Oleh  : Pandu Radea*

SPORTOURISM— “Dae, Daeu mupu kembang/ Mupu kembang jeung nu lenjang/ Nu lenjang pupuk lampuyang/Lain pupuk lain pamidangan/Di pupuk tamba hareudang”

 

Itulah salah satu kawih kuno paparikan Gondang Buhun Kampung adat Kuta yang kini semakin sering dilantunkan. Dulu, kawih yang berjudul Mupu Kembang  ini sedikit sekali yang menguasainya, yaitu hanya kalangan pewaris seni Gondang Buhun saja.

 

Kini setelah adanya program pewarisan dari generasi tua ke generasi muda, seni Gondang Buhun Kampung Kuta berdenyut kembali.

 

Seni Gondang Merupakan kesenian  khas masyarakat agraris yang sudah berkembang sejak jaman klasik.  Kesenian ini berkembang  dalam  budaya huma dan sawah. Keberadaan padi dan alat penumbuknya, membangun rasa kreatif yang akhirnya melahirkan kesenian Tutunggulan.

 

Seni Tutunggulan muncul lebih awal dibanding gondang. Karena berkaitan dengan proses pengolahan padi menjadi beras yang membutuhkan perangkat Alu dan lesung sebagai alat manual untuk mengupas kulit padi dengan cara ditumbuk.  Suara lesung  akibat halu saat menumbuk padi mengahsilkan bunyi yang  teratur.

 

Pekerjaan menumbuk padi selepas panen, yang dilakukan oleh kaum wanita biasanya dilakukan secara bergotong royong, dan jika dilakukan pada satu lesung yang sama, maka mau tidak mau menimbulkan suara bertalu bersahutan yang kemudian sejalan dengan perkembangannya dijadikan inspirasi untuk diatur agar memeiliki ritme yang harmonis dan polyphonis yaitu adanya keragaman suara  yang dihasilkan oleh ketukan atau pukulan alu terhadap lesung akibat setiap penumbuk memiliki ketukan yang berbeda.

 

Untuk membuat suasana menjadi ceria maka pola tutunggulan yang sudah teratur diisi dengan nyanyian yang dikawihkan yang disebut dengan Gondang. Kawih ini dinyanyikan dengan cara rampak. Lulugu kawih dipimpin seorang  wanita yang menjadi tetua rombongan kawih. 

 

Lulugu dalam gondang disebut gugundi, wanita yang mengurus padi sebelum ditumbuk. Sedangkan Punduh adalah sesepuh yang mengurus ritual sebelum ngagondang. Kegiatan ngagondang biasanya dilakukan secara berkelompok.

 

Satu lesung panjang bisa dimainkan empat sampai 10 wanita. Jumlah tersebut biasanya tergantung panjangnya lesung. Pada Seni Gondang Kampung Kuta Tambaksari, jumlah pemain berkisar antara 6 – 10 orang.  Jumlah pemain Gondang harus genap agar tidak ada kepincangan dalam ketukan.

 

Sebagai seni yang berhubungan dengan budaya agraris, gondang buhun Kampung Kuta sudah ada sejak masa sebelum Islam, seperti juga halnya dengan seni Rengkong.  Dalam ‘Wawacan Sulanjana’ disebutkan, yang mengurus Sripohaci sebagai simbol padi yang berjumlah tujuh ranggeuy (untai) adalah Aki Sulanjana.

 

Hal ini di tegaskan oleh sesepuh adat kuta, Aki Sanwarno. Dikatakan bahwa Sulanjana adalah tokoh yang ngarorok Sripohaci. Ngarorok atau merawat merupakan siloka (symbol) dari proses panen padi. 

 

Dalam mupusti padi (nganyarayan) disebutkan bahwa untuk mengawali panen harus melewati proses ritual. Misalnya,  padi yang pertama akan ditumbuk didalam lisung di perlakukan secara khusus, istilahnya ditimang dengan melantunkan kawih. Proses ini  pada perkembangannya disebut gondang. Padi yang biasanya ditimang, disebut pare pageuh.

 

Dalam catatan Warsim Setiawan, ketua adat Kampung Kuta dan keterangan dari Idar Tarsih, ketua Seni Gondang Buhun Kampung Kuta, generasi sebelumnya yang menggiatkan kesenian gondang diantaranya bernama  Rustiwi, Wasiti, Ruswi, Warsem dan Tayu yang berkiprah antara tahun 1910 sampai 1935. 

 

Selanjutnya seni Gondang dilanjutkan oleh Idar Tarsih, cucu Ruswi, yang mulai mempelajari Gondang saat berusia 25 tahun.  Menurut Idar, proses belajar yang dijalaninya seperti tradisi sebelumnya. Lagu yang dikuasai harus apal cangkem alias tidak boleh ditulis. Angking adalah lagu pertama yang dihapalkanya.

 

Kini, bersama rekan seangkatannya yaitu Saryi, Engkan, Kartini dan Darsewi yang juga turunan dari penggiat sebelumnya, menjadi generasi terakhir yang aktif melestarikan seni Gondang di Kampung Kuta.  Idar dan kelompoknya yang telah menguasai 20 kawih melakukan pentas perdana pada 1982, saat Kampung Adat Kuta mendapat penghargaan Kalpataru. 

