Oleh  : Pandu Radea (Komunitas Tapak Karuhun)

SPORTOURISM-- Langit di atas tanah Kertabumi siang itu lumayan cerah, sedikitnya mengusir kecemasan akan hujan yang biasa turun pada waktu-waktu seperti ini.

Memasuki Kampung Bunder, perumahan penduduk terlihat resik dan asri. Halamannya yang luas ditumbuhi dengan berbagai pohon buah-buahan yang didominasi pohon rambutan. Kertabumi memang termasuk salah satu sentra penghasil buah-buahan. Selain rambutan, buah dukuh pun banyak dipasok dari daerah ini. Jika musim panen tiba, sepanjang jalan Provinsi Ciamis Banjar banyak penjual buah-buahan berjejer di pinggiran. Rambutan, dukuh, campedak, durian dll, segar menggoda para pelintas jalan.

Kampung Bunder terletak di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Di tempat ini terdapat situs sejarah yang nilainya sangat penting bagi Kabupaten Ciamis dan Kotif Banjar. Oleh masyarakat setempat, situs sejarah itu disebut Gunung Susuru.

makam Prabu Dimuntur

Sebetulnya tempat tersebut lebih merupakan sebuah bukit ketimbang disebut gunung. Namun karena babasaan di masyarakat sudah nempel sejak ratusan tahun, maka sampai saat ini pun  nama Gunung Susuru tetap lestari.  Disebut Gunung Susuru karena  konon ditempat tersebut dulunya dipenuhi pohon Susuru, yaitu sejenis kaktus yang hanya tumbuh di sana.

 “Gunung Susuru adalah tanah desa, namun tahun 1960 diolah oleh masyarakat untuk ditanami jagung. Karena dijadikan lahan kebun, maka pohon Susurunya ikut ditebang. Akan tetapi masa subur tanah hanya berlangsung 15 tahun, sehingga sejak 1975 ditinggalkan,” kata Ki Adang, sesepuh yang sudah bertugas sebagai juru pelihara situs sejak 2000, mendampingi Ki Eman sebagai juru kunci, memaparkan. Lebih jauh Ki Adang menjelaskan, semenjak tidak diolah lagi Gunung Susuru keadaanya sangat boneas (gersang) dan terbengkalai.

Ketinggian Gunung Susuru mencapai sekitar 100 meter. Dari atas puncaknya pandangan mata pun akan dimanjakan dengan keindahan alam yang mempesona. Hamparan sawah nampak serasi, beradu manis dengan rangkaian perbukitan. Dihiasi dua sungai besar di sisi kiri-kanannya, yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Cileueur, melingkar-lingkar  lir Nagaraja Taksaka. Di balik kisah kegersangan Gunung Susuru, ternyata di kawasan ini menyimpan bukti kesejarahan yang melimpah dengan banyak ditemukan bukti peradaban dari beberapa periode sejarah, yaitu masa megalitik, hindu, dan masa Islam.

Djaja Sukardja yang mendokumentasikan proses awal penemuan situs mengungkapkan dalam ‘Patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi’, bahwa Situs Gunung Susuru usianya diperkirakan lebih tua dari situs Karang Kamulyan. Minimalnya sezaman, yaitu dari abad ke 7 M.

Jarak lurus Gunung susuru dengan situs Karangkamulyan sekitar 6 km. Situs Karangkamulyan dipercaya sebagai purasaba Kerajaan Galuh saat didirikan oleh Wretikandayun abad 7 M.

Gejala terungkapnya kesejarahan Gunung Susuru sebetulnya sudah terasa semenjak tanah di Gunung Susuru diolah oleh masyarakat dengan ditemukan berbagai artefak sejarah, baik yang berbahan tulang, batu, tanah liat, keramik, manik-manik maupun dari  besi.  Namun pada saat itu pemahaman masyarakat tentang nilai sejarah belum tumbuh, sehingga benda-benda yang ditemukan tersebut banyak yang hilang, dijadikan jimat dan koleksi pribadi.

Hanya sebagian kecil saja yang diserahkan kepada pemerintah. Temuan artefak sejarah oleh warga yang kini disimpan oleh Ki Adang diantaranya  fosil tulang binatang, gigi graham manusia, kapak batu, dua buah batu slinder, lumpang batu, batu korsi, menhir,  dolmen, batu peluru, piring,  poci keramik serta  tiga buah keris dengan luk berbeda. 

“ Situs Gunung Susuru dibatasi Sungai Cileueur di sebelah selatan, Sungai Cimuntur sebelah utara, Patimuan sungai di sebelah  timur laut  dan Benteng kuno di sebelah barat,”kata Ki Andang.

