SPORTOURISM-- Pada tahun 1733 Sultan Muhamad Zainul Arifin naik takhta menjadi penguasa Banten menggantikan ayahnya, Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733 ).

 

Sultan Muhamad Zainul Arifin atau Sultan Sepuh menikahi  Ratu Syarifah Fatimah seorang janda cantik  keturunan arab yang ambisius. Sebagai seorang permaisuri, Ratu Syarifah Fatimah tergolong mendominasi kekuasaan suaminya dengan membuat keputusan-keputusan yang membuat situasi menjadi tidak stabil. Sang ratu ternyata merupakan agen VOC yang diberi tugas untuk melakukan perluasan kekuasaan di kalangan keluarga Keraton Banten. 

 

               Kedatangan armada VOC ke Pelabuhan Banten

 

Sementara untuk memperoleh kepercayaan rakyat Banten , Ratu Syarifah Fatimah mengkampanyeukan bahwa dirinya adalah keturunan Nabi Muhammad SAW.  Namun Lambat laun upayanya itu akhirnya diketahui publik.

 

Bermula dari penolakan Pangeran Gusti, calon putra mahkota Banten, untuk menikah dengan saudara Ratu Syarifah Fatimah. Akibat penolakan itu Sang Ratu menentang pengangkatan Pangeran Gusti sebagai putra mahkota Banten. Bahkan Ratu Syarifah Fatimah mengajukan keponakannya, yaitu Pangeran Syarif Abdullah sebagai calon putra mahkota.

 

BACA JUGA

- Jejak Kyai Tapa: Sejak Lama Negeri Ini Penuh Pengkhianat dan Dusta

 

Karena pengaruhnya yang kuat, Sultan Sepuh tidak bisa memutuskan hal tersebut dan menyerahkan kepada VOC. Maka Kapten Brouwer yang bertindak atas nama Gubernur Jendral Gustaf W.van Imhoff (1743-1750) memutuskan bahwa Pangeran Syarif ditetapkan sebagai calon putra mahkota Banten. Untuk mengamankan situasi dan keputusan tersebut  Ratu Syarifah Fatimah menyuruh  Pangeran Gusti pergi ke Batavia. Di tengah perjalanan, Pangeran Gusti ditangkap tentara VOC dan diasingkan ke Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1747.

 

Ratu Syarifah Fatimah semakin berambisi menguasai Banten karena VOC menjanjikan kedudukan tinggi di Kerajaan Banten. Tindakannya semakin semena-mena dengan menyingkirkan kerabat keraton yang menentang dirinya. Ketika Sultan Sepuh mulai menyadari apa yang terjadi, Ratu Syarifah Fatimah malah melaporkan ke VOC bahwa Sultan Sepuh telah menjadi gila dan menjadi provokator bagi rakyat Banten untuk menentang VOC. 

 

               Keraton Kesultanan Banten

 

Menanggapi hal tersebut, pada 1748 VOC mengirim satu armada ke Banten untuk membawa Sultan Sepuh dengan alasan untuk dirawat di Batavia. Kenyataannya Sultan Sepuh ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

 

Akhirnya Pangeran Syarif melenggang menduduki takhta Sultan Banten dan Ratu Syarifah Fatimah diangkat menjadi mangkubuminya. Sebagai balas jasa kepada VOC, Ratu Syarifah Fatimah memberi imbalan berupa kebebasan VOC untuk menguasai pantai utara Tatar Sunda dan daerah Sukabumi Selatan. Selain itu VOC juga mendapat ganti rugi dalam bentuk setengah dari hasil tambang emas di Tulang Bawang, produksi lada di Lampung dan timah di dekat Tanggerang.

 

Akibat kesewenangannnya itu, timbul konflik di tubuh keluarga Kesultanan Banten. Tindakan Ratu Syarifah Fatimah tidak disetujui anggota keluarga kerajaan yang menilai bahwa mereka berdua bukanlah keturunan Sultan Hasanudin dan tindakannya kepada Sultan Sepuh sudah sangat keterlaluan. Namun kerabat keraton tidak berani terang-terangan menentang, karena Ratu Syarifah Fatimah dilindungi VOC yang semakin kuat kedudukannya.

 

Akhirnya muncul perlawanan sporadis dari Ratu Bagus Buang yang membuat Pangeran Syarif dan Ratu Syarifah Fatimah merasa kuatir. Namun serangan Ratu Bagus Buang tidak mampu mencapai target kemenangan. Maka Ratu Bagus Buang menemui pamannya, Kyai Tapa di Gunung Munara untuk bergabung menentang penguasa Banten dan VOC. Setelah dicapai kesepakatan maka  disusunlah rencana  untuk mempersiapkan perlawanan. Ratu Bagus Buang melakukan konsolidasi terhadap bangsawan Banten, sedangkan Kyai Tapa memobilisasi massa melalui pesantren-pesantren yang didirikan olehnya dan oleh murid-muridnya sebagai kekuatan inti pasukan.

