang kuno di sini.

Sedangkan temuan lainnya kebanyakan terbuat dari tanah liat, batu dan besi. Piring dan poci yang berbahan porselin banyak ditemukan. Ketika saya melihat contoh piring tersebut ternyata ada cap Hong Botan-England di belakangnya. Piring tersebut Ki Andang sudah dibuktikan sebagai piring anti-basi dengan menyimpan makanan basah selama seminggu ternyata  teu haseum-haseum.

“Namun sejak diumumkan bahwa benda-benda temuan tersebut dilindungi undang undang, akhirnya warga banyak yang menyetorkan temuannya kepada saya. Tapi ada juga yang menyimpannya karena dianggap jimat,” kata Ki Adang.

Lokasi lainnya yang dinilai penting adalah makam Nyi Tanduran Sari (selir Prabu Dimuntur). Di tempat ini paling banyak ditemukan arang, keramik dan gerabah. Makamnya tidak jauh dari bekas pemukiman penduduk dan pasar kuno.

Sebelum tahun 1920-an beberapa kandang kuno yang ukurannya basar pernah disaksikan keberadaannya oleh sejumlah tetua kampung. Letaknya bersebelahan dengan lokasi pasar kuno. Demikian juga batu-batu bata heubeul bekas pondasi rumah sat itu masih banyak berserakan. Sekian banyaknya temuan yang dititipkan di Ki Andang membuat dirinya sedikit khawatir kerena takut ada yang hilang.

Selama ini benda-benda tersebut hanya disimpan seadanya. “Saya berharap pemerintah Ciamis membuatkan tempat untuk menyimpan benda-benda cagar budaya ini.”

Jejak eksistensi Kerajaan Galuh Kertabumi dari keberadaan Gunung Susuru tersebar di beberapa tempat di Kawasan Desa Kertabumi. Makam Prabu Di Muntur lokasinya berjarak sekitar 2 km dari Gunung Susuru. Demikian pula jika ingin melihat Sumur Batu yang aheng, harus meuntas Walungan Cimuntur karena letaknya di seberang Gunung Susuru. Sedangkan Sumur Taman yang khasiat airnya dipercaya untuk perjodohan, terdapat di perkebunan penduduk yang berbatasan dengan gawir Cimuntur. Belum lagi Curug Kamuning yang letaknya di tebing Cileueur, berseberangan dengan ujung Gunung Susuru.

Munculnya nama Gunung Susuru ke permukaan tidak lepas dari peranan H. Djaja Sukardja yang saat itu menjabat sebagai kepala seksi Kebudayaan Depdiknas Ciamis tahun 2000. Kepentingannya dalam menyusun buku ‘Sejarah Kota Banjar’, membawa dirinya dalam penelusuruan ke Gunung Susuru yang merupakan patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa Singaperbangsa I yang merupakan cicit Prabu Dimuntur, adalah tokoh yang  memindahkan pusat pemerintahan dari Galuh Kertabumi ke Banjar Pataruman, sehingga Singaperbangsa I dianggap sebagai peletak dasar berdirinya kota Banjar.

Untuk memenuhi kelengkapan data yang tengah dikumpulkan, H. Djaja Sukardja menugaskan Penilik Kebudayaan Cijeungjing yang bernama Deni SIP untuk terjun langsung ke lokasi. Saat itu keadaan Gunung Susuru terbengkalai dan gersang, setelah ditinggalkan para petani karena tanah di tempat tersebut sudah tidak subur.

Berbagai temuan Deni di lapangan sangat mengejutkan, sehingga selanjutnya tempat tersebut menjadi objek penelitian para ahli yang berkaitan di bidangnya.  Lain halnya dengan Ki Adang yang sudah menduga bahwa Gunung Susuru bukanlah tempat samanea alias asal-asalan.

Sejak kecil lokasi tersebut adalah tempatnya bermain. Kala itu keadaan lingkungannya masih utuh. Ki Adang memperkirakan 50 persen keaslian Gunung Susuru telah berubah dan hilang. Sayangnya, tumbuhan Susuru yang dijadikan nama dari tempat ini tidak lagi tumbuh subur seperti di zamannya.

Konon waktu itu susuru merupakan tumbuhan yang menghiasi taman keraton Galuh Kertabumi atau dipergunakan juga tanaman pagar keraton. Ki Andang pernah memelihara tanaman tersebut di rumahnya,  namun lambat laun habis karena banyak yang meminta untuk dikoleksi. 

Masyarakat Kertabumi pun akhirnya peduli untuk menyelamatkan situs tersebut. Maka, saat dilaksanakan penghijauan pada 11 Oktober 2000 sekitar seribu orang warga bergerak membantu pemerintah untuk memulihkan tempat tersebut mendekati asalnya.

Hasilnya kini Gunung Susuru menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Pohon-pohon Jati yang ditanam saat penghijauan kini sudah merindangi Gunung Susuru. Saat ini Gunung Susuru sudah dikembangkan dan ditata sebagai salah satu objek wisata sejarah Kabupaten Ciamis. Beberapa bangunan fisik didirkan dikawasan situs ini.

Di satu sisi hal tersebut membantu bagi kenyamanan berwisata, namun disisi lain pembangunan fisik yang bersifat permanen yang didirikan dikawasan situs justru mengancam hilangnya konteks nilai budayanya, mengingat kawasan Situs Gunung Susuru dan sekitarnya di duga kuat masih menyimpan banyak menyimpan potensi artefak yang belum tergali.

Penataan dan penambahan fasilitas baru seperti mushola dan sarana air itu  mulai membangkitkan animo wisatawan untuk berkunjung ke kawasan ini. Di samping wisata sejarah, kawasan Kertabumi juga memiliki potensi untuk pengembangan wisata buah-buahan dan hiking dengan track yang tidak begitu berat.

Di musim kemarau, kawasan Sungai Cimuntur maupun Cileueur menarik untuk dituruni dan ditelusuri tepiannya yang landai namun dipenuhi bebatuan besar, sehingga beberapa objek sejarah seperti Sumur Batu dapat terlihat dengan jelas bentuknya. Curug Kamuning di bagian tenggara Gunung Susuru dapat dinikmati langsung dari pinggir sungai.

Masyarakat di wilayah Kertabumi ternyata memiliki tradisi budaya yang bernama Merlawu. Ritual acaranya terdiri dari ngarekes, medar sajarah, dan susuguh. Waktu  penyelenggaraannya dilaksanakan setiap bulan Rewah,  Hari Senin atau pada Hari Kamis terakhir di bulan itu dengan dipimpin Aki Kuncen.  Kegiatan  tersebut merupakan bentuk syukuran hasil panen warga Kertabumi dan sekitarnya.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1535 M, sekaligus sebagai warisan dari perilaku budaya masyarakat di Kerajaan Galuh Kertabumi yang masih tetap dipelihara sampai saat ini. 

Nama Merlawu sebagai ritual tradisi juga dikenal di Situs Gandoang Wanasigra, Sindang Kasih Ciamis yang berjarak sekitar 15 km dari Gunung Susuru.  Kesamaan nama ini juga menarik untuk dikaji karena esensi dari kegiatannya juga memiliki kesamaan. Sepertinya dari sisi budaya, kedua wilayah ini memiliki hubungan erat pada masanya. [bersambung]