Patimuan merupakan tempuran atau lokasi pertemuan dua sungai yaitu  Cimuntur dan Cileueur. Sedangkan Benteng kuno membentang melintasi desa dari sisi Cimuntur ke sisi Cileueur sepanjang kurang lebih dua km.   Benteng kuno tersebut terbuat dari susunan batu dengan ketinggian satu meter. Namun kini keadaanya tidak utuh lagi  dikarenakan alurnya melintasi daerah permukiman sehingga oleh masyarakat batunya dipergunakan untuk pembangunan rumah. Sebagian lagi digunakan pembuatan jalan aspal. Namun di beberapa tempat pondasi maupun strukturnya masih dapat dilihat  walau kurang jelas.

Nilai kesejarahan dari banyaknya temuan masyarakat akhirnya membuat para ahli sejarah turun tangan untuk  meneliti kawasan Gunung Susuru. Diantaranya dengan digelarnya penelitian oleh Tony Djibiantoro dan Ir. Agus dari Balai Arkeologi Bandung, serta Dr.Fachroel Aziz dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung.

Walaupun masih satu kawasan dengan Gunung Susuru namun blok  barat laut situs Gunung Susuru  ini merupakan situs terpisah yang disebut Situs Bojong Gandu. Temuan yang bersifat artefaktual di Bojong Gandu diantaranya fragmen keramik, fragmen tembikar dan kerak besi. Selain adanya benteng dari balai batu, di kawasan ini juga diduga terdapat pasar kuno.

Menurut Endang Widyastuti, salah seorang arkeolog yang terlibat dalam penelitian menyatakan tipologis fragmen kramik di Bojong Gandu ini berasal dari bentuk mangkuk, piring,  cawan, cepuk,  pasu, buli-buli, tempayan, dan vas yang berasal dari Cina, Thailand, Vietnam dan Eropa.

Yang terbanyak ditemukan adalah fragmen keramik dari Cina masa dinasti Ming dan Qing. Namun dari sekian jenis fragmen tembikar, ada satu fragmen yang sampai saat ini belum bisa teridentifikasi fungsinya, yaitu Kue Bojong Gandu.

“Kue Bojong Gandu ini menarik sekali, sampai saat ini fungsinya belum diketahui dengan pasti. Padahal terakota berbentuk kue ini ditemukan juga di situs Gunung Wingka, Bantul, Yogyakarta. Pernah juga ditemukan di situs Karangkamulyan, Gunung Raja (Tasikmalaya), dan Benteng Sabut, Tulangbawang Barat, Lampung,” ujar Nanang Saptono, arkeolog pakar pemukiman yang juga turut mencermati temuan artefak di Situs Bojong Gandu. 

Selain terakota “kue”, di  Bojong Gandu  juga ditemukan pecahan kibu (kendi) dan tumang (tungku berkaki tiga khas lampung) yang juga ditemukan di Lampung dan temuan kibu Trowulan. Temuan yang sama ini menggambarkan adanya interaksi budaya antara Gunung Susuru, Lampung dan Majapahit.

Kawasan Gunung Susuru merupakan bukit yang terbentuk dari batuan breksi vulkanik dan secara geologis termasuk zona Bandung yang sebagian besar tertutupi oleh oleh endapan hasil gunung api resen dengan singkapan endapan tersier di beberapa tempat (Agus dan Djubiantono 2000:4).

Di Situs Gunung Susuru juga terdapat 5 buah gua. Namun yang telah diteliti baru tiga gua. Berdasarkan keadaan fisiknya gua tersebut merupakan gua buatan (artficial caves) yang dibentuk di tepi tebing dengan kemiringan 75 derajat.  Gua-gua tersebut dinamakan Gua Kamuning, Gua Macan 1 dan Gua Macan 2.

Temuan masyarakat di lokasi gua diantaranya pecahan tembikar,  gigi Bovidae (kerbau purba), gigi Sus (babi),  pecahan gerabah fragmen tulang dan  graham manusia. Fragmen tulang dan graham  manusia yang ditemukan mendekati fosil atau sub fosil (Agus,2001). Ketiga gua tersebut sudah dinyatakan sebagai BCB Tak Bergerak.

“Menurut para ahli, kalau di dalam gua ditemukan pecahan gerabah atau fosil maka bisa jadi gua tersebut digunakan sebagai kuburan,”kata Ki Andang yang mengetahui setiap lekuk Gunung Susuru. Bahkan menurutnya masih terdapat dua gua lagi yang belum diteliti oleh tim arkeolog sehingga belum ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB). 

Memang potensi BCB yang belum ditemukan sangatlah besar. Di areal situs yang luasnya tujuh hectare ini ternyata masih terdapat beberapa batu yang diprediksi kuat sebagai sisa kebudayaan ‘zaman baheula’. Seperti contohnya batu tingkat yang ukurannya sangat besar, dan batu bergaris yang guratnya lebih dari seratus baris.

Sebagai pembanding lainnya,  batu bergaris juga terdapat di situs Astana Gede Kawali dan Situs Batu Tulis Bogor dengan jumlah garis dan ukuran batunya jauh lebih sedikit dan kecil di banding batu bergaris di Gunung Susuru.Jika batu bergaris di Gunung Susuru itu merupakan buatan manusia, tidak mustahil suatu saat akan ditemukan juga batu prasasti, sebagai sebuah bukti otentik yang dapat mengungkap fakta sejarah di zamannya.