 

Oktober 1750 Ratu bagus Buang dan Kyai Tapa menggerakan pasukan menyerang Keraton Surosowan.  Dalam pertempuran hebat, pasukan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang dapat mengalahkan pasukan Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarif di beberapa tempat.

 

Ketika kemenangan hampir dapat diraih, muncul militer VOC dengan jumlah yang besar berhasil menyelamatkan kekalahan Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarif. Pasukan Kyai tapa dan Ratu Bagus buang akhirnya mundur dari ibu kota untuk mempersiapkan serangan berikutnya.

 

               Masjid Banten, insert: makam Ratu Syarifah Fatimah di pembuangan

 

Nopember 1750 pasukan Ratu bagus Buang dan Kyai Tapa melakukan serangan mendadak ke dua titik, yaitu ke Keraton Surosowan dan Benteng Speelwijk. Serangan tersebut setelah sebelumnya dilakukan persiapan matang oleh Kyai Tapa yang memang berniat untuk menghancurkan Benteng Speelwijk yang merupakan lambang kekuasaan VOC di Banten. Informasi tentang seluk beluk kekuatan VOC di dalam benteng tersebut didapatkan oleh Kyai Tapa dari Tisnanagara yang menjadi penjaga gerbang Benteng Speelwijk.  Akhirnya serangan tiba-tiba di dua titik tersebut berhasil meraih kemenangan dengan merebut Keraton Surosowan dan menghancurkan Benteng Speelwijk.

 

Kyai Tapa kemudian menugaskan Ratu Bagus Buang untuk mempertahankan keraton dan ibukota, sedangkan Kyai Tapa bersama pasukannya melanjutkan serangan ke Batavia. Dalam perjalanan, Pasukan Kyai Tapa berhasil menguasai benteng-benteng De Kwaal di Tanggerang, Drechterland di Leuwiliang Bogor, Westergo di Ciampea Bogor dan tempat kedudukan serdadu VOC di sepanjang Sungai Ciliwung.

 

Perlawanan hebat yang diperlihatkan oleh Pasukan Ratu bagus Buang dan Kyai Tapa betul-betul membuat VOC sangat khawatir. Akhirnya Gubernur Jendral Jacob Mossel yang menggantikan van Imhoff tahun 1750 mengajukan gencatan senjata kepada Ratu bagus Buang dan Kyai Tapa. 

 

VOC menawarkan perjanjian yang isinya pertama, Ratu Syarifah, Sultan Syarif dan kroni-kroninya akan diusir dari Banten, karena berdasarkan analisis Mossel, merekalah biang keributan munculnya perlawanan dari Kyai Tapa dan ratu bagus Buang.  Kedua, Pangeran Gusti akan dipulangkan dari Srilanka. Ketiga, Untuk sementara Banten akan dipimpin Pangeran Adi Santika sebagai pejabat Sultan Banten. Keempat, blokade Banten dari laut dihentikan dengan segera. Perjanjian tersebut direalisasikan dengan penangkapan Ratu Syarifah Fatimah, Pangeran Syarif dan kroninya Kapten Falck dan membuang mereka ke Pulau Edam di Teluk Batavia. [Tafak]

 

 

Sumber Buku Sejarah Tatar Sunda jilid 1, Nina Lubis dkk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepahlawanan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang dari Banten (2)

 

Masa-masa gencatan senjata ternyata dimanfaatkan oleh VOC untuk menambah dan memulihkan kekuatan militernya dengan mendatangkan pasukan tambahan dari Maluku dan negerinya sendiri. Hal tersebut dipandang oleh Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang sebagai indikasi bahwa VOC membatalkan perjanjian damai. Maka pada Juni 1751, Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa memimpin 7000 pasukan melakukan serangan ke titik-titik pertahanan VOC dan merebutnya satu demi satu. Pasukan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa terus bergerak ke Batavia .

Letnan Kolonel Ossenberch yang bertugas memukul mundur pasukan Kyai Tapa dari Batavia gagal mengatasi gerak dinamis pasukan Kyai Bagus Tapa.  Bulan Juli 1751 Pasukan Kyai Tapa berhasil menghancurkan pasukan-pasukan VOC di Batavia termasuk di Muara Angke.  Dari titik tersebut Kyai Tapa melakukan serangan besar-besaran dan berhasil menghancurkan pertahanan VOC di Batavia. VOC hanya mampu mempertahankan diri di dalam bentengnya.

Serangan Kyai tapa kemudian dialihkan sejenak ke Pandeglang untuk membantu pasukan Ratu Bagus Buang yang terdesak oleh serangan  VOC yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Convert. Selesai membantu Ratu Bagus Buang, Kyai tapa kembali ke Batavia untuk melanjutkan serangan berikutnya. Januari 1752, Pasukan Kyai tapa bergerak kearah Pontang dan Caringin untuk merebut dua daerah tersebut. Taktik gerilya yang digunakan Kyai Tapa betul-betul membuat Letnan Kolonel Ossenberch frustasi. Dalam keputusasaanya ia mengeluarkan pengumuman bahwa Pangeran Gusti akan segera diangkat menjadi Sultan Banten dan kepada anggota pasukan Kyai Tapa yang menyerahkan diri akan diberi ampunan oleh VOC.

