Oleh  : Pandu  Radea*

SPORTOURISM-- Kerajaan Wanagiri berada di sekitar Kecamatan Palimanan, Cirebon. Pada masa Sunda Galuh Kawali, kerajaan ini berbatasan dengan Rajagaluh. 

 

Seperti halnya Indraprahasta, Wanagiri juga berada di bawah kekuasaan Tarumanagara.  Pada pertengahan abad 5 M kerajaan di pegunungan ini pernah tak berdaya didera kemelut suksesi Tarumanagara.

 

Wilayahnya dijadikan basis pemberontakan Cakrawarman yang didukung tokoh-tokoh penting Tarumanagara dengan pasukan yang banyak ingin menggulingkan Maharaja Wisnuwarman penguasa Tarumanagara. 

 

                        Petirtaan di Situs Cimandung

 

Wanagiri akhirnya mampu meredam huru hara Cakrawarman setelah datang pasukan utama Tarumanagara yang merupakan pasukan gabungan kerajaan bawahan Tarumanagara  lainnya yang dipimpin Indraprahasta dibawah komando Prabu Wirabanyu (421-444 M).

 

Saat itu pasukan Wanagiri yang bergabung dipimpin oleh Senapati Babar Kalih.  Akhirnya pemberontakan Cakrawarman berhasil ditumpas di markasnya yaitu di Girinata.

 

Perode berikutnya setelah Tarumanagara terbagi dua, yaitu Sunda dan Galuh, Kerajaan Wanagiri menjadi bagian dari Kerajaan Indraprahasta yang pro ke Kerajaan Galuh di Ciamis. Raja yang berkuasa di Kerajaan Wanagiri saat itu bernama Adipati Kusala raja Wanagiri (719-727) menikahi Ganggakirana putri bungsu  Padmahariwangsa, raja Indraprahasta ke-13.

 

Putra sulungnya yang bernama Wiratara menjadi penguasa Indraprahasta berikutnya, sedangkan putra kedua Padmahariwangsa yang bernama Citrakirana menikah dengan Purbasora (putra Sempakwaja, penguasa Galunggung).

 

Kerajaan Wanagiri berbalik menjadi penguasa Indraprahasta tahun 719 M,  setelah Sanjaya menghancurkan Indraprahasta gara-gara Purbasora yang menjadi adik ipar Wiratara melibatkan Indraprahasta untuk menggulingkan Senna, Ayah Sanjaya.  Maka untuk meredam pembalasan dendam dari keluarga Indraprahasta dan Wanagiri Sanjaya mengangkat Adipati Kusala raja Wanagiri (719-727) untuk berkuasa di Indraprahasta.

 

Berita mengenai Wanagiri tidak terdengar lagi sejak abad 8 sampai 14 M. Baru kemudian dikisahkan lagi ketika Prabu Bunisora Suradipati, penguasa Sunda Galuh, mengangkat putranya yaitu  Ki Gedeng Kasmaya (1347 – 1437 M)  menjadi penguasa Wanagiri. 

 

                         Ibu Sutimi, juru kunci Situs Cimandung

 

Saat Prabu Niskala Wastukancana berkuasa di Sunda Galuh menggantikan  Bunisora Suradipati, Wanagiri sepertinya dipecah menjadi beberapa kerajaan untuk dipimpin putra-putra dan cucu Niskala Wastukancana. Yaitu Kerajaan Surantaka yang diberikan kepada Ki Gedeng Sindangkasih, Kerajaan Singapura dipimpin oleh Surawijaya Sakti,  Kerajaan Japura dirajai Amuk Murugul yang diangkat sebagai penguasa wilayah Japura oleh ayahnya, Prabu Susuk Tunggal, penguasa Sunda putra Prabu Niskala Wastukancana dari Ratna Sarkati.

 

Untuk memperkuat kekuasaan Sunda Galuh di wilayah pesisir Cirebon,  maka pertalian saudara semakin dikukuhkan melalui pernikahan.  Ki Gedeng Kasmaya menikah dengan Ratna Kirana dan memiliki beberapa orang putri diantaranya Rara Rudra yang dinikahi Surawijaya Sakti dan Ratna Keranjang dinikahi Ki Gedeng Tapa. Ki Gedeng Tapa dan Surawijaya Sakti adalah penguasa Singapura, putra Niskala Wastukancana dari Mayangsari (adik bungsu Ki Gedeng Kasmaya, Bratalegawa dan Banawati). 