Pada beberapa tempat jejak teras dan undakan masih terlihat jelas dengan balay batu. Dari penelitian Komunitas Sejarah Tapakkaruhun memperkirakan terdapat 17 teras /undakan berbalai batu dari kaki Gunung Susuru, baik dari sisi Sungai Cileueur maupun Sungai Cimuntur.

Kenyataan  tersebut semakin menjelaskan bahwa Gunung Susuru dan Bojong Gandu merupakan bekas sebuah pusat keagamaan  yang berkaitan dengan keyakinan adanya ruh leluhur (hiyang) sekaligus kabuyutan yang bersifat kawikuan, yaitu pemukiman khusus tempat bermukimnya para wiku dan cantriknya yang cukup besar, setingkat pesantren ternama saat ini. 

Gunung Susuru adalah gunung yang disakralkannya, tempat bertapa, menyepi sekaligus belajar agama, terdapat 4 lokasi batu patapaan, yang orientasinya digunakan untuk pemujaan, bertapa dan memberikan ceramah keagamaan.

Lokasi sakral Gunung Susuru ini ditandai oleh jalur jalan yang menyempit saat akan mendaki  ke Gunung Susuru (Lemah Singapurusa).

Sedangkan wilayah Bojong Gandu merupakan pemukiman yang pada masanya tentu ramai dikunjung oleh para pendatang/peziarah yang ingin mendalami agama. Adanya dugaan bekas pasar kemungkinan tempat berinteraksi pada saat diselenggarakan upacara keagamaan.

Namun pemukiman ini bisa saja kawasan keraton atau pemukiman para cantrik dan wikunya. sehingga banyak ditemukan artefak.  dan  termasuk adanya mata Air Taman yang merupakan petirtaan. Orientasi Barat (Bojong Gandu) dan Timur (Gunung Susuru) cocok dengan konsep pemukiman dalam Waruga Lemah yang menempatkan timur dan utara sebagai arah yang disakralkan demikian juga dengan adanya tempuran dan air terjun. (Tapakkaruhun 2007)

Semua puncak punden, mengacu pada konsep ngalinggamanik (puncak permata) menjadi ciri tinggalan religi pada masa megalitikum yang masih digunakan sampai pada jaman klasik. Patapaan 1 merupakan punden utama yang berundak dan cukup luas. Sementara tiga punden lainnya tersebar ke arah timur.

Punden-punden Gunung Susuru seperti halnya punden berundak lainnya di Sunda merupakan arsitektur ruang  yang telah berkembang sejak jaman pra sejarah, maka dapat diduga bahwa Punden berundak Gunung Susuru merupakan peninggalan yang lebih tua dari Kerajaan Galuh Kertabumi yang memanfaatkan Gunung Susuru sebagai wilayah sakralnya.

Dengan belum ditemukannya anasir Hinduisme di Gunung Susuru, maka  anasir kuat keagamaan di Gunung Susuru adalah  agama wiwitan yang perkembangannya diduga menguat kembali diabad 15-16 M, masa transisi sebelum Islam masuk wilayah Galuh.

Sebagai tempat melakukan kegiatan riligi maka di Gunung Susuru pun banyak di temukan menhir dan dolmen. Menhir melambangkan adanya hubungan vertical dengan ruh seorang pemimpin yang telah meninggal dunia. Ada 4 punden, baik yang berundak maupun merupakan batur tunggal yang susunannya masih terlihat.

Keempat punden ini sebut Batu Patapaan.  Bahkan dolmen yang terdapat di Patapaan 4 diduga adalah sarkofagus (peti kubur batu) karena ketika ada penggalian di bawahnya terdapat batu penyangga. Dengan  bukti-bukti tersebut, semakin jelas bahwa Gunung Susuru merupakan peninggalan dari kebudayaan megalit  (kebudayaan besar). Sedangkan temuan berupa kampak batu, manik-manik, pecahan tembikar, merupakan ciri zaman Batu Muda (Neolitikum) yang diperkirakan berkembang 1.500 tahun sebelum Masehi.

Penelitian arkeologi dan sejarah yang mindeng dilakukan di tahun 2000, baik itu dari Arkenas Jakarta, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang,  Balai Arkeologi Bandung maupun dari komunitas sejarah serta berhasil mendapatkan berbagai temuan dan analisa membuat tempat ini menjadi pembicaraan di berbagai kalangan.

Gunung Susuru akhirnya menjadi sebuah bukti penting adanya tingkat peradaban manusia yang sudah sangat tua usianya. Dan hal tersebut semakin mengukuhkan Kabupaten Ciamis sebagai wilayah yang sarat akan sumber sejarah peradaban sunda. [Bersambung]