SPORTOURISM - Gedung yang saat ini ditempati oleh PT Pantja Niaga Rajawali, dibangun pada tahun 1910. Dulunya, gedung ini digunakan sebagai Kantor Dunlop & Kolff (Makelaarskantoor Dunlop & Kolff te Soerabaja). Pada waktu itu, istilah makelar sangat dikenal dalam bursa saham atau perdagangan benda tak bergerak seperti tanah dan rumah.

Kemakelaran (makelarij) tumbuh subur di Hindia Belanda dalam kurun 1870-an, sejalan dengan politik ekonomi liberal yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Ada puluhan usaha kepialangan besar waktu itu, termasuk salah satunya adalah Firma Dunlop & Kolff.

Menurut situsbudaya.id, Dunlop & Kolff adalah perusahaan makelar yang didirikan pada 1879 yang berkantor pusat di Batavia, dan memiliki kantor cabang di Semarang, Bandung, dan Surabaya. Kegiatan utamanya terkenal sebagai firma jual-beli gula, teh, karet, beras, dan kapuk.

Kemudian gedung ini berubah menjadi gedung Pantja Niaga. Hal ini terlihat dari tulisan besar berwarna biru muda yang berada di atas pintu utama gedung tersebut. PT Pantja Niaga (Persero) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 37 Tahun 1971. Perusahaan ini awalnya berasal dari salah satu kelompok perusahaan yang disebut the Big Five (lima perusahaan raksasa swasta) dari masa Hindia Belanda, dan kemudian menjadi BUMN pada tahun 1950-an setelah munculnya kebijakan nasionalisasi pada awal pemerintahan RI.

Namun, pada saat mengunjungi gedung Pantja Niaga sudah tidak tampak geliat dari kegiatan PT Pantja Niaga. Malahan, di dinding luar terpasang plat tulisan yang menginformasikan bahwa gedung Pantja Niaga ini sekarang merupakan aset milik BUMN, yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI. PPI adalah hasil peleburan dari 3 BUMN yang dulu dijuluki “Niaga”, yaitu PT Tjipta Niaga (Persero), PT Dharma Niaga (Persero) dan PT Pantja Niaga (Persero) yang dilakukan tanggal 31 Maret 2003 berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 22 Tahun 2003.