 

Saat Ki Ageng Kasmaya memerintah di Wanagiri kerap disambangi adiknya yaitu Bratalegawa, saudagar kaya yang merupakan haji pertama di Sunda untuk mengajaknya memeluk agama Islam. Namun Ki Gedeng Kasmaya menolaknya dengan halus, demikian juga  Ratu Banawati di Bumi Galuh juga menolak untuk memeluk agama Islam. 

 

Mengenai hubungan persaudaraan keturunan Prabu Bunisora Suradipati ini disebutkan dalam ‘Carita Parahyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan’ Sargah 3/88-90 :

 

Prabu Suradhipati, lawan abiseka nama nira, Prabu Batara Guru Pangadhipara Martajana Dewabrata, juga sinebut Batara Guru I Jampang. Ing pasanggamanira lawan rajabarya Dewi Laksmiwati, manakta siira pirang siki. patang siki pantaranya ya-20  tiku, pratama Raden Giridewata, atawa Kyageng Kasmaya, ngaranira waneh,pinaka ratu mandhala Cerebon Girang. Dwitiya, Raden Bratalagawa, ngaranira. Tritiya, Ratu Banawati, ngaranira, pinaka ratu mandhhala i Bumi Galuh.  cautrta, Dewi Mayang Sari, pinaka stri dening Prabu Niskala Wastu Kencana. Hana pwa Dewi Mayangsari, mijiling, sewu rwa ngatus pitung puluh nem ikang sakakala.

 

Terjemahanya : Prabhū Bhātara Guru Pangadhipamārtha Dewabrata juga disebut Bhātara Guru di Jampang. Dalam perkawinannya dengan Permaisuri Dewi Laksmiwati, beranaklah beberapa orang.Empat orang diantaranya yaitu, Pertama, Radem Giri Dewata atau Ki Ageng Kasmaya namanya yang lain.Selaku ratu daerah Cerbon Girang. Kedua, Raden Bratalagawa namanya. Ketiga, Ratu Banawati namanya. Selaku ratu daerah di bumi Galuh. Keempat, Dewi Mayangsari. Diperistri oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Adapun Dewi Mayangsari lahir pada seribu dua ratus tujuh piluh enam tarikh Saka (1276 S/1354 M).

 

Pusat pemerintahan Wanagiri  diduga berada di kawasan Gunung Cimandung dan Gunung Cangak. Namun melihat sisi arkeologis,  Gunung Cimandung cenderung merupakan wilayah yang disakralkan. Di Situs Cimandung banyak ditemukan sumber mata air dan tatanan batu yang orienteasinya digunakan untuk kegiatan religi.

 

Dari sebaran tempat-tempat yang disakralkan di Ciamandung lebih cocok sebagai bekas pertapaan. Dugaan ini dilatarbelakangi bahwa Resi Sentanu menganggap kawasan Cimandung dan Gunung Cangak ini sebagai duplikasi dari Mahameru yang disakralkan di India.

 

Ketika putra Ki Gedeng Kasmaya yang bernama Ki Gedeng Carbon Girang (1437 – 1493 M) berkuasa menggantikan Ki Gedeng Kasmaya yang mengundurkan diri dan mendirikan Padepokan Sarwadadi di Desa Sarwadadi. Nama Wanagiri diganti dengan nama Cirebon.

 

Dikarenakan tahun 1445 di wilayah pesisir telah berdiri Desa Kebon Pesisir (Lemahwungkuk) yang didirikan oleh Ki Danusela (Ki Gedeng Alang-alang) dan Walangsungsang yang dibantu  Nhay Indang Geulis (istrinya) dan Nyimas Rarasantang adik kandungnya yang kemudian berkembang menjadi Cirebon Larang.

 

Untuk membedakannya, Kerajaan Cirebon pun menjadi Cirebon Girang.  Ki Danusela, adalah adik Resi Danuwarsih ayah dari Indang Geulis. Istri Ki Danusela bernama Nyai Arumsari adalah putra Ki Gedeng Kasmaya. Setelah Ki Gedeng Danusela meninggal tahun 1447 M,  penerusnya adalah Walangsungsang (Samadullah) sebagai kuwu kedua dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

 

Cirebon Larang dan Cirebon Girangpun disatukan dengan ditandai oleh  sungai yang hulunya di Sungai Suba di Caruban Girang dan muaranya disebut sungai Krian di Caruban Larang.

 

Ibu Satimi Juru kunci situs Cimandung menyatakan bahwa Situs Ciamandung adalah bekas kekuasaan galuh dan situs Cimandung ini diyakini sebagai istana kerajaan. Namun kondisi saat ini kawasan Cimandung merupakan  hutan yang cukup lebat dan sejauh ini belum ditemukan jejak adanya pondasi bangunan semacam istana yang diduga peninggalan Wanagiri. 