Namun pengumuman tersebut tidak digubris oleh Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Mereka bersama pasukannya melakukan serangan besar-besaran ke ibukota Banten. Namun karena kekuatan persenjataan yang tidak seimbang, mengakibatkan pasukan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang berhasil dipukul mundur oleh VOC hingga ke pedalaman Banten, mendekati Jasinga. Kekalahan tersebut membuat Kyai Tapa menarik kesimpulan bahwa untuk mengenyahkan VOC dari Banten adalah melakukan penyerangan secara serempak di berbagai daerah. Maka Kyai Tapa kemudian memutuskan pergi ke timur Banten mencari dukungan dari daerah-darah untuk bersama-sama megangkat senjata mengusir VOC.

Dalam Perjalanannya, pasukan Kyai Tapa berhasil menghancurkan pemukiman-pemukiman pertama Belanda di Cipanas dan Cianjur. Di Bandung, Kyai Tapa juga berhasil memukul mundur pasukan VOC yang mencegatnya. Sehingga perjalannya menuju timur tidak menemui hambatan. Namun sayang, dukungan daerah-daerah di timur tidak sesuai dengan yang diharapkan sehingga rencananya untuk mengangkat senjata di seluruh Pulau Jawa tidak terwujud.  Cirebon sejak abad 17 lebih memilih bersahabat dengan VOC ketimbang dengan Banten. Namun kedekatan Cirebon dan campur tangan VOC juga mengakibatkan pemberontakan Bagus Rangin tahun 1802.

Demikian pula penguasa-penguasa Priangan yang bersikap lunak kepada VOC, bahkan menerima VOC sebagai penguasa Priangan. Sikap tersebut tahun 1677 pernah diperlihatkan oleh Pangeran Sumedang  yang menolak ajakan Sultan Banten untuk tidak berhubungan dengan VOC. Penguasa Sumedang malah meminta saran kepada VOC berkaitan dengan ajakan tersebut. Tentu saja VOC dengan kelicikannya menyarankan untuk menolak ajakan Sultan Banten tersebut. Malah  para petinggi VOC meminta kesediaan para penguasa Priangan untuk sepakat bahwa merosotnya keamanan di wilayah Priangan akibat tindakan brutal Banten.

Selain itu dalam Daghregister bulan Desember tahun 1676 dicerikatakn bahwa Bupati Wiradadaha dari Sukapura menyampaikan salam sejahtera bagi VOC dan memberikan 27 tanduk kerbau sebagai bukti persahabatan.  Persahabatan dan loyalitas para penguasa priangan sebelum tahun 1799 dengan VOC  berlatarkan beberapa hal diantaranya dalam naskah Serat Sakender yang ditulis awal abad 19 bahwa kekuasaan VOC atas wilayah tatar Sunda harus diterima, karena Jan Pietrszoon Coen dilahirkan dari seorang putri keturunan Pajajaran yang menikah dengan Sukmul (Ayah Mur Jangkung) keponakan Raja Spanyol.

Babad Soekapoera yang ditulis oleh wedana di manonjaya dengan title kanduruan (gelar dari pemerintah Belanda) merupakan upaya legitimasi yang terungkap secara implisit bahwa Pertama, mereka tidak perlu berslah kalau taat kepada orang asing karena yang menyerahkan mereka kepada VOC adalah Sultan Mataram, penguasa priangan sebelumnya. Kedua, berada dibawah VOC keadaan lebih baik karena tidak perlu lagi tugurtundan (menjaga keamanan dan mengangkut barang atau orang) di Mataram. Ketiga, tidak ada tuntutan atau permintaan kecuali menghiasi dan memperindah daerah sendiri. Keempat, pekerjaan dibagi-bagi sesuai dengan kekuatan masing-masing. Kelima, tidak perlu mengeluarkan upeti dua kali. Upeti hanya untuk penguasa setempat saja karena VOC tidak meminta upeti. Keenam, keamanan terpelihara karena ada polisi. Perintah VOC hanya menananm kopi dan hasilnyapun dibeli oleh VOC. 

Walaupun pasukan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa todak berhasil mengusir VOC dari Banten, bukan berarti perlawanan tersebut sia-sia. Setidaknya keberhasilan mengembalikan hak keturunan Sultan Maulana Hasanudin untuk memerintah Banten merupakan buah dari perjuangan mereka berdua. Hal tersebu menjadi inspirasi bagi masyarakat banten untuk melakukan perlawanan bersenjata pada abad-abad berikutnya. Termasuk juga di Cirebon dan Priangan pada masa berikutnya. (tafak)

 

Sumber Buku Sejarah Tatar Sunda jilid 1, Nina Lubis dkk.