 

Seni Gondang Kuta didasari dua unsur karawitan. Yaitu Seni Tutunggulam yang merupakan pola ritmis ketukan halu yang berbeda. Dalam Tutunggulan ini tidak diiringi lagu. Unsur kedua adalah Seni Gondang yaitu kawih yang didendangkan secara rampak.

 

Dalam Tutunggulan Kampung Kuta ada tiga pakem pola tabuh yang baku dan  harus berurutan dalam menempatkannya.  Pola pertama atau Kentrung pembukaan disebutna Banjet, kentrung tengah disebut Ti Hulu, dan pola terakhir  adalah  Rangrang Muncang.  Kawih Gondang umumna berupa paparikan.

 

Ada 20 lagu nu biasa di kawihkeun oleh Ma Idar Tarsih yaitu : Angkring, Mupu Kembang, Lais, Kurung Manuk, Angkris, Cangkurileung, Nyira, Layung Nangtung, Nimu Kored, Tikukur, Budak Benggol, Reundeu Peueut, Nyai Saronggét, Meuleum Susuh, Budak Hideung, Hayam Jago, Anak Monyét, Nyai Dangdeung, Ica-Ica jeung Ngajul Jeruk.  Sedangkan alat musik lainnya yang mengiringi Gondang diantarnya kendang, go’ong dan kecrék.

 

Dalam prosesi ritual, Gondang buhun Kuta juga menampilkan tokoh yang disebut  Gugundi dan  Punduh, yaitu tokoh yang mengurus padi saat  ritual dalam Ngagondang.

 

Toto Amsar Suanda, dosen seni Karawitan dan  kurator  Balai Pelestari Taman Budaya Jawa Barat, menyatakan bahwa syair dalam Gondang Buhun Kampung Kuta memiliki ciri yang berbeda. Ciri itu adanya bahasa Sunda buhun yang terselip dalam bahasa Sunda zaman sekarang dan terdengar tidak biasa.  

 

“Misalnya dalam lagu Budak Hideung, terdapat kalimat  Kumuliat déngdeng tah pindang kidangkalimat  pindang kidang walau menjadi  cangkang paparikan, tapi tidak lazim. Apa yang dimaksud dengan pindang kidang itu? Tentu ada maksud tersembunyi. Ini yang menarik untuk diteliti, karena jangan-jangan isinya menyangkut kesejarahan kampung Kuta ini. Sebab, sebagai seni tradisi, isi  paparikan Gondang Buhun ini tidak akan jauh menceritakan keadaan lembur pada masanya,” ujar  Toto.

 

Gondang Buhun Kampung Kuta memiliki tatacara dalam pertunjukannya yaitu Sangkreb, Mitembeyan dan tutunggulan.

Sangkreb, menggambarkan padi yang akan ditumbuk diperlakukan secara khusus dengan proses ritual, dengan membacakan do’a kepada yang maha kuasa dan ucapan terimakasih kepada para leluhur atas panen yang melimpah. Dipimpin oleh punduh yang bertugas mengurus adat panen.

 

Sesajen yang disediakan seperti, dawegan (kelapa muda), colok endog, sarandu, dll menjadi medium ritual. Sedangkan  untuk menggambarkan kain Sripohaci disebut Gagawar, dibuat dari berbagai daun seperti : daun aren, daun owar, daun pacing, kitetel, ki kandel, ki seueur, caruluk jambe, seureuh, dan darangdan. Biasanya juga diselipkan penolak bala yang disebut babarit, babarit ini terdiri dari : darangdan, palias, bamboo kuning, handeuleum, jawer kotok, sangga buana, cariang beureum, danas beureum, daun kelapa hijau ,  kaso bodas dan semuanya diikat dengan tambang ijuk. Babarit ini sudah umum  dipasang diatas pintu rumah Kuta.

 

Mitembeyan, yaitu proses mengawali tumbuk padi. Padi yang pertama akan ditumbuk disebut padi cikal. Dilakukan  oleh gugundi (wanita yang sudah tidak menstruasi), ikatan padi yang disebut geugeus pare, dibawa gugundi ke saung lisung dan ditumbuk sebanyak tujuh kali .

 

Tujuh tumbuk ini berkaitan dengan jumlah hari dan konteks asal muasal Sripohaci yang berjumlah tujuh ranggeuy (untai). Setelah ditumbuk, padi cikal itu kemudian dimasukan dibawa kembali oleh gugundi untuk disimpan.

 

Tutunggulan, sebuah proses hiburan yang diibaratkan menghajatkan sripohaci yang telah selesai mitembeyan. Pada proses tutunggulan terdapat tiga pola tabeuh yang sudah baku yaitu : Banjet, Ti Hulu, dan Rangrang Muncang.

 

Ketiganya merupakan tutunggulan awal, tengah dan akhir. Pada Tutunggulan ini, tidak diiringi dengan kawih. Sedangkan disaat ngagondang/ngawih, ketukan tutunggulan menjadi satu ketuk berfungsi untuk mengatur irama kawih.  Adegan terakhir tutunggulan yaitu mengambil padi yang telah ditumbuk, kemudian ditapi dan disimpan.

 

Jika tutunggulan dilaksanakan dalam acara hajatan, maka biasanya candoli akan meminta beberapa helai pakain si empunya hajat untuk diletakan diatas padi yang telah ditumbuk, diiringi dengan tutunggulan Rangrang Muncang. [  ]

*Reporter Sportourism dan ketua Komunitas Tapak Karuhun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

related posts