 

Menurutnya, setelah Ki Gedeng Kasmaya meninggal, lokasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Ki Gede Alang-alang dan Cakrabuana sebagai tempat tirakat. 

 

Di lokasi gunung yang luasnya mencapai 20 hektare itu terdapat sembilan mata air dan empat buah batu besar yang masing-masing masih diselimuti mitos dan disakralkan oleh para peziarah. Situs Cimandung lebih dikenal sebagai Petilasan Mbah Kuwu Sangkan dan Nyimas Ratu Cempa Mulia. Ciri khas situs ini adalah adanya Pohon Ragasakti yang unik dan terkesan angker karena usianya yang tua. Pohon ini tumbuh di gerbang situs dan merupakan tumbuhan jenis Liana yang tumbuh merambat, memanjang dan menggantung.

 

                                              Batu yang disakralkan di Situs Cimandung

Sembilan mata air tersebut diantaranya Mata air Cirebon (Banyu Cirebon Kauripan), Pancuran Mas atau air kejayaan, balong panganten, Sumur Pakungwati, Sumur Jago, Panggupakan (buat mandi kerbau bule) Sumur Kedung Kencana Wungu, Sumur Sekar Pandan dan Sumur Jaka Tawa. Masing-masing sumur memiliki khasiat masing-masing dan posisinya berpencar. Khusus untuk sumur Pancuran Mas atau air Kejayaan banyak dimanfaatkan untuk mendapat berkah dan menghilangkan segala penyakit termasuk penyakit guna-guna.

 

Posisi sumur ini berada paling bawah dan tidak sembarangan orang bisa masuk harus seijin sang kuncen. Pasalnya lokasi sumur berada di dalam ruangan menyatu dengan batu lumbung grobog. Tidak jauh dari Sumur Pancuran Mas, terdapat Sumur Pengantin yaang airnya dipercaya memiliki khasiat untuk pengasihan terutama yang ingin memiliki jodoh.

 

Tentang batu-batu yang disakralkan,  diantaranya Batu Lumbung Grobog (Batu Gudang), Batu Pedadaran, Batu Perahu dan Batu Gajah. Batu Lumbung Grobog atau Batu Gudang diyakini warga adalah batu tempat penyimpanan pusaka keraton atau gudang keraton. Bahkan Goong Sekati, Gamelan renteng dan Gamelan Wayang juga tersimpan di lokasi tersebut. Buktinya banyak penjiarah yang sering mendengar suara gamelan berbunyi.

 

Konon, saat pihak Kesultanan Cirebon hendak menabuh gamelan saat perayaan yang dilakukan tanggal 8 Mulud selalu mendengar suara goong di lokasi tersebut terlebih dahulu. “Tiap tahun goong ini berbunyi pas sebelum di Keraton menabuh Goong. Suaranya sangat khas sampai menyayat hati,” kata Ibu Satimi berbisik.

 

Tidak jauh dari batu besar yang diyakini sebagai Batu Gudang terdapat sebuah batu yang dibungkus kain putih. Posisi batu itu menghadap kiblat dan pas buat senderan. Konon batu itu sering dimanfaatkan oleh Mbah Kuwu untuk berwirid atau bermunajat kepada Tuhan.“Saya sering melihat laki-laki yang wirid di batu ini, Ia mengaku Mbah Kuwu,” katanya lagi.

 

Sekitar 50 meter di atas batu Lumbung Grobog terdapat batu pedadaran yang berada di tengah pelataran yang datar. Batu itu pada Jaman Ki Ageng Kasmaya sering dimanfaatkan untuk tirakat.

 

Sedikit arah timur terdapat sebuah batu mirip kepala gajah. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Batu Gajah. Lokasi tersebut pada jaman pra Islam sering dimanfaatkan sang brahmana untuk bertapa dan mencari wangsit. Berjalan kira-kira 20 meter menelusuri sungai Cibening akan menemukan batu besar mirip perahu bagian depan.

 

Warga memberi nama batu itu sebagai Batu Perahu. Batu itu dimitoskan sering merupakan tempat hinggap burung Garuda dan Naga. Sumber lisan menyatakan  batu perahu ini adalah bagian depan perahu yang digunakan Resi Sentanu saat mendarat di pesisir Cirebon Girang.

 

Satu lagi tempat bersejarah dikawasan Cimandung yang belum dikisahkan di tulisan ini yaitu  Pesanggrahan Balong Biru Gunung Cangak, sebuah petirtaan yang indah dan menarik untuk ulas karena menjadi tempat istimewa bagi Pangeran Cakrabuana dan Nyai Endang Geulis. [  ]

*reporter Sportourism dan Ketua Komunitas Tapak Karuhun